Skip to main content

Bagaimana Hukumnya Orang Sakit Maag Tapi Nekad Puasa?

Islam itu agama yang mudah, ajaran-ajarannya terpikul dan terjangkau oleh kemampuan pemeluknya secara normal dan dalam keadaan wajar. Ada ajaran yang berlaku bagi semua pemeluknya (seperti  syahadat dan shalat), ada yang berlaku bagi yang mampu saja (seperti zakat dan haji), ada pula keringanan (rukhsah) bagi yang mengalami kendala pelaksanaannya (seperti puasa bagi yang sakit, boleh tidak berpuasa dan meng-qadla atau membayar fidyah).

Allah SWT berulangkali menegaskan, bahwa: “Allah tidak membebani siapapun melainkan sesesuai dengan kemampuan (wajar) nya...” (al-Baqarah 286). “...dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan...” (al-Baqarah 195). “...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” (al-Baqarah 185) dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna. Begitu juga Rasulullah SAW menegaskan: “Agama itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seorang melainkan agama itu akan mengalahkannya (orang yang memperkeras-keraskan itu sendiri yang akan merasa tidak kuat meneruskannya). Maka dari itu, bersikap luruslah engkau semua, lakukanlah yang sederhana saja, bergembiralah (untuk memperoleh pahala), sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan sesuatu amalan itu, baik di waktu pagi, sore ataupun sebagian waktu malam” (HR al-Bukhariy dari Abu Hurairah RA).

Di samping ajaran Islam itu wajar, mudah dan karenanya kita tidak boleh mempersulit diri sendiri dalam melaksanakannya, ajaran Islam juga punya ketentuan baku yang harus dipatuhi secara taken for granted (“apa adanya”) jika itu menyangkut jenis ibadah murni (dogma ritual) yang bersifat ta’abbudiy (kepatuhan total), seperti puasa dan shalat. Kita harus melaksanakan ibadah jenis ini secara patuh total, tanpa melakukan tawaran rasional. Misal: kalau puasa itu berakhir pada waktu terbenamnya matahari, maka logisnya ya dimulai dari terbitnya matahari. Kalau puasa itu harus tidak makan dan tidak minum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, maka khusus bagi yang sakit boleh kalau sekedar minum obat. Yang demikian itu sama sekali tidak benar dan tidak dibenarkan, karena berarti tidak ta’abbud (patuh total), bahkan melakukan rasionalisasi atau “ngakali” ibadah.

Jadi tindakan ngotot berpuasa walau sedang sakit yang secara medis tidak diperkenankan, hal itu tidak benar karena melaksanakan ibadah tidak sesuai dengan ketentuannya. Bahkan bisa berdosa kalau kemudian orang yang nekad berpuasa tersebut sakitnya makin parah. Lebih berdosa lagi jika cara ini di kemudian hari ada yang mengikuti/mencontoh karena dianggap suatu kebenaran. Oleh karena itu, jika memang benar-benar tidak kuat berpuasa karena sakit maag akut, maka tidak usah berpuasa, dan cukup membayar fidyah (perhari 7,5 ons atau lebih bagus 1 kg beras diberikan orang miskin). Soal pahala dan berkah Ramadan, Allah SWT Maha Tahu, tidak semata terletak pada puasanya, tapi lebih pada kepatuhan pada ketentuan agama yang disyari’atkan-Nya. Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.