Kamis, 05 Februari 2015

Bagaimana Hukum Menonton Tayangan Erotis Di Siang Ramadan?

Puasa itu menahan diri dari semua tindakan yang membatalkan sejak dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Hal-hal yang membatalkan puasa adalah segala pemenuhan kebutuhan biologis, seperti makan, minum, merokok, onani, berhubungan kelamin pria-wanita dan segala tindakan sengaja yang menyebabkan masuknya suatu benda melalui rongga tubuh langsung ke dalam rongga perut.


Di antara hikmah puasa adalah: sebagai wujud syukur dengan mematuhi perintah Allah SWT, melatih diri mengendalikan nafsu syahwat, melatih dan menahan diri dari tindak maksiat, melatih solidaritas sesama, melatih kesabaran, kejujuran dan kedisiplinan, menghapus dosa-dosa masa lalu, serta menjadikan fisik semakin sehat.

Bagimana halnya dengan orang yang sedang berpuasa menonton tayangan televisi atau video porno nan erotis yang tentu saja merangsan timbulnya nafsu syahwat birahi? Memang dalam perspektif fiqih formal (wilayah hukum), puasa seseorang tidak batal selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkannya sebagaimana tersebut di atas.

Tetapi dalam perspektif fiqih moral (wilayah spiritual), tindakan apapun yang dilarang agama, seperti menonton tayangan porno dan erotis yang tentu saja membangkitkan nafsu syahwat birahi, adalah haram dan berdosa, dan karenanya, maka jelas mengurangi pahala puasa. Artinya, walaupun puasanya tetap sah karena tidak melakukan tindakan yang membatalkan puasa, tetapi pahala puasanya harus dikompensasi (dikurangi) dengan perbuatan dosanya, maka otomatis kuantitas pahala tersebut akan berkurang bahkan bisa habis. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk meninggalkan makanan dan minumannya” (HR al-Bukhariy dan Abu Dawud).

Apalagi jika perbuatan dosa itu berhubungan dengan sesama manusia, seperti berbohong, mengumpat, menipu, berkhianat dan sejenisnya, maka akan lebih parah karena harus minta maaf kepada yang bersangkutan. Allah SWT hanya berkenan mengampuni dosa-dosa hamba kepada-Nya. Sebesar apapun dosa itu asal mau bertaubat dan mohon ampun, maka pasti diampuni. Tetapi Allah SWT tidak berkenan mengampuni dosa yang dilakukan pada sesama, sebelum yang dirugikan mau memaafkan.

Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah memperingatkan betapa rawannya amal ibadah itu tergerus oleh dosa-dosa kita pada sesama. Dalam sebuah hadis shahih diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: «Adakah engkau semua tahu, siapakah orang yang pailit/bangkrut itu?» Para sahabat menjawab: «Orang pailit di kalangan kita ialah orang yang sudah tidak memiliki lagi sedirhampun atau sesuatu benda apapun.» Beliau SAW lalu bersabda: «Orang pailit dari kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan salat, puasa dan zakatnya, tetapi kedatangannya itu dahulunya ketika di dunia pernah mencaci maki si Anu, mendakwa serong kepada si Anu, makan harta si Anu, mengalirkan darah si Anu tanpa dasar kebenaran, pernah memukul si Anu. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lainpun diberi kebaikannya pula. Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan penganiayaannya, maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka» (HR Muslim dari Abu Hurairah RA).

Maka dari itu, orang yang sadar akan betapa besar dan beratnya dosa mengumpat, pasti sedapat mungkin akan berusaha menghindarinya, karena sungguh amat sulit untuk meminta maaf pada orang yang diumpat. Karena itu, jika kita terlanjur mengumpat seseorang, maka kita harus memohonkan ampun kepada Allah untuk orang yang kita umpat, agar di akhirat nanti dapat menjadi «penebus» bagi dosa kita mengumpat dia. Diriwayatkan dari Anas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): «Kafarat (membayar denda) kepada orang-orang yang engkau umpat adalah engkau memohonkan ampun untuknya» (HR Ibnu Abi Usamah, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqiy).  Jelasnya walau kita punya «hutang» dosa mengumpat pada seseorang, tetapi kita juga punya «simpanan» pahala memohonkan ampun bagi orang yang kita umpat, sehingga akan terjadi «barter» atau kompensasi. Dengan demikian pahala kebaikan kita tidak terlalu banyak dikurangi akibat dosa pada sesama yang belum dimaafkan.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA