Skip to main content

Bagaimana Hukum Mencicipi Masakan Disaat Berpuasa?

Dalam kehidupan sehari-hari, siapa pun, di mana pun dan kapan pun tidak akan bisa terlepas dari makanan dan minuman, dan siapa pun pasti menginginkan makanan yang lezat dan minuman yang segar, sesuai dengan seleranya. Kalau makanan, tentu ingin yang tidak tawar tapi juga jangan terlalu asin, tidak hambar tapi juga jangan terlalu pedas; sedang kalau minuman, tentu yang tidak masam dan tidak terlalu manis, dan seterusnya, pokoknya harus pas dengan seleranya. Apalagi orang yang berpuasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tentu tidak ingin kecewa dengan makanan yang kurang asin atau terlalu asin, terlalu pedas atau hambar, juga minuman yang kurang manis atau terlalu manis, dan seterusnya. Semuanya harus serba pas sesuai selera.

Tetapi tidak banyak orang yang menyadari, bahwa untuk mendapatkan rasa dan selera yang pas tersebut ada orang yang memasak dengan kemampuan menakar ukuran rasa yang jitu, baik makanan maupun minuman, sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya. Juru masak dalam keluarga biasanya adalah wanita, ibu-ibu, yang juga berpuasa manakala tidak sedang berhalangan. Karena itu mereka tentu akan berhadapan dengan masalah yang sulit ketika memasak dalam keadaan berpuasa. Bolehkan mencicipi makanan atau minuman yang akan disajikan untuk berbuka bagi seluruh keluarga? Untuk menentukan rasa yang pas, haruskah menunggu datangnya waktu maghrib?

Dalam perspektif fiqih formal (hukum), di antara yang membatalkan puasa adalah masuknya suatu benda secara sengaja ke dalam rongga badan yang dapat tembus ke ”rongga perut”, seperti makan, minum, merokok, berendam kemudian sengaja kentut di dalam air, dan sejenisnya. Sedang yang dimakruhkan dalam berpuasa adalah segala tindakan yang dikhawatirkan bisa mengarah pada batalnya puasa atau berkurangnya nilai hikmah puasa, seperti mencium isteri karena dikhawatirkan akan membangkitkan gairah seksual yang membuat tak terkendali; membau yang segar-segar karena akan membuat ingin merasakan dan mengurangi hikmah puasa; mandi berkali-kali karena dikhawatirkan rongga tubuh kemasukan air dan juga dapat mengurangi nilai hikmah puasa, demikian pula berkumur berlebihan; mencicipi makanan atau minuman, karena dikhawatirkan tertelan, dan juga bisa membuat sangat ingin sehingga mengurangi sebagian hikmah puasa (ikut merasakan penderitaan fakir-miskin) dan lain-lain.

Oleh karena itu walaupun dalam keadaan berpuasa, mencicipi masakan, makanan atau minuman, tidak membatalkan puasa. Tetapi kalau makanan/munuman yang dicicipi itu kemudian masuk ke tenggorokan lalu ditelan dengan sengaja, maka jelas membatalkan puasa; sedang jika tertelan secara tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasa. Memang para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) secara umum menghukuminya makruh, itupun kalau ada kekhawatiran tertelan, atau karena menjadi sangat ingin dan mengurangi ”penderiataan” puasa yang selalu dirasakan fakir miskin. Tetapi jika kekhawatiran itu tidak ada, yang berarti illat (sebab) hukumnya juga tidak ada, maka hukum makruh itu juga tidak ada lagi, sesuai kaidah ushul fiqih: ”al-Chukmu yaduuru ma’a ’illatihi, wujuudan wa ’adaman” (hukum itu selalu terkait dengan sebabnya, baik adanya maupun tidak adanya). Apalagi sebagaimana digambarkan di atas, bahwa semua orang itu membutuhkan makanan dan minuman yang pas sesuai selera, yang hal itu hanya bisa tercapai jika juru masak mencicipinya. Dengan demikian dapat ditegaskan, bahwa mencicipi masakan, makanan atau minuman, bagi ”juru masak” yang sedang berpuasa itu diperbolehkan dan tidak makruh, asal benar-benar hanya bermaksud mencicipi rasanya untuk kepentingan masak, bukan sekedar iseng, kemudian harus langsung dikeluarkan/ diludahkan sampai benar-benar bersih.

Penting juga ditambahkan di sini mengenai hal yang sering ditanyakan umat Islam terkait puasa, yakni injeksi (suntik, Jawa), penggunaan obat hirup bagi penderita asma atau flu berat, pemakaian tetes mata bagi yang sakit mata dalam keadaan berpuasa. Asal dilakukan dengan amat hati-hati dan tidak berlebihan, maka diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa, karena di samping alasan darurat pengobatan, juga karena tidak berefek sama dengan makan/minum («mengenyangkan»). Dalam kaidah fiqhiyyah dinyatakan: ”ad-Dlaruuraatu tubiichul machdhuuraat” (Keadaan darurat itu dapat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang). Bagitu juga air yang masuk ke telinga tidak membatalkan puasa, karena walaupun telinga itu termasuk rongga badan, tapi rongga telinga tidak tembus langsung ke rongga perut, juga agar tidak memberatkan orang yang berpuasa. Allah SWT berfirman dalam akhir surat al-Baqarah (286) yang maknanya: Allah SWT tidak membebani siapaun di luar kemampuan (wajarnya)...

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.