Selasa, 27 Januari 2015

Bagaimana Salat Jum’atnya Satpam Yang Kena Shift?

Shalat Jum’at itu wajib hukumnya bagi semua muslim, sebagaimana firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (al Jumu’ah: 9), kecuali budak, perempuan, anak-anak, dan orang yang sakit, sebagaimana sabda Nabi SAW (yang maknanya): ”Shalat Jum’at itu suatu kewajiban atas setiap muslim dalam satu jamaah, kecuali empat golongan, yaitu: hamba, perempuan, anak-anak, atau orang sakit” (HR Abu Dawud dan al-Hakim).


Jadi bagi semua laki-laki dewasa yang tidak ada halangan yang dibenarkan syara’ (hukum Islam) maka wajib menunaikan shalat Jum’at. Perkecualian bagi laki-laki muslim dewasa hanya untuk mereka yang sakit, bepergian jauh, takut akan keselamatan (nyawa, harta dan keluarga), hujan lebat, angin kencang, atau udara yang amat dingin (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa-iy, Ibnu Majah dll). Mereka tidak diwajibkan shalat Jum’at melainkan cukup shalat dhuhur saja.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana halnya dengan mereka yang karena pekerjaan, seperti shift kerja, piket dan lain-lain, sehingga terpaksa tidak dapat melakukan shalat Jum’at, padahal Rasulullah SAW memperingatkan: ”Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali tanpa ada ’udzur, maka Allah akan mengunci hatinya” (HR Ahmad, an-Nasa-iy, Ibnu Majah dll dari Jabir bin Abdullah)

Idealnya semua perusahaan (tempat kerja) itu dikelola secara Islamiy, yakni diberi istirahat total ketika waktu shalat Jum’at, sehingga semua karyawan bisa ikut shalat Jum’at. Atau jika memungkinkan, ada karyawan non-muslim yang ditugasi melaksanakan tugas di saat karyawan yang muslim shalat Jum’at. Tetapi jika kedua hal tersebut tidak terlaksana, maka atas dasar darurat tuntutan pekerjaan yang tidak dapat dihindari, mereka boleh melaksanakan tugas dan tidak shalat Jum’at, melainkan cukup shalat dhuhur saja. Hal ini didasarkan pada kaidah: ”adl-Dlaruuraatu tubiichul machdhuuraat” (keadaan darurat itu menyebabkan diperbolehkannya sesuatu yang mestinya dilarang).

Mereka tidak perlu keluar dari tempat kerja tersebut, karena kita semua tahu, bahwa mencari pekrjaan itu tidak mudah, sedang tuntutan nafkah keluarga adalah suatu kewajiban mutlak yang tidak dapat ditunda-tunda. Allah SWT berfirman (yang maknanya): «...Dan menjadi kewajiban ayah untuk mencukupkan keperluan rezeki (makan dan minum) serta pakaian dangan secara baik (sepantasnya) kepada ibu yang menyusukan anaknya...» (al-Baqarah: 233). Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash RA,  bahwa Rasulullah SAW bersabda: «Cukuplah seseorang menanggung dosa, jikalau ia menyia-nyiakan orang yang wajib ditanggung makannya» (HR Muslim, Abu Dawud dan lain-lain).

Namun ada baiknya mereka tetap berusaha berunding dengan atasan agar kiranya diberi kemudahan untuk bisa shalat Jum’at, kalau memungkinkan setiap hari Jum’at, tetapi jika tidak memungkinkan, bisa secara shift, sehingga dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali jum’atan. Jika perundingan itu berhasil alhamdulillah, tapi jika tidak maka Allah SWT Maha Tahu, bahwa mereka dalam keadaan darurat tidak Jum’atan.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA