Kamis, 05 Februari 2015

Hukum Haji dengan Kartu Kredit

Pengguna kartu kredit itu dapat dianggap sebagai orang yang diberi peluang dan kepercayaan untuk berhutang. Jadi kartu kredit itu dapat dikatakan kartu ”untuk hutang”, sehingga seseorang yang berhaji dengan menggunakan kartu kredit sama artinya dengan orang yang berhaji dengan biaya hutang.

Prinsip yang dipegangi para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) adalah, bahwa orang Islam yang berkewajiban menunaikan ibadah haji adalah mereka yang memiliki kemampuan (istithaa’ah). Inilah kata kuncinya, istithaa’ah, sebagaimana firman Allah SWT (yang maknanya):»…menunaikan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah SWT, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah…» (Ali Imran 97). Itu pun hanya wajib dikerjakan sekali seumur hidup, walaupun orang itu punya kemampuan berhaji setiap tahun. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: «Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami, seraya berseru wahai manusia! Allah SWT telah mewajibkan haji bagi kamu, maka laksanakanlah! Kemudian ada seseorang bertanya: apakah haji itu dikerjakan setiap tahun ya Rasulullah? Rasulullah SAW diam tidak menjawab, sampai-sampai orang tersebut mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: kalau saya katakan ya, pasti akan wajib tiap tahun, tetapi kalian tidak akan mampu» (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasa-iy). Perlu diketahui, bahwa Rasulullah SAW sendiri hanya melaksanakan ibadah haji satu kali saja, yaitu pada tahun 10 H, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Ahmad dan Muslim.

Persoalan yang muncul adalah tentang pemahaman man istathaa’a ilaihi sabiilan (bagi siapa yang ada kemampuan). Para fuqaha’ berbeda pendapat tentang makna istithaa’ah (kemampuan) ini, sebagai berikut: Menurut fuqaha’ Hanafiyah dan Malikiyah, kemampuan itu mencakup tiga unsur, yakni kekuatan fisik, kemampuan harta dan keamanan di perjalanan dan di Tanah Suci. Sedang menurut fuqaha’ Syafi’iyah kemampuan itu mengandung tujuh komponen, yaitu kekuatan fisik, kemampuan harta, tersedia alat transportasi, tersedianya kebutuhan pokok yang akan dikonsumsi di Tanah Suci, aman di perjalanan dan di Tanah Suci, bagi perempuan harus ada pendamping suami atau mahram, dan semua kemampuan itu harus diperhitungkan sejak bulan Syawwal sampai berakhirnya rangkaian ibadah haji. Sedangkan para fuqaha’ Hanabilah (pengikut madzhab Hanbaliy) tidak memberikan penafsiran yang luas terhadap pengertian kemampuan tersebut, karena mereka merasa cukup dengan sabda Nabi SAW ketika ditanya tentang pengertian kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji: «Kelebihan harta dan keamanan perjalanan» (HR. at-Turmudziy dari Ibnu Umar).

Persoalan lain yang muncul akhir-akhir ini adalah banyaknya orang yang tidak mempunyai cukup uang, tapi memberanikan diri untuk mendaftar haji dengan harapan agar segera mendapatkan porsi (hak untuk bisa berangkat haji) yang sekarang memang harus menunggu amat lama (10 tahun lebih). Kemudian ketika tiba waktu pelunasan, mereka yang memegang kartu kredit bisa saja menggunakan kartunya untuk berhutang ke bank penyedia kartu tersebut, guna mendapatkan dana pelunasan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa calon haji ini adalah mengandalkan biaya hutang untuk berhaji.

Dari aspek finansial, sekali lagi prinsip yang harus dipegangi adalah, bahwa orang yang terkena kewajiban menunaikan ibadah haji adalah mereka yang mempunyai kemampuan membiayai ongkos naik haji secara mandiri. Bahwa sebagai salah satu kiat untuk sampai pada kemampuan itu adalah dengan kartu kredit (dana hutangan), tidak masalah asal ada kepastian jaminan adanya kekayaan untuk megembalikannya. Bagaimana halnya jika ada orang yang tidak mempunyai uang tetapi mendapat utangan untuk menunaikan ibadah haji? Orang berprilaku demikian jelas tercela, dia belum wajib haji tapi takalluf (ngoyo) dan itu haram hukumnya, karena menyengsarakan diri sendiri dan keluarganya dalam belitan hutang. Allah SWT berfirman (yang maknanya): ”...Dan janganlah engkau perosokkan dirimu dalam bahaya (kahancuran). Barbuat baiklah, karena sungguh Allah SWT suka kepada orang-orang yang berbuat baik” (al-Baqarah 195).

Yang perlu difahami adalah, bahwa menunaikan ibadah haji dengan kartu kredit (biaya hutang) itu sama sekali tidak terkait dengan sah atau tidaknya ibadah haji, tetapi semata-mata terkait dengan status mampu atau tidak mampu, sudah wajib atau belum wajib saja. Relatifitas inilah yang menjadi daya tarik pembahasan tentang topik ini. Tapi konklusinya lebih kepada suasana hati. Hati yang taatlah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Sedangkan sah atau tidaknya ibadah haji itu hanya terkait dengan rukun dan wajib haji yang harus dipenuhi ketika menjalani prosesi ibadah haji. Jika ibadah hajinya dilaksanakan sesuai tuntunan, memenuhi rukun dan wajibnya, maka hajinya tetap sah, bahkan walau pun setelah pulang dari tanah suci masih mempunyai tanggungan hutang, ibadah hajinya tetap sah.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA