Selasa, 27 Januari 2015

Hukumnya Shalat Sambil Membawa Mush-Haf Al-Qur’an?

Teks perintah dalam al-Qur’an: “...Faqra-uu maa tayassara minal Qur-aan” (al-Muzzammil 20, maka bacalah apa yang mudah dari al-Qur’an), maupun hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Muslim dan lain-lain tentang keharusan membaca al-Qur’an (menurut jumhur: al-Fatichah) adalah memang berbunyi bacalah atau membaca, bukan menghafal. Namun dalam praktik shalat Nabi SAW ternyata menghafal (karena beliau dikehendaki Allah SWT tidak pandai baca-tulis agar tidak ada tuduhan bahwa al-Qur’an itu karangan beliau), begitu juga para sahabat dan generasi-generasi sesudahnya yang memang selalu ada yang hafal al-Qur’an.


Sehingga waktu itu tidak dijumpai imam shalat atau orang shalat yang dalam shalatnya membaca al-Qur’an binnadhar (dengan melihat tulisan), melainkan menghafal (bilghaib: mengucapkan bunyi tanpa melihat tulisannya) ayat-ayat al-Qur’an, di samping saat itu juga belum ada mush-haf al-Qur’an yang memungkinkan untuk dibawa/dibaca dalam shalat.

Sekarang walaupun penghafal al-Quran masih tergolong banyak, tetapi rata-rata kualitas hafalan mereka tidak sebaik para chuffadh (penghafal al-Qur’an) masa lalu, sehingga tatkala menjadi imam shalat membutuhkan orang yang menyimak binnadhar di belakangnya, dan ini justru cara terbaik agar bila salah atau lupa segera ada yang membetulkan/mengingatkannya. Mereka yang tidak hafal-pun banyak yang ingin membaca al-Qur’an dalam shalat, sehingga harus memegang dan membukanya saat shalat.

Oleh karena itu, berhubung teks perintahnya adalah membaca dan lagi tidak ada larangan orang shalat memegang/membuka mush-haf al-Qur’an saat shalat, maka  memegang, membuka mush-haf dan membaca al-Qur’an sewaktu shalat diperbolehkan. Hal yang demikian ini (shalat sambil membawa/membaca al-Qur’an) juga dapat kita saksikan di berbagai negara, bahkan di Saudi Arabia (di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawiy Madinah). Jika hal itu dilarang, maka pasti sudah dirazia oleh petugas, tapi ternyata saat ini tidak razia terhadap mereka yang shalat sambil membawa/membaca al-Qur’an.

Dalam perspektif ushul fiqih hal ini dapat dikatagorikan sebagai ijmaa’ sukuutiy (kesepakatan secara diam-diam) dan dapat dilandaskan pada kaidah: “al-‘Aadah muchakkamah” (kebiasaan baik itu dapat dijadikan pertimbangan untuk menetapkan hukum), dan “al-Ashlu fil asy-yaa’ al-ibaachah chattaa yadullad daliilu ‘alat tachriim” (pada dasarnya hukum asal segala sesuatu itu adalah boleh, selagi tidak ada dalil yang melarangnya. Karena itulah di MAS (Masjid al-Akbar Surabaya), di samping disediakan mush-haf al-Qur’an ukuran besar di depan imam (walaupun beberapa imam hafal al-Qur’an) agar dibaca sewaktu shalat, juga di belakangnya ada petugas khusus yang menyimaknya dengan membawa/membuka mush-haf al-Qur’an kecil.

Wallaahu a’lam.

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA