Skip to main content

Bagaimana Hukum Mendahulukan Puasa Sunnah Daripada Puasa Qadla Ramadan?

Banyak sekali puasa sunnah yang dituntunkan Rasulullah SAW, baik puasa Senin-Kamis, puasa 6 hari bulan Syawwal, puasa 3 hari tiap tengah bulan Hijriyah, puasa hari Arafah, puasa hari ’Asyura’, maupun puasa bulan Sya’ban, karena pada hari-hari tersebut Rasulullah SAW juga banyak berpuasa. Bahkan untuk bulan Sya’ban beliau berpuasa lebih banyak dibanding di bulan apapun selain bulan Ramadan.


Diriwayatkan dari isteri beliau, ‘Aisyah binti Abu Bakar RA berkata: “…Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh selain dalam bulan Ramadan, dan saya tidak melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban” (HR al-Bukhariy, Muslim dan lain-lain). Dalam riwayat lain diceritakan, ada seseorang yang bertanya kepada ’Aisyah RA tentang puasa sunnah, maka beliau menjawab: ”Sungguh Rasulullah SAW selalu berpuasa Sya’ban sebulan penuh, dan selalu berusaha untuk berpuasa Senin – Kamis” (HR an-Nasaa-iy).

Nah bagaimana halnya jika ada orang yang masih punya hutang puasa Ramadan, tetapi amat ingin berpusa sunnah? Secara fiqih formal memang tidak ada larangan terhadap siapa pun yang mau melakukan puasa sunnah walaupun masih mempunyai hutang Ramadan. Bahkan kalau dikaitkan dengan shalat, maka banyak shalat sunnah sebelum shalat wajib (sunnah qabliyyah) walaupun waktu shalat wajib sudah tiba, atau walaupun masih punya tanggungan shalat wajib. Juga terdapat suatu riwayat, bahwa ’Aisyah RA pernah berpuasa sunnah padahal beliau masih mempunyai hutang puasa Ramadan.

Tetapi sebenarnya dalam perspektif ushul fiqih, siapa pun yang masih punya hutang puasa Ramadan, maka harus meng-qadla’ (mengganti) hutangnya terlebih dahulu baru kemudian berpuasa sunnah. Hal ini karena komposisi dan hirarki hukum Islam (fiqih) adalah , bahwa yang fardlu/wajib itu pasti lebih urgen dan harus didahulukan dibanding yang sunnah/anjuran. Hukum mengqadla puasa Ramadan adalah fardlu, sedang hukum puasa sunnah tentulah sunnah  Karena itu, terkait dengan pelaksanaan qadla puasa Ramadan dan puasa sunnah, apapun alasannya harus didahulukan mengqadla puasa Ramadan pada kesempatan dan kemungkinan pertama.

Logikanya begini, kalau kita sudah mengqadla puasa Ramadan dan belum sempat puasa sunnah lalu meninggal, misalnya, maka kita sudah terbebas dari tanggungan ”hutang” puasa, dan tidak berdosa lantaran tidak puasa sunnah. Tapi sebaliknya kalau demi puasa sunnah kita menunda puasa qadla Ramadan lalu tiba-tiba meninggal, maka kita berdosa lantaran sudah ada kesempatan mengqadla tidak dimanfaatkan, padahal pahala puasa sunnah tidak sebanding dengan dosa keteledoran mengqadla puasa Ramadan. Akan lain halnya bila seseorang punya ”hutang” puasa Ramadan dan belum sempat mengqadla lalu meninggal, maka dia tidak berdosa; hanya sebagian harta tinggalannya harus diambil untuk membayar fidyah sejumlah puasa yang ter”hutang”.

Hutang apapun harus segera dibayar manakala sudah memungkinkan, apalagi hutang puasa yang masa pembayarannya cukup panjang (hampir 11 bulan), sehingga pada bulan Ramadan berikutnya sudah tidak punya tanggungan lagi. Allah SWT berfirman yang maknanya: …maka barangsiapa di antara kamu yang sakit atau sedang bepergian (lalu berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…(al-Baqarah 164). Jika lupa hitungannya, maka harus dihitung angka terbesar. Misalnya, apa 8 atau 9 hari, maka harus dianggap 9 hari; apa 5, 6 atau 7 hari, maka harus dianggap 7 hari.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.