Selasa, 27 Januari 2015

Hukum Adzan Dua kali Dan Tongkat Khathib Dalam Shalat Jum’at?

Adzan Jum’at dua kali ini merupakan rintisan di masa khalifah Usman bin Affan RA ketika jumlah umat Islam semakin banyak dan semakin banyak pula yang terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Maka Usman RA berinisiatif mengkreasi adzan tambahan sebelum adzan yang selama itu terlaksana pada masa Nabi, Abu Bakar dan Umar, yaitu ketika khathib sudah berada di atas mimbar, dengan maksud agar umat Islam ingat bahwa hari itu adalah hari Jum’at dan segera bersiap-siap.


Saib bin Yazid berkata: “Adalah adzan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Pada masa Usman dan orang-orang (penduduk Madinah) sudah banyak, ia menambahkan adzan yang kedua, lalu dilakukanlah azan itu di zaura (suatu tempat tinggi di pasar Madinah). Maka menjadi ketetapanlah hal itu”.

Rintisan Usman RA ini disepakati oleh semua sahabat waktu itu, sehingga berstatus sebagai ijma’ (kesepakatan aklamatif) sahabat, kemudian dirujuk dan disepakati oleh fuqaha’ (ulama fiqih) madzhab 4, Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy dan Hanbaliy. Hanya dalam pelaksanaannya sekarang sudah «menyimpang» dari tujuan semula karena dilaksanakan amat berdekatan dengan adzan kedua. Sebagai peringatan, semestinya adzan pertama dilaksanakan dalam rentang waktu yang agak berjauhan dengan adzan kedua.

Mengenai masalah tongkat ini ada beberapa hadis shahih yang menceriterakan, bahwa Nabi SAW kalau berkhutbah selalu bertelekan pada sesuatu benda, semacam tongkat. Hadis-hadis tersebut kemudian memicu perbedaan pendapat dalam aplikasinya akibat perbedaan dalam memahaminya. Yang memahami secara tekstual-ritual, maka bertelekan pada suatu benda (mudahnya tongkat) merupakan keharusan dalam berkhutbah. Sementara yang memahaminya secara kontekstual-fungsional, maka bertelekan pada benda apapun bukan merupakan keharusan. Bahkan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berpendapat bahwa sejak adanya mimbar, maka bertelekan pada benda sejenis tongkat sudah tidak diperlukan lagi.

Terkait persepsi dan aplikasi tongkat ini, untuk kesekian kalinya penulis menyaksikan «ketakbiasaan» pada NU dan Muhammadiyah, seperti halnya tentang penetapan awal Ramadan dan Syawwal. NU cenderung memahaminya secara tekstual dengan «mengharuskan» adanya tongkat, sedang Muhammadiyah justru cenderung memahaminya secara kontekstual dengan «melarang» adanya tongkat bagi khathib waktu berkhuthbah. Padahal dalam banyak hal terkait ibadah, yang terjadi adalah sebaliknya, NU lebih «kontekstual» sedang Muhammadiyah lebih «tekstual».

Mengenai tongkat yang ada di MAS (Masjid al-Akbar Surabaya), itulah salah satu model pengelolaan ibadah di MAS, yaitu  akomodatif. Walaupun menyangkut masalah-masalah khilafiyah (yang diperselisihkan), namun selagi masih berada dalam wilayah kebenaran, bukan kemungkaran, maka MAS berusaha mengakomodir dan memfasilitasinya. Jadi keberadaan tongkat di mimbar MAS adalah untuk memfasilitasi khathib yang dalam berkhutbah terbiasa menggunakan tongkat. Sedang yang tidak terbiasa, ya tentunya tidak perlu menggunakan dan MAS tidak akan memaksanya untuk menggunakan tongkat tersebut.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA