Kamis, 05 Februari 2015

Bagaimana Puasanya Orang Sakit, Pekerja Berat dan Olahragawan?

Prinsip yang harus difahami oleh semua umat Islam adalah, bahwa ajaran Islam itu secara normal pasti terpikul dan dapat dilaksanakan oleh umatnya. Allah SWT berfirman dalam akhir surat al-Baqarah (ayat 286) yang maknanya: (…Allah tidak memberi beban (kewajiban) kepada siapapun melainkan sesuai kemampuannya…). Karena itu dalam hal kuat/boleh tidaknya berpuasa, kita harus berkonsultasi ke dokter muslim/ah.


Jika menurut dokter kondisi fisik kita tidak memungkinkan untuk berpuasa dalam waktu lama (setidaknya setahun ke depan), maka boleh membayar fidyah. Tetapi jika tidak memungkinkannya berpuasa hanya dalam waktu pendek (misalnya selama tiga bulan ke depan), maka harus men-qadla pada saat sudah kuat/boleh puasa nanti dan tidak boleh diganti fidyah karena ada hari lain yang bisa berpuasa.

Yang tidak boleh adalah kalau yang menentukan tidak kuat atau beratnya berpuasa itu dirinya sendiri atau orang-perorang. Jika ini yang terjadi, maka akan banyak orang merasa tidak kuat atau berat berpuasa dikaitkan dengan jenis pekerjaannya. Akibat selanjutnya adalah akan banyak orang Islam yang tidak berpuasa. Bahkan bisa jadi ajaran puasa kemudian ditinggalkan, seperti nasib ajaran puasa dalam agama Yahudi dan Nasrani yang dulu juga sama dengan Islam, yaitu sebulan penuh, tapi sekarang menjadi tinggal sehari dalam agama Yahudi dan beberapa hari (dengan modifikasi) dalam agama Nasrani.

Orang sakit termasuk yang diberi rukhshah (dispensasi, keringanan) untuk tidak berpuasa Ramadan, tetapi harus mengqadla (mengganti) di hari yang lain (di luar Ramadan) ketika dia sudah sembuh. Sebagaimana firman Allah SWT: ”...dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” (al-Baqarah 185).

Sedang penyakit maag (menurut yang saya dengar) adalah termasuk penyakit yang sulit sembuh total atau kalaupun sembuh sangat mudah kambuh, sehingga orang-orang yang sakit maag biasanya takut berpuasa. Namun untuk memastikan boleh tidaknya berpuasa, hendaknya tidak mengambil keputusan sendiri, melainkan harus berkonsultasi dengan dokter muslim yang ahli di bidangnya. Sebab pernah ada orang  yang sakit maag malah sembuh justru karena berpuasa Ramadan.

Orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, atau sembuh tapi berdasarkan nasehat dokter muslim tidak boleh berpuasa selama hidup, maka dia harus membayar fidyah (tebusan atau “denda”) sebagai pengganti puasa. Untuk satu hari tidak berpuasa harus diganti dengan memberi makan satu orang miskin yang kadarnya setengah sha’ (1350 gram) gandum menurut ulama Hanafiyah (ulama pengikut madzhab Hanafiy), atau satu mud (675 gram) makanan pokok setempat menurut jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih), atau sebaiknya dibulatkan minimal 1 kilogram beras bagi orang Indonesia dan diberikan setiap hari pada satu orang miskin sekitar. Ini jika mampu. Tapi bila yang bersangkutan juga miskin (tidak mampu), maka tidak harus membayar apa-apa melainkan istighfar (mohon ampun) saja sebanyak-banyaknya sebagai wujud/ekspresi ketaatan pada Allah SWT karena tidak sanggup berpuasa dan juga tidak mampu membayar fidyah.

Dalam sebuah hadis sahih diriwayatkan oleh al-Jama’ah (banyak periwayat) yang maknanya: “…Ada orang (miskin) datang menghadap Nabi SAW sambil mengeluh ‘saya hancur ya Nabi’. Beliau bertanya: ‘mengapa hancur ?’ Dia menjawab: ‘saya bersetubuh dengan isteri padahal saya sedang puasa Ramadan’. Baliau bertanya: ‘apa kau punya uang guna memerdekakan seorang budak ?’ Dia menjawab: ‘tidak”. Beliau bertanya lagi: ‘apa kau mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut ?’ Dia menjawab: ‘tidak’ (sedang puasa 1 bulan saja melanggar). Beliau bertanya lagi: ‘apa kau ada harta untuk memberi makan 60 orang miskin ?’ Dia menjawab: ‘tidak’ (dia sendiri miskin).  Tiba-tiba ada seseorang datang memberi “sekarung” kurma pada Nabi SAW. Maka beliau bersabda kepadanya (“pelanggar tadi”): ‘sedekahkan kurma ini’ (pada 60 orang miskin). Dia bertanya: ‘kepada orang yang lebih miskin dari saya ?’ (padahal dia tergolong paling miskin dalam lingkungannya). Maka Nabi SAW tertawa sampai kelihatan gigi indah beliau, lalu bersabda: ‘baiklah, bawa kurma ini untuk keluargamu’…”  Tapi ini jangan dipraktikkan dengan alasan sama, sebagai orang miskin !

 Bagi para pelayan hotel, restoran, rumah makan dsb. yang sedang berpuasa dan harus melayani tamu yang berbuka, maka dalam keadaan “darurat” berbukalah seperlunya dengan minum air (atau minuman halal apapun) dan makan makanan kecil (kalau ada, kurma lebih baik) sambil melayani tamu, tentu dengan tetap memegang kode etik sebagai pelayan tamu (antara lain jangan makan/minum di depan tamu).

Akan halnya pemain sepak bola profesional, dalam perspektif fiqih dapat dikatagorikan sebagai pekerjaan halal dan dapat menjadi pencaharian bagi mereka yang punya tanggung jawab menafkahi keluarga. Dengan demikian pemain sepak bola profesional yang harus berlatih atau bertanding pada siang hari sehingga tidak dapat berpuasa di bulan Ramadan, dapat dibenarkan untuk tidak berpuasa hanya pada hari yang benar-banar harus bertanding atau berlatih pada siang hari. Dari segi ‘udzurnya dapat dikiaskan dengan orang yang bepergian jauh (untuk keperluan yang diperbolehkan agama). Bertanding/latihan sepak bola dengan bepergian jauh ada kemiripan, yaitu sama-sama mubah (diperbolehkan) dan sama-sama membutuhkan tenaga fisik sehingga berat untuk berpuasa.

Oleh karena itu pemain sepak bola profesional yang benar-benar tidak kuat berpuasa di bulan Ramadan hukumnya sama dengan musafir (orang yang bepergian jauh) yang tidak kuat berpuasa, yaitu boleh tidak berpuasa dan harus meng-qadla pada hari yang lain. Dalam hal ini tidak dibenarkan beralasan tidak ada waktu sama sekali untuk meng-qadla karena sepanjang tahun bertanding dan berlatih terus, sehingga hanya membayar fidyah. Sebagai muslim yang taat, tentu dia akan menempuh prosedur berikut: berusaha tetap berpuasa walau sedang bertanding/berlatih. Jika tidak kuat, maka akan tetap berusaha berpuasa dengan meminta cuti atau dispensasi pada pemilik club. Kalau tidak bisa, maka dia akan mencari hari-hari tertentu yang memungkinkan untuk meng-qadla puasa yang tertinggal selama Ramadan.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA