Skip to main content

Berapa Kadar Zakat Fitrah, Zakat Profesi?

Berapa Kadar Zakat Fitrah, Zakat Profesi, Dan Bolehkah Zakat Dikirim Ke Daerah Lain?

Zakat fitrah adalah zakat diri dalam rangka membersihkan diri kita. Orang kaya atau miskin (selagi masih punya kelebihan harta dari kebutuhan hidup sehari pada tanggal  1 Syawwal) semua terkena kewajiban zakat fitrah. Tentang kadar/ketentuan berapa yang harus dikeluarkan untuk 1 orang, terus terang saya tidak setuju kalau kadar zakat fitrah itu 2,5 kg beras sebagaimana difahami umumnya masyarakat kita.

Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, dapat difahami bahwa kadar zakat fitrah itu 1 sha’  yang oleh para ulama dihitung sesuai persepsi masing-masing (tentang sha’). Madzhab Hanafiy menetapkan 3800 gram (3,8 kg), sedang jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama fiqih) menyepakati 2751 gram (2,75 kg) sebagai kadar minimal zakat fitrah. Entah mengapa di masyarakat muncul standar zakat fitrah 2,5 kg tersebut. Lebih baik mengambil jalan tengah antara madzhab Hanafiy dan jumhur, agar lebih mudah menghitungnya dan juga lebih hati-hati, bahwa kadar zakat fitrah untuk 1 orang adalah 3 kg beras. Menurut ketentuan fiqih, nilai zakat fitrah (zakat diri) itu untuk siapapun (dewasa/anak-anak, tua/muda, laki-laki/perempuan) dan di manapun adalah sama, yaitu perorang wajib mengeluarkan seharga 3 kg beras yang dikonsumsi sehari-hari.

Sedang zakat profesi (pekerjaan) adalah zakat terkait dengan pembersihan harta manakala sudah mencapai jumlah tertentu. Profesi (pekerjaan) zaman sekarang, seperti pegawai negeri, pegawai perusahaan, dokter, kontraktor dsb. secara prinsip mayoritas ulama menyepakati kewajiban zakatnya, walaupun tehnis pelaksanaannya masih menjadi wacana fiqih yang diperselisihkan.

Penghasilan yang halal dari profesi apapun bila sudah mencapai 1 nishab (batas minimal harta kena zakat, yaitu kira-kira seharga 90 gram emas), maka wajib dizakati. Dan penghasilan itu tidak perlu lebih dulu dipotong keperluan sehari-hari, dan juga tidak harus menunggu 1 tahun, melainkan begitu sudah mencapai 1 nishab, maka harus dikeluarkan zakatnya, minimal sebesar 2,5 %. Mengenai hal ini ada dua tawaran:

Setiap menerima penghasilan dicatat, dan begitu mencapai Rp 45.000.000,- (dengan perkiraan harga 1 gram emas Rp 500.000,-), maka harus dikeluarkan zakatnya 2,5 %.

Atau setiap menerima penghasilan dicatat, kemudian pada akhir bulan dijumlah. Kalau ada Rp 3.750.000,- (45 juta dibagi 12 bulan), maka wajib dizakati 2,5 %. Inilah yang disebut ta’jil az-zakah (pencepatan zakat).

Memang sudah waktunya mengevaluasi nishab dan kadar zakat semua harta terkena zakat agar diperoleh keadilan. Variasi (tidak samanya) nishab dan kadar zakat pada masa Rasulullah SAW dulu, juga atas dasar pertimbangan keadilan, karena berbeda tingkat kesulitan memperolehnya.

    Mengenai pengiriman zakat (naqluz zakaah) dari tempat/daerah orang yang berzakat ke tempat/daerah lain, jumhur ulama (mayoritas ulama) tidak membolehkannya karena ada hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Jama’ah (banyak periwayat) bahwa Nabi SAW bersabda yang maknanya: «…Allah SWT mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka  untuk diberikan pada orang-orang miskin mereka…». Kata «mereka» dalam hadis tersebut difahami sebagai keharusan memberikan zakat kepada orang miskin yang ada di sekitar orang yang berzakat.

Namun para ulama memberikan perkecualian, secara garis besar sebagai berikut: Ulama Hanafiyah (pengikut madzhab Hanafiy) mengecualikan, yakni boleh mengirim zakat ke lain daerah, kepada kerabat yang miskin, masyarakat yang lebih miskin, dari daerah non muslim ke daerah muslim, orang yang sedang menuntut ilmu. Sedang ulama Malikiyah (pengikut madzhab Malikiy) mengecualikan mereka yang lebih membutuhkan, yakni boleh mengirim zakat ke lain daerah untuk mereka. Sementara itu ulama Syafi’iyah (pengikut madzhab Syafi’iy) mengecualikan, boleh mengirim zakat ke lain daerah kalau di daerah orang yang berzakat tidak ada yang berhak menerima zakat, atau ada kelebihan zakat.   

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.