Skip to main content

Bagaimana Hukum Meng-Qadla Puasa Bagi Yang Sudah Meninggal?

Puasa Ramadan merupakan kewajiban personal (fardlu ’ain) semua orang Islam yang sudah baligh (dewasa menurut agama), yang jika berhalangan boleh tidak berpuasa tetapi wajib mengganti (meng-qadla’) di hari yang lain, dan jika tidak mampu maka harus membayar tebusan kecil (fidyah) dengan memberi makan seorang miskin (untuk 1 hari tidak berpuasa harus ditebus dengan 7,5 ons beras atau uang senilai itu). Allah SWT berfirman (yang maknanya): “…maka barangsiapa di antara kamu yang sakit atau sedang bepergian (lalu berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…" (al-Baqarah 184).


Bagaimana jika ada orang yang tidak mampu berpuasa karena sakit, kemudian meninggal dunia sebelum meng-qadla’ puasa yang tertinggalkan?

 Prinsip yang harus diketahui oleh semua umat Islam adalah, bahwa hutang apapun itu harus segera dibayar manakala sudah memungkinkan, apalagi hutang puasa yang masa pembayarannya cukup panjang (hampir 11 bulan). Tapi manusia punya rencana, Allah swt punya kuasa. Sekiranya ada orang yang tidak mampu berpuasa karena sakit kemudian menemui ajalnya dan belum meng-qadla’ (mengganti) puasanya, maka dalam hal ini ada dua keadaan:

Kalau dia wafat sebelum sempat meng-qadla’nya karena memang benar-benar belum bisa atau belum mampu berpuasa, maka menurut jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) dia terbebas dari beban syara’, gugur kewajiban puasanya, tidak berdosa, tidak terkena kewajiban qadla’ dan tidak harus diganti dengan apapun karena kewajiban puasa memang tidak terpikul oleh dia. Allah SWT berfirman (yang maknanya): «…Allah tidak memberi beban (kewajiban) kepada siapapun melainkan sesuai kemampuannya…» (al-Baqarah ayat 286).

Kalau dia wafat sesudah ada kesempatan meng-qadla’ tapi belum dilakukannya, maka menurut jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) walinya tidak wajib meng-qadla’ atas namanya. Bahkan dalam qaul jadid (pendapat baru) Imam Syafi’iy menyatakan, bahwa kalau pun walinya berpuasa atas nama yang wafat, maka puasanya tidak sah, karena puasa termasuk ibadah badaniah murni (machdlah) yang wajib dikerjakan sendiri dan tidak boleh digantikan orang lain, baik ketika masih hidup atau pun sesudah wafat, seperti shalat yang juga tidak bisa di-qadla’i orang lain. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Seseorang tidak boleh mengerjakan shalat atas nama orang lain, juga tidak boleh puasa atas nama yang lain, tetapi membayar fidyah atas namanya dengan 1 mudd gandum untuk sehari tidak puasa” (HR an-Nasaa-iy dari Ibnu Abbas RA).  Tetapi Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, bahwa dianjurkan walinya untuk berpuasa atas nama yang wafat demi kehati-hatian.

Dalam kaitan ini semua fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa orang yang demikian (punya hutang puasa karena sakit kemudian wafat padahal sebenarnya sudah punya kesempatan men-qadla’ tetapi belum dilakukannya), maka wajib dibayarkan fidyah (tebusan) diambilkan dari harta peninggalannya. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Siapa pun yang wafat dan punya tanggungan puasa sebulan, maka harus dibayarkan fidyah atas namanya dengan memberi makan seorang miskin untuk sehari tidak puasa” (HR Ibnu Majah dari Ibnu Umar RA). Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah (ayat 184) yang maknanya:»…

Tetapi para ahli hadis dari ulama Syafi’iyyah, Abu Tsaur, al-Auza’iy, Dhahiriyyah dan lain-lain berpendapat, bahwa orang yang wafat dan mempunyai hutang puasa maka walinya (kerabatnya) harus berpuasa atas namanya. Hal ini didasarkan pada banyak hadis shahih, antara lain yang diriwayatkan dari ’Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): ”Siapa pun yang wafat dan punya hutang puasa, maka walinya harus berpuasa atas namanya” (HR al-Bukhariy dan Muslim). Tetapi Ibnu Abbas, al-Laits, Abu Ubaid dan Abu Tsaur memahami dan membatasi maksud hadis ini hanya terkait puasa nadzar saja, bukan puasa Ramadan.

Pertanyaan yang sering muncul terkait hal ini adalah: kenapa kalau puasa dan haji bisa digantikan (di-badal-kan) orang lain, tetapi kalau salat tidak bisa? Katanya orang yang sudah meninggal itu terputus semua peluang pahalanya selain 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan, tapi kenapa ibadah haji dan puasa orang lain bisa bermanfaat bagi yang sudah meninggal?

Jawaban paling simpel dan mengena adalah bahwa ajaran Islam yang terkait ritual murni (’ibaadah machdlah) itu bersifat ta’abbudiy (dogmatik) yang menuntut kepatuhan total, baik dapat dicerna nalar maupun tidak. Karena Allah dan Rasul-Nya menetapkan demikian, maka seluruh umat Islam harus tunduk dan mematuhinya, tanpa mempertanyakan kenapa demikian.  Semua orang akan sulit menjawab pertanyaan: kenapa wudlu itu yang dibasuh bukan bagian-bagian yang membatalkan wudlu, tetapi malah muka, tangan, kepala dan kaki? Kenapa salat dhuhur itu 4 rakaat, tidak 3, 5 atau 6 rakaat? Kenapa puasa wajib itu di bulan Ramadan, tidak di bulan Mucharram atau Maulid (Rabii’ul Awwal)? Kenapa wuquf itu tanggal 9 Dzulchijjah, tidak tgl 1 atau 15? Kenapa thawaf itu harus 7 putaran, tidak 5 atau 9? dan ratusan pertanyaan lainnya.

Kalaupun akan dicari jawaban yang mendekati pencernaan nalar, maka hanya bisa dengan memasuki wilayah chikmatut tasyrii’ (manfaat ajaran agama) yang sebagian terbesarnya merupakan hasil pemikiran manusia yang bersifat dugaan kuat atau keyakinan pribadi, yang bisa benar dan bisa juga salah; dan untuk ini harus ada pembahasan tersendiri.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.