Skip to main content

Hukum Zakat Fitrah Orang Meninggal di Bulan Ramadan?

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayar oleh setiap muslim setelah bulan Ramadan berakhir, baik laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, orang merdeka maupun hamba sahaya. Zakat fitrah disyariatkan untuk menyucikan jiwa orang-orang yang berpuasa, sekaligus memberi makan orang-orang miskin dan mencukupi kebutuhan mereka di hari raya (Idul Fitriy). Hal ini didasarkan pada makna hadis Nabi SAW: ”Zakat fitrah difardlukan sebagai penyuci jiwa orang-orang yang berpuasa dari perkataan bohong dan jelek, dan memberi makan orang-orang miskin...” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Abbas).  

Orang yang diwajibkan membayar zakat fitrah adalah orang yang mempunyai kelebihan harta dari kebutuhan pokoknya minimal satu sha’ bahan makan pokok, berdasar hadis yang diriwayatkan al-Jamaah: ”Kami mengeluarkan zakat fitrah pada masa Rasulullah SAW ada bersama kami, satu sha’ makanan, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum...”.  Mengenai berapa kadar 1 sha’ ini para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat. Fuqaha’ Hanafiyyah berpendapat bahwa kadar zakat firah adalah 3,8 kg. Sedang fuqaha’ Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menetapkan bahwa kadar zakat fitrah itu 2,75 kg. Ada juga segolongan  fuqaha’  Syafi’iyyah dan Hanabilah yang menetapkan, bahwa 1 sha’ itu adalah 2,304 kg (dibulatkan 2,5 kg). Mencermati perbedaan persepsi dan kadar 1 sha’ maka sebaiknya diambil jalan tengah yang mudah dan bulat, yakni 3 kg. Jadi ke depan, sebaiknya kadar zakat fitrah itu adalah 3 kg beras (sebagai makanan pokok bangsa Indonesia).

Mengenai waktu membayar zakat fitrah, terdapat perbedaan pendapat di antara para fuqaha’.  Fuqaha’ Hanafiyyah menyatakan, bahwa waktu wajib membayar zakat fitrah adalah sejak terbitnya matahari pada Idul Fitriy, karena nama zakat ini sendiri dikaitkan dengan fitrah. Apabila seseorang wafat sebelum terbit matahari pada Idul Fitriy, maka dia tidak wajib membayar zakat fitrah. Tetapi mereka memperbolehkan seseorang membayar zakat fitrah pada awal Ramadan, atau bahkan sebelumnya, juga memperbolehkan zakat fitrah dibayar sesudah salat Idul Fitriy. Dengan demikian, menurut mereka tidak ada kata terlambat dalam membayar zakat fitrah, bagi yang memang mampu membayarnya.

Sedang jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) berpendapat, bahwa waktu wajib untuk membayar zakat fitrah adalah sejak terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan, karena waktu itulah yang disebut waktu fitrah. Dengan demikian, apabila ada seseorang yang wafat setelah terbenamnya matahari pada akhir Ramadan, maka wajib dikeluarkan zakat fitrah atas namanya. Sebaliknya jika ada seseorang yang meninggal dunia sebelum terbenamnya matahari pada akhir Ramadan, maka dia tidak terkena kewajiban zakat fitrah.

Mengenai mendahulukan pembayaran zakat fitrah, fuqaha’ Syafi’iyyah memperbolehkannya sejak awal Ramadan. Sedangkan fuqaha’ Malikiyyah dan Hanabilah memperbolehkannya paling cepat tiga hari sebelum Idul Fitriy. Adapun mengenai penundaannya, maka fuqaha’ Syafi’iyyah dan Hanabilah mengharamkannya jika tanpa ’udzur syar’iy (halangan yang dibenarkan agama), karena dalam hadis Nabi SAW menyatakan (yang maknanya): ”...Orang yang membayarnya sebelum salat Id maka ia menjadi zakat fitrah yang diterima, dan orang yang membayarnya sesudah salat Id, maka ia menjadi sedekah biasa” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Abbas).  Sedangkan fuqaha’ Malikiyyah memperbolehkan pembayarannya sesudah salat Id, sehingga kewajiban membayar zakat fitrah tidak gugur karena terlambat, sampai dibayarnya.

Bolehkah membayar zakat fitrah dengan uang, tidak dengan makanan pokok sebagaimana tersebut dalam hadis?  Fuqaha’ Hanafiyyah menyatakan, bahwa zakat fitrah boleh dibayar dengan uang, karena tujuan utama zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan mereka yang berhak menerimanya, dan hal itu bisa terpenuhi dengan uang. Pendapat ini didasarkan pada makna hadis Nabi SAW: ”Penuhi kebutuhan mereka pada hari ini (Idul Fitriy)” (HR al-Bukhariy). Sedang menurut  jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih), zakat fitrah harus dibayar dengan makanan pokok setempat, dan tidak sah jika dibayar dengan uang. Hal ini disandarkan pada makna hadis shahih yang diriwayatkan al-Jamaah: ”Kami mengeluarkan zakat fitrah pada masa Rasulullah SAW ada bersama kami, satu sha’ makanan, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum...”. Mencermati kondisi sosial saat ini, maka pendapat fuqaha’ Hanafiyyah yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang terasa lebih tepat, mengingat fleksibelitas uang untuk kebutuhan apapun, karena kebutuhan orang di hari raya itu bukan hanya makanan pokok, tetapi juga pakaian, lauk pauk, ataupun kebutuhan pokok lainnya, yang lebih mudah terjangkau dengan uang.

 Wallaahu a’lam
Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.