Kamis, 05 Februari 2015

Bagaimana Hukum Berkumur dan Sikat Gigi Waktu Puasa?

Berkumur pada waktu puasa (tentunya di siang hari), baik dalam rangka berwudlu maupun untuk menghilangkan rasa “pahit” di mulut hukumnya boleh (mubah) bila cara berkumur dan frekuensinya wajar (tidak berlebihan dan tidak terlalu sering). Tapi jika dilakukan secara berlebihan sehingga dikhawatirkan masuk kerongkongan secara tak sengaja dan/atau dilakukan terlalu sering sampai mengesankan ada keinginan menikmati “sisa kumuran”, maka hukumnya makruh (tidak disukai, tidak baik). Namun jika sampai air kumurnya tertelan (walau tidak sengaja) dan tetap dilakukan berulang-ulang, maka hukumnya haram (dilarang, berdosa) dan puasanya batal.

Sedangkan sikat gigi secara total (seluruh permukaan gigi) di bulan Ramadan hendaknya dilakukan di malam hari (sehabis buka, sebelum tidur dan usai makan sahur) agar tidak menimbulkan keraguan hati dan persoalan hukum. Sedang sikat gigi di siang hari (waktu puasa) hukumnya memang boleh karena tidak ada dalil yang melarangnya, tetapi para ulama menganggapnya makruh (tidak disukai) karena khawatir ada percikan yang masuk rongga mulut bagian dalam yang kemudian tertelan dan dapat membatalkan puasa. Karena itu, kalau memang merasa amat perlu untuk sikat gigi di siang hari (ketika akan berwudlu), hendaknya yang disikat permukaan gigi bagian luar saja sebagai tindakan preventif terhadap kemungkinan masuknya percikan air ke rongga mulut bagian dalam.

Dalam perspektif madzhab fiqih ada perbedaan pendapat terkait dengan sikat gigi ini (dulu: siwak, yaitu membersihkan gigi menggunakan batang kayu arak). Jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih’) membolehkan (bahkan bagi ulama Hanafiyah disunnahkan) karena dalam sebuah hadis hasan yang diriwayatkan oleh at-Turmudziy dinyatakan, bahwa Nabi SAW sering bersiwak walau dalam keadaan berpuasa. Tetapi ulama Syafi’iyah menganggap, bahwa bersiwak (“sikat gigi”) dalam keadaan berpuasa hukumnya makruh terutama sejak tengah hari sampai maghrib. Hal ini didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Nabi SAW bersabda yang maknanya…”dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu bagi Allah SWT lebih harum dari bau minyak wangi (misik/kesturi)”, sehingga menghilangkan bau mulut dianggap makruh karena sama halnya dengan menghilangkan bau minyak wangi di sisi Allah SWT.

Pendapat ulama Syafi’iyah (ulama pengikut madzhab Syafi’iy, tapi belum tentu Imam Syafi’iy sendiri) ini kurang tepat, karena hadis tersebut adalah hadis yang bernilai tasliyah (hiburan) dari Nabi SAW bagi umatnya agar tidak minder dengan bau mulut yang tidak enak ketika berpuasa. Tapi ini tidak berarti agar kita membiarkan mulut berbau lalu tidak dibersihkan, atau bahkan (maaf) mungkin dipamerkan pada teman sepergaulan dengan mendekatkan mulut kita pada hidungnya agar bau “kesturi”. Jadi walau berpuasa, sebaiknya kita tetap berusaha membersihkan mulut agar kalaupun berbau tidak terlalu menyengat. Bahkan kalau bisa mengunakan “obat” kumur (dengan sangat hati-hati agar tidak masuk kerongkongan) untuk mengurangi kemungkinan mulut berbau, sebab kita tidak tahu apakah mulut kita sangat berbau atau tidak tatkala berpuasa. Yang tahu kan orang lain yang tidak mungkin berani menegur karena bau mulut yang tidak enak. Kalau sudah demikian masih berbau, ya apa boleh buat; hadis di atas sebagai hiburannya.

Soal sikat gigi atau berkumur tersebut mengurangi pahala atau tidak, sungguh sama-sama tidak tahu karena pahala adalah abstrak dan merupakan hak prerogatif Allah SWT. Dalam perspektif tasawuf, pahala lebih berkait dengan suasana hati dan prilaku  dalam beribadah (puasa) dan tidak banyak berhubungan dengan symbol-symbol ritual bercorak fiqih yang lebih menekankan pada sah-tidaknya suatu amalan. Jadi sikat gigi atau berkumur tidak mengurangi pahala asal hati kita ikhlas dan prilaku kita baik, disbanding orang yang tidak sikat gigi atau berkumur tetapi hati dan prilakunya kurang baik. Bagaimana dengan yang tidak sikat gigi atau berkumur tetapi hati dan prilakunya juga baik? Jawabnya, yang lebih ikhlas dan lebih baik prilakunya tentulah yang akan lebih besar pahalanya

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA