Skip to main content

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.

Sepanjang penelusuran saya, masalah dan istilah badal umrah, tidak pernah ada dalam hadis maupun kitab-kitab fiqih, padahal masalah ini sudah amat membiasa di kalangan umat Islam, artinya umat Islam di belahan bumi mana pun memiliki kebiasaan melakukan badal umrah. Yang ada selama ini, baik dalam hadis maupun kitab-kitab fiqih adalah istilah badal haji. Oleh karena itu, untuk membahas badal umroh harus dikaitkan dengan badal haji, mengingat banyaknya kemiripan antara keduanya, bahkan dalam perosesi ibadah haji, umrah menjadi satu paket dengan haji.

Para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa melaksanakan ibadah haji atas nama orang lain yang sudah meninggal dunia adalah boleh dan sah. Hal ini didasarkan pada hadis shahih, bahwa seorang wanita dari suku Juhainah menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: Ya RasulAllah SWT, ibu saya bernadzar untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, tetapi beliau wafat sebelum sempat menunaikannya. Bolehkah saya menunaikannya untuk beliau? Rasulullah SAW menjawab: Ya, hajikan dia. Bagaimana pendapatmu jika ibumu mempunyai hutang pada seseorang, apakah kamu wajib membayarnya? Lunasilah hutang kepada Allah SWT, karena hutang kepada Allah SWT lebih berhak untuk dilunasi (HR. al-Bukhariy dan an-Nasa’iy dari Ibnu Abbas RA). Hadis semakna juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan ad-Daruquthniy dari Ibnu Abbas RA.

Tetapi para fuqaha’ berbeda pendapat tentang melaksanakan ibadah haji bagi orang lain yang masih hidup. Jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) selain Malikiyah (pengikut madzhab Malikiy) berpendapat, bahwa orang yang masih hidup boleh dihajikan oleh orang lain asal memenuhi syarat, yaitu (yang terpokok) orang tersebut dalam keadaan sakit atau sangat tua yang tidak memungkinkan untuk pergi ke Tanah Suci sementara dia memiliki uang cukup untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini didasarkan pada hadis shahih, bahwa seorang wanita dari suku Khats’am bertanya kepada Rasulullah SAW: «Ya Rasulullah, ayah saya sudah tua, tidak mampu lagi duduk di atas untanya, sedang dia sudah berkewajiban menunaikan ibadah haji. Bagaimana caranya ya Rasulullah?» Beliau menjawab: «Hajikan dia olehmu» (HR. Ahmad, at-Turmudziy, an-Nasa’iy, dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas RA).

Berpijak dari paparan dalil di atas, maka badal umrah itu diperbolehkan atas dasar analogi/qiyas pada dibolehkannya badal haji. Kalau haji saja boleh dibadali, maka apalagi umrah tentu lebih boleh (ini disebut qiyas aulawiy). Yang diqiyas tentu bukan teknik atau tata cara ibadahnya, karena para fuqaha’ sepakat bahwa tata cara ibadah tidak boleh diqiyas, tetapi yang diqiyas adalah jenisnya yang antara haji dan umrah memang mirip, bahkan ibadah umrah menjadi bagian dari prosesi ibadah haji. Ketentuan pokok yang harus dipenuhi dalam hal badal umrah ini sama dengan badal haji, yaitu orang yang mengumrahkan orang lain itu haruslah orang yang sudah menunaikan ibadah umrah untuk dirinya sendiri. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW mendengar seseorang (ketika haji) berkata Labbaika ‘an Syubrumah. Beliau bertanya: Siapa Syubrumah itu? Orang tadi menjawab: Saudara saya. Beliau bertanya lagi: Apakah kamu sendiri sudah melaksanakan haji? Orang itu menjawab: Belum. Maka Rasulullah SAW bersabda: Laksanakan terlebih dahulu hajimu, baru kamu melaksanakan haji untuk orang lain (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan ad-Daruquthniy dari Ibnu Abbas RA).

Ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi mengenai badal umrah ini, antara lain:

Orang yang diumrahkan telah wafat, sakit parah atau amat tua sehingga tidak mungkin melaksanakan ibadah umrah sendiri. Orang yang mengumrahkan adalah orang yang sudah menunaikan ibadah umrah untuk dirinya sendiri. Dalam satu kali umrah hanya boleh diperuntukkan membadali satu orang saja.

Persoalan lain yang muncul terkait umroh adalah tentang hadiah pahala umrah, artinya niat umrah untuk diri sendiri tetapi pahalanya diniatkan untuk orang lain. Mendiskusikan hal ini tentu amat panjang mengingat adanya dalil yang dapat difahami membolehkan dan ada pula dalail yang dapat dimaknai melarangnya.

Dalil yang dapat difahami membolehkan hadiah pahala, atara lain adalah hadis shahih, bahwa Sa’ad bin ’Ubadah bertanya kepada Rasulullah SAW: ”Wahai Rasulullah, ibuku meninggal sedang aku tidak berada di sampingnya ketika itu, apakah bermanfaat baginya apabila aku bersedekah (dan pahalanya aku hadiahkan) untuknya? Rasulullah menjawab: Ya (bermanfaat). Sa’ad lalu berkata: Aku menjadikan engkau sebagai saksi, bahwa tanaman kebunku adalah sedekah (yang pahalanya) untuk ibuku (HR al-Bukhariy).

Sedangkan dalil yang dapat dimaknai melarang hadiah pahala, antara lain adalah firman Allah SWT dalam surat an-Najm 39 yang maknanya: Dan , bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan hadis sahih yang amat populer, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): Apabila manusia itu telah meninggal dunia, maka terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya (HR Muslim).

Menyikapi dua pendapat yang saling berhadapan ini, maka al-khuruuj minal khilaafi mustachabb (menghindari perbedaan pendapat itu amat bagus). Oleh karena itu, siapa pun yang ingin pahala umrahnya diperuntukkan bagi orang lain, maka lakukanlah badal umrah untuknya, bukan hadiah pahala umrah.

 Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).