Skip to main content

Bagaimana Hukum Kurban Urunan di Sekolah

Kurban pada awalnya merupakan syari’at yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, sebagaimana firman Allah SWT (yang maknanya): ”Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar» (surat as-Shaaffaat 107). Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk meneruskan syari’at tersebut setiap Idul Adha.


Hal ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Dalam surat al-Kautsar ayat 2 dinyatakan (yang maknanya): «Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah». Dan sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): «Barangsiapa yang telah mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami» (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Dalam hadis lain disebutkan: «Tidak ada amal keturunan Adam yang lebih disukai Allah SWT pada hari Idul Adha selain menyembelih kurban. Sungguh binatang itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan bulunya. Dan sungguh darah kurban itu lebih dulu tercurah karena Allah SWT sebelum ia tercurah ke bumi, yang membuat jiwa menjadi senang» (HR at-Turmudziy, Ibnu Majah dan al-Hakim). Rasulullah SAW sendiri senantiasa berkurban dengan dua ekor domba pada setiap hari raya Idul Adha, satu untuk beliau sendiri, dan satu lagi diniatkan bagi umatnya (HR al-Jama’ah).

Beberapa ketentuan kurban yang harus dipatuhi oleh mereka yang akan berkurban adalah:

Binatang kurban tidak cacat dan telah mencapai umur tertentu (domba 1 tahun lebih, kambing 2 tahun lebih, sapi/kerbau 2 tahun lebih dan onta 5 tahun lebih). Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW: «Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban adalah: rusak matanya, sakit, pincang, dan kurus yang tidak berdaya» (HR Ahmad), dan hadis Nabi SAW: «Janganlah kamu menyembelih untuk kurban melainkan yang telah berganti gigi, kecuali jika sukar didapatkan, maka boleh yang berumur satu tahun dari domba» (HR Muslim).

Seekor onta atau sapi (termasuk kerbau yang dikiaskan dengan sapi) berlaku atau dapat dipakai kurban untuk tujuh orang. Jabir bin Abdullah, salah seorang sahabat Nabi dari kaum Anshar mengatakan:  «Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, seekor onta untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang» (HR Muslim). Sedang domba atau kambing hanya berlaku untuk satu orang perekornya. Hal ini di samping merujuk pada hadis riwayat al-Jamaah yang menjelaskan, bahwa Nabi SAW berkurban untuk diri beliau dengan seekor domba, juga dikiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji.

Harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan oleh syari’at. Menurut jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih, dalam hal ini Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah), waktu diperbolehkannya menyembelih binatang kurban adalah tiga hari, yaitu tanggal 10, 11 dan 12 Dzulchijjah. Alasannya adalah pernyataan tiga orang sahabat Nabi (Umar bin al-Khatthab, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas RA): «Hari-hari kurban itu tiga hari, yang utama adalah hari pertama». Sedang para fuqaha’ Syafi’iyah berpendapat, bahwa waktu diperbolehkannya menyembelih binatang kurban adalah empat hari, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulchijjah. Alasannya adalah hadis Nabi SAW: «Pada masing-masing hari tasyriq adalah waktu menyembelih kurban» (HR Ahmad dan ad-Daruquthniy). Hari tasyriq adalah tanggal 11, 12 dan 13 Dzulchijjah.

Nah ada «kebiasaan» sebagian masyarakat, terutama di banyak sekolah/madrasah, yang karena tidak dapat membeli kambing untuk kurban secara individual, atau dengan motif mendidik agar membiasakan murah hati dan menumbuhkan jiwa solidaritas di kalangan anak didik, maka digalanglah pembelian kambing secara patungan, urunan atau iuran secara kolektif. Sehingga yang mestinya seekor kambing hanya mencukupi dan sah untuk kurban bagi satu orang, kali ini seekor kambing diperuntukkan bagi banyak orang/anak. Jika mengacu pada ketentuan di atas, bahwa seekor kambing hanya berlaku untuk satu orang, maka kurban patungan semacam ini tidak sah dan tidak bernilai kurban, melainkan sedekah (jika ada yang diberikan orang lain) atau ukhuwwah (jika dimakan sendiri oleh anggota patungan).

Tetapi jika mengacu pada riwayat, bahwa Nabi SAW setiap tahun berkurban dengan dua ekor domba, yang seekor untuk beliau sendiri sedang yang seekor lagi untuk umatnya, maka kurban patungan ini masih mendapat tempat untuk disebut kurban, walau pahalanya tentu sebesar atau senilai nominal dana yang dilibatkan. Walau secara fiqih ibadah belum ada fuqaha’ yang mengakui, bahwa kurban patungan kambing itu sebagai kurban syar’iy, tapi secara fiqih tarbiyah tetap ada manfaatnya, yaitu untuk mendidik kedermawanan, kepedulian dan kesetiakawanan.

Berbeda dengan kebiasaan urunan di kalangan masyarakat untuk membeli seekor sapi yang ditanggung oleh 7 (tujuh) orang, maka hal demikian adalah sah karena sesuai dengan hadis dari Jabir bin Abdullah di atas, bahwa seekor sapi dapat mencukupi untuk 7 (tujuh) orang. Demikian juga, berdasarkan hadis riwayat al-Jamaah di atas, apabila yang berkurban adalah kepala keluarga, maka walaupun dia berkurban hanya dengan seekor kambing, tapi dapat diniatkan dan mencukupi untuk semua anggota keluarga.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.