Skip to main content

Bagaimana Hukum Donor dan Cek Gula Darah dalam Keadaan Berpuasa?

Pengecekan gula darah dengan mengambil sampel darah dari jari, dapat dianalogikan (dikiaskan) dengan bekam (canthuk, Jawa), yaitu mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh dengan cara menghisapnya dari kulit yang dilukai. Dalam keadaan berpuasa melakukan bekam ada 2 arus pendapat yang berbeda. Pertama, golongan jumhur/mayoritas ulama fiqih (Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah) menyatakan, bahwa berbekam tidak membatalkan puasa. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Bukhariy dari Ibnu Abbas RA yang maknanya: «Rasulullah SAW pernah berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa; dan beliaupun pernah berbekam dalam keadaan ihram».

Kedua, golongan Hanabilah (ulama pengikut madzhab Hanbaliy) berpendapat, bahwa berbekam itu membatalkan puasa, baik yang membekam maupun yang dibekam. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Turmudziy dari Rafi’ bin Khadij RA yang maknanya: «Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam itu». Golongan Hanabilah beranggapan, bahwa hadis ini lebih kuat sehingga menasakh (menghapus) ketentuan hukum yang ada pada hadis pertama tersebut.

Dengan demikian pengecekan gula darah (dengan mengambil sampel darah dari jari) itu bila mengacu pada pendapat jumhur, maka tidak membatalkan puasa. Tetapi bila bersandar pada pendapat fuqaha’ Hanabilah, maka pengecekan gula darah itu membatalkan puasa. Menyikapi perbedaan ini dapat ditempuh perspektif ”jalan tengah”, yaitu jika pengecekan gula darah tersebut memang urgen (mendesak) terkait keharusan pemeriksaan kesehatan, maka diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa. Tetapi jika sekedar mencoba atau iseng periksa gula darah yang tidak ada urgensinya, maka hukumnya makruh (tidak disukai), walaupun tetap tidak membatalkan puasa. Hal ini di samping didasarkan pada kecenderungan untuk memilih pendapat jumhur, juga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Bukhariy di atas tetap lebih kuat dan sahih dibanding hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Turmudziy tersebut.

Dalam kaitan ini patut juga disinggung tentang donor darah dalam keadaan berpuasa. Walaupun ada kemiripan dengan pengecekan gula darah dan bekam dalam hal pengeluaran darahnya, tetapi karena efek yang timbul dari donor darah kemungkinan besar lebih berat dan boleh jadi menyebabkan melemahkan kondisi fisik yang bersangkutan, maka donor darah dalam keadaan berpuasa tidak diperbolehkan dan dapat membatalkan puasa. Bagi yang ingin bersedekah dengan mendonorkan darahnya di bulan Ramadan, dianjurkan untuk melakukannya pada malam hari saja, agar terhindar dari risiko batalnya puasa dan insya Allah tetap mendapat berkah Ramadan.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.