Skip to main content

Bagaimana Hukum Puasa Ramadan Lupa Mandi Besar?

Suami isteri yang pada malam Ramadan berhubungan badan, atau pun seorang pemuda yang ”mimpi basah”, ataupun wanita yang berhenti haid pada malam hari, tapi entah lupa ataupun karena menunda-nunda, baru mandi keramas (mandi besar/mandi jinabat) setelah shubuh dalam keadaan sedang berpuasa, maka hal ini tidak berpengaruh pada sahnya puasa, puasanya tetap sah, karena dalam perspektif fiqih formal (hukum) memang tidak ada ketentuan, bahwa orang yang berpuasa itu harus suci dari hadas besar. Juga tidak mengurangi pahala puasanya, karena memang tidak ada ketentuan puasa yang dilanggar.

Tetapi dalam perspektif fiqih moral (tasawwuf) hal tersebut dapat mencederai keutamaan puasa, karena ada unsur keteledoran. Apalagi jika karena hal itu lalu tidak bisa berjamaah shubuh di masjid, maka akan lebih merugi lagi, mengingat Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis (yang maknanya): ”Siapa pun yang shalat isya’ berjamaah maka dia mendapat pahala seakan telah melakukan shalat sunat setengah malam, dan siapa pun yang shalat shubuh berjamaah maka dia mendapat pahala seakan telah mengerjakan shalat sunat semalam suntuk” (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Turmudziy dari Usman bin Affan RA)

Kalau waktu mandi jinabat (mandi besar), ada air yang masuk telinga, hidung atau mulut secara tidak sengaja, maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Walaupun demikian, cara mandinya harus berhati-hati agar tidak ada air yang masuk telinga, hidung, tenggorokan dan lain-lain sehingga tidak menimbulkan keraguan. Kalau sudah berhati-hati ternyata tetap ada air yang masuk secara tidak sengaja, maka hal ini di luar kemampuan kita, dan karena itu tidak membatalkan puasanya. Kalau mau, boleh saja keramas memakai shampoo, asal tetap berhati-hati menyiramnya. Oleh karena itu, kalau suami-isteri berhubungan badan di malam Ramadan, maka sebaiknya langsung mandi jinabat sebelum tidur, atau kalau mau tidur dulu (memang tidur setelah gitu tu enaknya ga ketulungan), maka harus memasang alarm waker agar bisa bangun sebelum shubuh. Kalau merasa masih terlalu dingin, maka boleh mandi dengan air hangat. Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk menunda mandi jinabat sesudah shubuh.

Tetapi jika orang melakukannya (berhubungan badan dengan isteri) dalam keadaan sadar, bahwa waktu shubuh sudah hampir tiba (yang berarti puasa harus segera dimulai) tetapi tetap saja dilakukan bahkan diteruskan sampai masuk waktu shubuh, maka ini jelas langkah ceroboh dan tidakan sembrono, dan karena itu puasanya (suami dan isteri) jelas batal dan wajib membayar kaffarat («denda berat»), yaitu berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut (hampir pasti tidak sanggup), maka harus memberi makan 60 orang miskin (kira-kira 1 kg beras per orang, jadi 60 kg beras). Kemudian setelah Ramadan nanti, wajib meng-qadla (mengganti) puasa tersebut. Jelasnya di samping kena kaffarah, juga wajib meng-qadla.

Perlu juga dijelaskan sekalian di sini, bahwa jika ada orang yang berpuasa kemudian di siang bolong itu tidur dan mimpi keluar mani, maka puasanya tidak batal. Dia harus segera mandi keramas (mandi besar/mandi jinabat) walaupun dalam keadaan sedang berpuasa, tidak apa-apa. Tetapi cara mandinya harus berhati-hati agar tidak ada air yang masuk telinga, hidung, tenggorokan dan lain-lain, agar tidak menimbulkan keraguan.

Namun jika ada orang yang berpuasa, karena godaan nafsu seksnya lalu melakukan onani, atau menonton film/video porno atau bermesraan dengan istri, sampai keluar mani/orgasme, berarti dia tidak sanggup atau tidak lulus uji pengendalian nafsu tadi, maka puasa orang tersebut jelas batal dan menurut jumhur ulama (mayoritas ulama) dia harus meng-qadla (mengganti puasa di hari yang lain) dan membayar fidyah (denda berupa memberi makan seorang miskin, kira-kira 1 kg beras). Tapi menurut ulama Malikiyah (pengikut madzhab Malikiy) orang tersebut selain wajib meng-qadla juga harus membayar kaffarat (tebusan berupa puasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa ada seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW sambil mengeluh ”celakalah aku ya RasulAllah SWT”. Beliau bertanya ”kenapa?” Dia menjawab ”saya bersetubuh dengan isteriku padahal kami sedang berpuasa Ramadan”. Beliau bertanya ”apa kamu bisa memerdekakan budak?” Dia menjawab ”tidak”. Beliau bertanya lagi ”apa kamu sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab ”tidak”. Beliau bertanya lagi ”apa kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab ”tidak”. Maka Rasulullah SAW memberinya sekeranjang kurma sambil bersabda ”sedekahkan kurma ini kepada orang-orang miskin”. Orang tersebut bertanya ”apa aku harus bersedekah kepada orang yang lebih miskin, padahal di daerah ini tidak ada orang yang lebih miskin dari kami?” Maka Rasulullah SAW tertawa sampai kelihatan gigiseri beliau seraya bersabda ”baiklah, kalau begitu bawalah pulang kurma ini dan pergunakan untuk keluargamu” (HR al-Jamaah).

Dari hadis ini dapat difahami betapa toleran dan santunnya Rasulullah menghadapi umatnya yang bermasalah, dan betapa pula sebenarnya hukum Islam (fiqih) itu amat fleksibel, sehingga umat tidak terbayangi ketakutan berlebihan, tetapi juga jangan sampai mengentengkan berlebihan. Kata kunci amaliah fiqhiyah itu adalah hati yang taat. Apapun yang dilakukan, kalau hati tetap kokoh untuk taat kepada Allah SWT, maka kalau pun tersalah, Allah SWT akan memaafkannya.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.