Skip to main content

Iktikaf, Haruskah di Masjid?

I’tikaaf (iktikaf) secara bahasa berarti tinggal dan menetap di suatu tempat dengan tujuan tertentu. Sedang dalam istilah fiqih, i’tikaaf adalah tinggal/menetap di masjid dalam waktu tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hukum i’tikaaf adalah wajib bagi yang bernadzar untuk ber- i’tikaaf; sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi mereka yang sudah dewasa dan sehat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan; dan sunnah (dianjurkan) bagi mereka yang melakukannya di setiap waktu selain sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.


Yang perlu diperhatikan adalah, bahwa jika i’tikaaf itu dilakukan dalam waktu yang lama, maka tidak boleh mengganggu tugas wajibnya. Tidak boleh terjadi, demi i’tikaaf lalu pekerjaan pokoknya mencari nafkah untuk keluarga terabaikan. Jadi siapa pun yang mau ber-i’tikaaf (jika dalam waktu lama), maka harus melakukan persiapan yang memadai, baik terkait dengan pengaturan waktu maupun dengan nafkah keluarga. Tetapi jika i’tikaaf  itu dilakukan dalam beberapa saat, tentu tidak perlu persiapan khusus untuk itu.

Dasar hukum i’tikaaf ini antara lain adalah firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah 125 yang maknanya: ”...Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, i’tikaaf, ruku’ dan sujud”, dan surat al-Baqarah 187 (maknanya): ”…dan janganlah kamu campuri mereka (isterimu) itu sedang kamu dalam keadaan ber-i’tikaaf dalam masjid”. Demikian juga terdapat dalam hadis-hadis shahih tentang anjuran ber-i’tikaaf ini, antara lain hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim dari Abdullah bin Umar dan ’Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW melakukan i’tikaaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, sejak beliau berada di Madinah sampai beliau wafat.

Mengenai tempat i’tikaaf, para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat sebagai berikut: Fuqaha’ Hanafiyah dan Hanabilah menyatakan, bahwa i’tikaaf hanya boleh dilakukan di dalam masjid yang dipakai shalat berjamaah. Sedang fuqaha’ Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat, bahwa i’tikaaf  boleh dilakukan di dalam masjid mana saja, asal dinamakan masjid (termasuk mushalla, karena sebenarnya mushalla itu juga masjid). Baik dalam al-Qur’an maupun hadis, nama resmi bagi bangunan khusus yang dijadikan sebagai tempat ibadah umat Islam itu adalah masjid, besar atau kecil, untuk Jum’atan atau tidak, yang penting untuk berjama’ah salat wajib maka harusnya disebut dan dinamai masjid. Dengan demikian, walau orang-orang Indonesia menyebutnya mushalla (karena kecil, atau tidak dipakai Jum’atan) tapi sesungguhnya itu adalah masjid yang boleh untuk i’tikaaf dan kalau masuk pertama kali sebaiknya melakukan shalat tachiyyat masjid (bukan tachiyyat mushalla).

Jumhur (mayoritas) fuqaha’ berpendapat, bahwa tempat i’tikaaf itu, baik bagi kaum laki-laki maupun kaum perempuan, haruslah di dalam masjid. Hal ini didasarkan pada hadis shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim yang menyebutkan, bahwa isteri-isteri Rasulullah SAW senantiasa ber-i’tikaaf di masjid. Tetapi fuqaha’ Hanafiyah berpendapat, bahwa bagi perempuan i’tikaaf cukup dilakukan di rumah saja, yaitu ditempat yang memang dikhususkan untuk shalat. Hal ini tentunya didasarkan pada pemahaman tekstual hadis shahih yang menyatakan, bahwa sebaik-baik shalat bagi perempuan adalah di dalam rumah. Rasulullah SAW bersabda yang maknanya: ”Jangan kamu larang perempuan untuk ke masjid, tetapi rumah mereka lebih baik bagi mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dar Abu Hurairah), dan ”Sebaik-baik masjid bagi kaum perempuan adalah rumah mereka” (HR. Ahmad dari Ummu Salamah).

Tetapi pemaknaan hadis tersebut tidak lagi bisa hanya tekstual, melainkan harus juga kontekstual. Bagi perempuan yang terancam keselamatannya, atau terganggu kehormatannya, atau tidak diizinkan oleh suami yang taat, maka i’tikaaf di rumah memang lebih baik daripada di masjid. Tetapi bagi perempuan yang aman dari gangguan, atau diizinkan oleh suami (atau malah bersama suami), atau tidak dikhawatirkan keselamatannya, maka i’tikaaf di masjid jelas lebih baik daripada di rumah.

Terkait dengan waktu i’tikaaf, para fuqaha’ juga berbeda pendapat sebagai berikut: Jumhur fuqaha’ berpendapat, bahwa waktu i’tikaaf  itu boleh kapan saja, siang ataupun malam, dalam waktu minimal pantas untuk berdoa. Sedang fuqaha’ Malikiyah menyatakan, bahwa i’tikaaf itu minimal sehari-semalam, bahkan di kalangan mereka ada yang menyatakan minimal 10 hari. Mengenai batas minimal waktu i’tikaaf ini hanyalah hasil ijtihad (pemikiran) mereka dan tidak bisa dirujukkan secara tekstual pada hadis shahih mana pun karena memang tidak ada hadis yang membatasi waktu minimal sahnya i’tikaaf. Dalam hal-hal seperti ini, pendapat jumhur fuqaha’ lebih tepat untuk dijadikan acuan, karena mayoritas.

Apa yang dilakukan dalam i’tikaaf ? Tentunya diawali dengan niat beribadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, kemudian melakukan amal-amal kebaikan apa saja selama i’tikaaf, seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir, mendalami ilmu-ilmu ke-Islaman dan lain-lain. Status i’tikaaf masih tetap berlangsung dan sah selama orang yang ber- i’tikaaf belum berniat mengakhirinya, atau selagi yang bersangkutan belum keluar masjid untuk waktu yang lama. Jadi kalau keluar masjid sekedar untuk ke kamar kecil atau berwudlu, maka i’tikaaf-nya tidak batal. Selama ber- i’tikaaf , tidak boleh melakukan hubungan suami-isteri dan melakukan hal-hal yang «tidak berguna», seperti ngobrol dan bermain. Apalagi melakukan hal-hal yang dilarang agama, seperti mengumpat, berbohong dan lain-lain, tidak ber- i’tikaaf pun tetap dilarang.

Bagaimana halnya dengan isteri yang melakukan i’tikaaf tanpa izin suaminya? Yang pertama dan utama disarankan adalah , bahwa isteri yang keluar rumah untuk melakukan i’tikaaf di masjid itu haruslah atas izin suami, atau malah bersama suami. Jika secara jelas dan tegas suami tidak mengizinkan isterinya untuk beri’tikaaf di masjid, maka isteri tidak boleh malakukannya dan wajib taat pada suami, karena hukum i’tikaaf itu sunnah sedang hukum patuh pada suami adalah wajib. Tetapi kalau karena sesuatu hal isteri tidak bisa mendapat izin langsung dari suami (walau kemungkinan ini amat kecil), maka dalam hidup berumah tangga sehari-hari isteri tentu sudah tahu atau setidaknya bisa menduga kuat bagaimana sikap suami jika isteri keluar rumah untuk beri’tikaaf di masjid. Jika diyakini atau diduga kuat suami tidak keberatan, sedang keadaan aman dan jauh dari gangguan atau fitnah, maka isteri boleh i’tikaaf di masjid. Tetapi sebaliknya, jika diduga suami tidak rela, atau keadaan tidak aman dari gangguan atau fitnah, maka isteri tidak boleh ngotot keluar rumah untuk i’tikaaf di masjid, haram hukumnya, bukan mendapat pahala tetap malah berdosa. Bagaimana halnya jika suami itu fasiq (pendurhaka) tidak peduli dengan agama atau ibadah, maka kepatuhan isteri pada suami tetap melekat sepanjang menyangkut hak-hak suami, asal kewajibannya pada isteri juga sudah terpenuhi. Artinya isteri tidak boleh keluar rumah untuk i’tikaaf jika suami minta dilayani kebutuhan biologisnya. Jika isteri sudah melayani suaminya kemudian dia melarang isterinya i’tikaaf tanpa alasan yang dibenarkan agama, maka isteri boleh i’tikaaf di masjid, asal keadaan aman dari gangguan dan fitnah.  Dalam banyak hadis sahih Rasulullah SAW menegaskan (yang maknanya): ”...Tidak boleh patuh pada siapapun kalau untuk durhaka pada Allah SWT. Kepatuhan itu hanya boleh jika terkait dengan kebaikan” (HR al-Bukhariy, Muslim dll). Hadis ini juga mengandung maksud, bahwa siapapun tidak boleh melarang orang untuk berbuat baik atau menyuruh orang untuk tidak berbuat baik. 

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.