Skip to main content

Bagaimana Qadla’ Puasa Bagi Wanita Hamil atau Menyusui?

Hutang apapun harus segera dibayar manakala sudah memungkinkan, apalagi hutang puasa yang masa pembayarannya cukup panjang (hampir 11 bulan), sehingga pada bulan Ramadan berikutnya sudah tidak punya tanggungan lagi.

Tetapi akan berbeda halnya jika terkait dengan wanita hamil, kemudian melahirkan dan menyusui, akan terjadi durasi waktu yang cukup panjang untuk terdapatnya ’udzur (halangan) tidak bisa berpuasa. Apalagi jika pada akhir masa menyusui, ternyata kemudian hamil lagi, melahirkan lagi dan menyusui lagi untuk anak kedua, dan kemungkinan berikutnya untuk hamil lagi selalu ada.

Mengenai wanita hamil dan/atau menyusui, para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa wanita yang sedang hamil atau dalam masa menyusui anaknya, boleh tidak berpuasa. Hal ini didasarkan pada hadis shahih, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): ”Allah SWT telah memberikan keringanan puasa dan mengqasar shalat bagi musafir, demikian juga Allah SWT memberi keringanan (untuk berbuka) bagi wanita hamil dan yang sedang menyusui anaknya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudziy, an-Nasa-iy dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA)

Ketentuan yang harus diketahui dan dipegangi oleh wanita muslimah (dan suaminya) adalah, bahwa orang yang tidak bisa berpuasa karena ’udzur syar’iy (halangan yang dibenarkan agama) adalah meng-qadla (mengganti) di kesempatan lain. Allah SWT berfirman yang maknanya: …maka barangsiapa di antara kamu yang sakit atau sedang bepergian (lalu berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…(al-Baqarah 184). Tetapi bagi yang tidak mampu meng-qadla (mengganti) karena juga ada ’udzur syar’iy yang lain, maka membayar  fidyah (tebusan) kira-kira 7,5 ons (lebih baik dibulatkan 1 kg) beras perhari diberikan pada orang miskin sekitar. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah (ayat 184) yang maknanya:»…dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…»

Jadi bagi wanita hamil dan/atau menyusui, jika suatu waktu ada kesempatan meng-qadla, maka harus meng-qadla sejumlah hari yang tertinggalkan. Tetapi jika tidak dapat meng-qadla’ karena adanya ’udzur syar’iy sampai datangnya Ramadan berikutnya, maka cukup membayar  fidyah (tebusan) saja. Dan apabila membayar  fidyah (tebusan) juga benar-benar tidak mampu, maka cukup istighfar (mohon ampun pada Allah SWT) dengan kesadaran, bahwa ada kewajiban yang benar-benar tidak sanggup dilaksanakannya. Dalam surat al-Baqarah ayat 286 dinyatakan: «…Allah SWT tidak memberi beban (kewajiban) kepada siapapun melainkan sesuai kemampuannya…». Dalam sebuah hadis shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: Ada seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW sambil mengeluh ”celakalah aku ya RasulAllah SWT”. Beliau bertanya ”kenapa?” Dia menjawab ”saya bersetubuh dengan isteriku padahal kami sedang berpuasa Ramadan”. Beliau bertanya ”apa kamu bisa memerdekakan budak?” Dia menjawab ”tidak”. Beliau bertanya lagi ”apa kamu sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab ”tidak”. Beliau bertanya lagi ”apa kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab ”tidak”. Maka Rasulullah SAW memberinya sekeranjang kurma sambil bersabda ”sedekahkan kurma ini kepada orang-orang miskin”. Orang tersebut bertanya ”apa aku harus bersedekah kepada orang yang lebih miskin, padahal di daerah ini tidak ada orang yang lebih miskin dari kami?” Maka Rasulullah SAW tertawa sampai kelihatan gigiseri beliau seraya bersabda ”baiklah, kalau begitu bawalah pulang kurma ini dan pergunakan untuk keluargamu” (HR al-Jamaah).

Memang ada pendapat dari fuqaha’ kalangan madzhab Syafi’iy dan Hanbaliy, bahwa apabila wanita hamil dan/atau menyusui itu tidak berpuasa karena khawatir terhadap keadaan anaknya, maka di samping harus meng-qadla juga harus membayar fidyah. Tetapi fuqaha’ kalangan madzhab Hanafiy berpendapat lain, yakni, bahwa wanita hamil dan/atau menyusui, apapun alasannya, maka kalau tidak berpuasa hanya wajib meng-qadla saja. Akan lain halnya jika wanita yang hamil dan/atau menyusui itu sudah ada waktu dan kemampuan untuk meng-qadla’ tetapi menunda-nundanya sampai datang Ramadan berikutnya, maka dia wajib meng-qadla’ sebagai ganti hutang puasanya dan membayar fidyah sebagai hukuman keteledorannya.

Apakah wanita yang masih punya hutang puasa belum di-qadla’ sampai datang Ramadan lagi itu boleh berpuasa Ramadan atau harus meng-qadla’ hutangnya dulu? Allah SWT Maha Bijak lagi Maha Memaklumi keadaan hambaNya yang memiliki banyak kelemahan, termasuk keteledoran dalam meng-qadla (mengganti) hutang puasa. Karena itu siapapun yang mempunyai hutang puasa, andai belum bisa meng-qadla’ (mengganti) hutangnya akibat menunda-nunda, maka tetaplah berpuasa Ramadan tahun berjalan, kemudian usai Ramadan nanti segera mengqadla puasa-puasa yang tertunda, ditambah membayar fidyah sejumlah hari yang tertinggalkan sebagai konsekuensi keteledorannya.

Perlu juga dipahami, bahwa tidak benar kalau puasa yang terhutang sampai Ramadan berikutnya belum terbayar lalu menjadi lipat dua kali. Yang benar adalah jumhur (mayoritas) ulama berpendapat, bahwa orang yang demikian itu diwajibkan meng-qadla’ (mengganti) puasanya, ditambah membayar fidyah  sejumlah hari yang ditinggalkan.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.