Selasa, 27 Januari 2015

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Bagaimana Hukum Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh?

Dalam perspektif fiqih formal (hukum) niat itu menentukan sah tidaknya suatu amal ibadah. Sedang dalam perspektif fiqih moral (tasawuf) niat itu menentukan berpahala tidaknya suatu amal perbuatan. Oleh karena itu niat berpuasa merupakan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang yang berpuasa, mengingat niat merupakan rukun (soko guru) puasa, di samping menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.


Hukum Qunut Shubuh dan Dzikir Bersama Sesudah Salat?

Perdebatan tentang qunut shubuh ini sudah amat lama dan dalam fiqih madzhab empat telah mengkristal menjadi dua, yaitu: dalam madzhab Hanafiy dan Hanbaliy tidak perlu ada qunut dalam shalat shubuh, dengan alasan hadis shahih dari Anas bin Malik RA bahwa: ”Rasulullah SAW pernah berqunut setelah ruku’ selama sebulan untuk mendoakan kebinasaan sebagian bangsa Arab kemudian beliau meninggalkannya”. (HR al-Bukhariy dan Muslim).

Hukum Adzan Dua kali Dan Tongkat Khathib Dalam Shalat Jum’at?

Adzan Jum’at dua kali ini merupakan rintisan di masa khalifah Usman bin Affan RA ketika jumlah umat Islam semakin banyak dan semakin banyak pula yang terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Maka Usman RA berinisiatif mengkreasi adzan tambahan sebelum adzan yang selama itu terlaksana pada masa Nabi, Abu Bakar dan Umar, yaitu ketika khathib sudah berada di atas mimbar, dengan maksud agar umat Islam ingat bahwa hari itu adalah hari Jum’at dan segera bersiap-siap.


Bagaimana Salat Jum’atnya Satpam Yang Kena Shift?

Shalat Jum’at itu wajib hukumnya bagi semua muslim, sebagaimana firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (al Jumu’ah: 9), kecuali budak, perempuan, anak-anak, dan orang yang sakit, sebagaimana sabda Nabi SAW (yang maknanya): ”Shalat Jum’at itu suatu kewajiban atas setiap muslim dalam satu jamaah, kecuali empat golongan, yaitu: hamba, perempuan, anak-anak, atau orang sakit” (HR Abu Dawud dan al-Hakim).


Benarkah Shalat Jum’at Sebagai Pengganti Shalat Dhuhur?

Masalah ini sudah menjadi bahan perdebatan sejak dahulu. Bahkan Imam Syafi’iy ketika masih berada di Irak pernah bersikeras, bahwa shalat dhuhur adalah kewajiban tersendiri yang dalilnya menjadi satu paket dengan shalat 5 waktu lainnya. Sedang shalat Jum’at adalah juga kewajiban tersendiri dengan dalil tersendiri pula. Namun setelah beliau pindah ke Mesir dan berinteraksi dengan para ulama murid-murid Imam Malik, beliau mengetahui adanya riwayat sangat terkenal bahkan mencapai derajat mutawatir (aklamatif), bahwa Rasulullah SAW setelah melaksanakan shalat Jum’at tidak lagi mengerjakan shalat dhuhur.


Hukumnya Shalat Sambil Membawa Mush-Haf Al-Qur’an?

Teks perintah dalam al-Qur’an: “...Faqra-uu maa tayassara minal Qur-aan” (al-Muzzammil 20, maka bacalah apa yang mudah dari al-Qur’an), maupun hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Muslim dan lain-lain tentang keharusan membaca al-Qur’an (menurut jumhur: al-Fatichah) adalah memang berbunyi bacalah atau membaca, bukan menghafal. Namun dalam praktik shalat Nabi SAW ternyata menghafal (karena beliau dikehendaki Allah SWT tidak pandai baca-tulis agar tidak ada tuduhan bahwa al-Qur’an itu karangan beliau), begitu juga para sahabat dan generasi-generasi sesudahnya yang memang selalu ada yang hafal al-Qur’an.


Bagaimana Hukum Shalat Sunnah Ada Yang Makmum?

Prinsip utama yang harus diketahui adalah bahwa pada dasarnya shalat fardlu 5 waktu itu harus dikerjakan secara berjamaah karena Rasulullah SAW dan para sahabat selalu mengerjakannya secara berjamaah. Bahkan beliau menggambarkan mereka yang tidak berjamaah tanpa udzur itu rumahnya layak dibakar.


Bagaimana Hukum Mewakilkan Salat Istikharah?

Salat istikharah (mohon pilihan) adalah salat yang dilakukan seseorang untuk memohon kepada Allah SWT agar dipilihkan yang terbaik mengenai apa yang diinginkan. Hal-hal yang boleh dilakukan salat istikharah adalah sesuatu yang hukumnya tidak wajib dan/atau tidak haram, sebab sesuatu yang hukumnya wajib, mutlak harus dikerjakan dan sesuatu yang hukumnya haram, mutlak harus ditinggalkan tanpa boleh ada keraguan.


Hukum Menjamak Shalat Karena Banjir?

Menjamak shalat adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan dalam satu waktu tetapi masing-masing tetap dikerjakan secara terpisah (masing-masing tetap dalam jumlah rakaat yang sempurna dengan dua kali salam). Menjamak shalat ini ada dua macam, yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir. Jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan di waktu shalat yang lebih awal (dhuhur atau maghrib), sedangkan jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan di waktu yang akhir (asar atau isya’).


BAGAIMANA HUKUM MEMBATALKAN SALAT AGAR BISA BERJAMAAH?

Dalam keadaan normal, seseorang yang sedang dalam keadaan shalat tidak boleh membatalkannya, baik shalat wajib maupun shalat sunat, haram dibatalkan. Hal ini didasarkan pada ijmaa’ (kesepakatan aklamatif) para fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) dari semua generasi dan semua madzhab (baik sunniy maupun syi’iy), karena membatalkan shalat tanpa sebab yang dibenarkan syara’ (ajaran agama) itu berarti main-main dengan ibadah, bahkan seperti “mempermainkan” Allah SWT, karena sudah menghadap Allah SWT, tapi kemudian berpaling dari-Nya.

HUKUM MENG-QADLA SHALAT BAGI YANG PINGSAN ATAU KOMA?

Yang dimaksud meng-qadla’ shalat adalah melaksanakan shalat di luar waktunya, bukan karena jama’. Para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa kewajiban shalat tidak boleh ditinggalkan sama sekali tanpa udzur syar’iy (halangan yang dibenarkan hukum Islam). Sedang ‘udzurnya shalat hanyalah dua macam, yaitu lupa dan/atau tertidur.


SIAPAKAH YANG PALING BERHAK MENJADI IMAM SHALAT?

Dalam banyak hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Turmudziy, an-Nasa’iy dan lain-lain, Rasulullah SAW memang menetapkan siapa yang paling berhak menjadi imam shalat secara berurutan, yaitu yang paling aqra’ (ada dua penafsiran: paling menguasai ilmu agama atau paling bagus bacaan al-Qur’annya), kemudian yang paling mengerti as-Sunnah, kemudian yang paling dulu hijrah, kemudian yang paling dulu memeluk Islam, baru kemudian yang paling tua.


BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).