Kamis, 05 Februari 2015

Hukum Penggunaan Mesin Penyembelihan Hewan

Salah satu ajaran Islam yang menimbulkan kekaguman bagi masyarakat kesehatan adalah tentang keharusan disembelihnya binatang darat sebelum dikonsumsi, karena dengan cara itu orang yang mengkonsumsinya dapat terhindar dari bermacam penyakit sehingga lebih terjamin kesehatannya. Para fuqaha’ sepakat, bahwa binatang yang halal dikonsumsi pun, tidak akan halal jika tidak disembelih sesuai ajaran Islam. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala...” (al-Maa-idah 3). 

Beberapa ketentuan terkait penyembelihan hewan adalah: yang menyembelih harus orang dewasa dan sehat akalnya, harus Islam atau non muslim Ahlul Kitab, harus menyebut nama Allah (tapi menurut madzhab Syafi’i hukumnya sunnah, tidak wajib), dalam keadaan normal yang dipotong adalah kerongkongan dan tenggoroan hewan, alat penyembelihan harus benda tajam selain tulang, kuku atau gigi. Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): ”Binatang yang telah dialirkan darahnya, dan telah disebut nama Allah atasnya, maka makanlah olehmu, selama bukan disembelih dengan gigi atau kuku. Akan kuberitahu kalian tentang itu, gigi adalah jenis tulang, sedang kuku adalah pisau orang Habasyi” (HR al-Jamaah).

Mengenai hewan yang tidak dapat disembelih pada lehernya, karena liar atau jatuh ke dalam lubang, maka boleh dilukai di bagian mana saja asal darahnya dapat mengalir dan mati karena luka tersebut. Diriwayatkan dari Rafi RA: ”Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, kami menemukan seekor unta milik suatu kaum yang lari, sedang mereka tidak memiliki kuda untuk mengejarnya. Maka salah seorang dari mereka memanahnya, sehingga onta tersebut mati. Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya binatang ini bertabiat seperti binatang liar. Pada binatang seperti ini, perbuatlah olehmu demikian” (HR al-Jamah).

Bagaimana halnya jika penyembelihan hewan itu dilakukan dengan menggunakan mesin yang sekali pencet tombol, beberapa binatang sudah tersembelih? Jawabnya tentu dikembalikan kepada ketentuan penyembelihan di atas, yakni: operator mesinnya harus orang dewasa dan sehat akalnya, muslim atau non muslim Ahlul Kitab, menyebut nama Allah, yang dipotong adalah kerongkongan dan tenggoroan hewan, alat penyembelihan harus benda tajam selain tulang, kuku atau gigi.

Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”Mereka menanyakan kepadamu: ”Apakah yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah: dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah amat cepat hisab-Nya” (al-Maa-dah 4). Kalau binatang pemburu saja ketika dilepas dengan menyebut nama Allah, hewan hasil tangkapannya halal dimakan walaupun dalam keadaan sudah mati, maka apalagi hewan-hewan yang disembelih oleh orang dengan menggunakan mesin, yang memenuhi syarat penyembelihan, bahkan disertai teknik penyembelihan yang dapat mengurangi penderitaan hewan yang disembelih, seperti tanpa dijerat dan ditarik-tarik ekor atau kakinya, tanpa ditekuk paksa lehernya, bahkan dengan teknik pemingsanan sebelum disembelih. 

Ada juga suatu hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah RA, bahwa ada yang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ada suatu kaum membawa daging kepada kami yang tidak kami ketahui, apakah mereka menyebut nama Allah (waktu menyembelih) atau tidak? Beliau menjawab: «Sebutlah nama Allah padanya dan makanlah” (HR al-Bukhariy). Dari hadis ini dapat difahami, bahwa Rasulullah SAW tidak mempersulit umatnya, dalam hal makanan dan dalam hal apapun, asal sesuai dengan ketentuan pokok ajaran Islam, yakni kepatuhan dan kemaslahatan.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA