Kamis, 05 Februari 2015

Hukum Memberikan Daging Kurban pada Orang Kaya dan Non-Muslim

Mengenai peruntukan daging kurban (yang dimaksud di sisni bukan hanya daging, tapi semua bagian dari binatang kurban), terdapat perbedaan di antara para fuqaha’ (ulama ahli fiqih). Fuqaha’ Hanafiyyah memandang sunnah daging kurban itu dibagi tiga: sepertiga dimakan pemiliknya, sepertiga dihadiahkan untuk teman-teman akrab meskipun mereka orang kaya, dan sepertiganya lagi disedekahkan kepada orang-orang miskin.


Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: “…maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta” (al-Hajj 36). Juga apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW membagi kurban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk tetangga yang miskin, dan sepertiganya lagi untuk peminta-minta (HR. Abu Musa al-Isfahaniy).

Fuqaha’ Malikiyyah berpendapat, bahwa daging kurban itu tidak perlu dibagi-bagi. Hadis-hadis yang menerangkan adanya pembagian itu semuanya bersifat mutlak, yang memerlukan perincian. Menurut mereka, Rasulullah SAW sendiri tidak melarang memakan dan menyimpan daging kurban tanpa memberikannya kepada orang lain, seperti dalam sabda beliau (yang maknanya): ”Saya pernah melarang kamu menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, karena kepentingan sekelompok orang Badui. Kemudian Allah SWT memberikan kelapangan, maka simpanlah olehmu apa yang ada padamu” (HR.Muslim).

Pandangan fuqaha’ Syafi’iyyah bertolak belakang dengan fuqaha’ Malikiyyah. Menurut pendapat yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i, hukumnya wajib untuk disedekahkan kepada orang miskin sebagian dari daging kurban sekalipun jumlahnya sedikit, sementara selebihnya diberikan kepada handai taulan, baik kaya maupun miskin, dan pemiliknya sendiri sunnah memakannya sekedar sesuap. Alasannya juga merujuk kepada makna firman Allah SWT :“…maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta” (al-Hajj 36). Dan firman Allah SWT (yang maknanya): ”…maka makanlah sebagian dari padanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi faqir” (al-Hajj 28). Selain itu juga berdasarkan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW biasa memakan hati binatang  kurbannya (HR. al-Baihaqi).

Sementara itu fuqaha’ Hanabilah sependapat dengan fuqaha’ Hanafiyyah, tetapi mereka memandang wajib bagi pemilik kurban memakan sepertiga dari daging kurbannya, karena perintah yang terkandung dalam ayat di atas (al-Hajj 28, 36) mengandung pengertian wajib. Mereka malah membolehkan pemilik kurban memakan daging kurbannya lebih banyak dari sepertiga. Dengan demikian tidak ada satu pendapat pun dari fuqaha’ empat madzhab yang menyatakan, bahwa daging kurban itu hanya menjadi hak orang-orang miskin, atau haram diberikan kepada orang yang tidak miskin.

Jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa daging kurban tidak boleh diberikan kepada tukang daging (penjual daging/jazzaar) mengingat meraka umumnya sudah “bosan” dengan daging dan hampir pasti akan dijual sebagai barang dagangan. Hal ini disandarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ali RA, bahwa Nabi SAW memerintahnya untuk berdiri ketika menyembelih onta (kurban), membagikan kulitnya, bagian punggungnya, dan sama sekali tidak memberi bagian pada penjual daging (HR al-Bukhariy dan Muslim).

Bolehkah daging kurban diberikan pada tetangga yang non-muslim? Menurut fuqaha’ Hanabilah, daging kurban boleh diberikan kepada non-muslim yang tidak memusuhi umat Islam. Hal ini karena tidak ada ayat atau pun hadis yang melarangnya, juga tidak ada ayat atau pun hadis yang mengkhususkan pembagian daging kurban hanya untuk orang Islam saja. Pendapat ini juga dikuatkan oleh keumuman makna firman Allah SWT yang menyatakan: ”Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (al-Mumtachanah 8). Rasulullah SAW juga pernah memerintahkan kepada Asma’ binti Abu Bakr agar menjalin hubungan baik dengan ibunya, padahal ibunya adalah wanita musyrikah (HR al-Bukhariy). Fuqaha’ Malikiyyah juga membolehkan non-muslim diberi daging kurban, tetapi hukumnya makruuh (tidak disukai).

Bagaimana kalau daging kurban itu diberikan pada anak yatim yang tidak miskin? Yang harus difahami oleh semua umat Islam adalah, bahwa status daging kurban itu seperti sedekah atau hadiah, tidak ada ketentuan yang mengikat harus diberikan pada kelompok tertentu seperti zakat, yang penerimanya ada delapan kelompok sebagaimana ditetapkan oleh Allah SWT dalam surat at-Taubah 60. Dengan demikian, daging kurban itu boleh diberikan pada siapa saja asal dipandang maslahah dan sesuai kepatutan. Jadi anak yatim, walaupun tidak miskin, boleh diberi daging kurban; sedang orang kaya yang tidak yatim saja boleh diberi, apatah lagi yang yatim. Tetapi semua itu harus tetap lebih dulu mengutamakan orang-orang miskin sebagai pihak yang paling pantas dan berhak menerimanya.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA