Skip to main content

Bagaimana Hukumnya Wanita Berpuasa Memakai Pakaian Mini?

Dalam perspektif fiqih formal (wilayah hukum), puasa hanya batal kalau melakukan hal-hal yang membatalkannya, seperti: makan, minum, merokok, onani, berhubungan kelamin pria-wanita dan segala tindakan sengaja yang menyebabkan masuknya suatu benda melalui rongga tubuh langsung ke dalam rongga perut. Dengan demikian memakai pakaian minim, baik atas kemauan sendiri atau atas perintah atasan, walau hukumnya haram dan berdosa, tetap tidak membatalkan puasa.

Tetapi dalam perspektif fiqih spiritual (wilayah «akhlaq/tasawuf»), tindakan apapun yang dilarang agama (Islam) karena menimbulkan dosa (seperti berpakaian minim), maka jelas mengurangi pahala puasa. Jelasnya, walaupun pahala puasa itu dapat diperoleh secara penuh, namun karena harus dikompensasi (dikurangi) dengan perbuatan dosa, maka otomatis kuantitas pahala tersebut akan berkurang. Karena itu dihimbau kepada kaum muslimin, khususnya yang berpuasa, untuk sedapat mungkin memperkecil perbuatan dosa, agar kalaupun pahala puasa kita terkurangi, tapi jangan terlalu banyak.

Akan halnya keterpaksaan berpakaian minim karena perintah atasan di suatu tempat kerja, sementara sampai saat ini tidak menemukan pekerjaan selain itu, maka penjelasannya demikian:

Yang disebut terpaksa dalam Islam itu adalah segala sesuatu yang mengancam keselamatan nyawa, agama, akal, harta, keturunan, badan dan kehormatan. Keadaan terpaksa dapat membolehkan dilakukannya sesuatu yang sebenarnya dilarang, sebagaimana populer dalam kaidah ushul fiqih adl-Dlaruuraatu tubiichul machdhuuraat

Hati kita harus benar-benar ingkar (bukan menikmati) terhadap pakaian minim tersebut dengan banyak membaca istighfar dan berjanji pada Allah kalau akan menghentikannya bila nanti mendapat pekerjaan lain yang lebih baik. Dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: «Sungguh Allah SWT lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada gembiranya seorang dari kalian yang jatuh dari atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas (lalu menemukannya)» (Muttafaq ‘alaih)

Harus terus berusaha mencari pekerjaan lain yang tidak menimbulkan kemaksiatan, untuk memenuhi kebutuhan hidup agar berkah dan diridloi Allah SWT. “Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya” (HR at-Turmudziy dan al-Hakim)

Sungguh amat disesalkan, bahwa di negara yang mayoritas muslim ini masih ada pengusaha yang berani «memaksa» pegawainya melangar ajaran agama Islam (berpakaian minim).

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.