Skip to main content

Bagaimana Hukum dan Tempat Shalat Iedul Fitri?

Menurut fuqaha’ Malikiyah (para ulama ahli fiqih madzhab Malikiy) dan fuqaha’ Syafi’iyah (para ulama ahli fiqih madzhab Syafi’iy) hukum shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha) adalah sunnah mu’akkadah (amat dianjurkan) karena walaupun Nabi SAW selalu mengerjakannya, tetapi beliau menyatakan dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim, bahwa yang wajib hanyalah shalat lima waktu (shubuh, dhuhur, ‘ashar, maghrib dan ‘isya’).


Jadi shalat ‘Ied tidak wajib walau beliau selalu mengerjakannya. Sedang menurut fuqaha’ Hanafiyah (para ulama ahli fiqih madzhab Hanafiy) dan fuqaha’ Hanabilah (para ulama ahli fiqih madzhab Hanbaliy) hukum shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha) adalah wajib karena Nabi SAW selalu mengerjakan dan tidak pernah meninggalkannya.

Terlepas dari apapun hukum shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha), kita harus memotivasi diri untuk selalu mengerjakannya sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW dan para sahabat. Lebih dari itu, shalat ‘Iedul Fithriy adalah shalat kembali kepada fitrah sebagai catatan sejarah perjalanan hidup kita untuk melangkah ke depan dimulai dari posisi yang sudah kembali kepada fitrah kita.

Mengenai pelaksanaan shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha), apakah di masjid atau di tanah lapang (pada zaman Nabi dan para sahabat, bahkan sampai sekarang di Arab disebut Mushalla), ada dua arus pendapat, yaitu:

Jumhur fuqaha’ (mayoritas ahli fiqih Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah) menyatakan, bahwa shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha) yang paling utama dikerjakan di Mushalla (tanah terbuka yang layak untuk tempat shalat), dengan alasan bahwa Rasulullah SAW hampir selalu mengerjakannya di Mushalla (hadis sahih riwayat al-Bukhariy dan Muslim) padahal waktu itu sudah ada Masjid Nabawiy. Hanya sekali beliau mengerjakannya di masjid karena hujan (hadis sahih riwayat Abu Daud). Tetapi kalau di Makkah yang paling utama adalah dikerjakan di Masjidil Haram mengingat kedudukan dan kemuliaan Masjidil Haram.  

Sedangkan menurut fuqaha’ Syafi’iyah, shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha) itu lebih utama dikerjakan di masjid selagi masjid tersebut dapat menampung jamaahnya, karena bagaimanapun juga masjid itu jelas lebih mulia kedudukannya daripada tanah lapang. Adapun Rasulullah SAW mengerjakannya di Mushalla, maka hal itu lebih disebabkan pertimbangan praktis, bahwa karena peserta shalat ‘Iedul Fithriy dan ‘Iedul Adlha jauh lebih banyak (karena melibatkan anak-anak dan perempuan), agar tidak berdesakan, maka dilaksanakan saja di Mushalla. Hal ini terbukti ketika terjadi hujan, beliau melaksanakannya di Masjid Nabawiy. Ini sama sekali bukan dalam rangka berteduh mengingat waktu itu Masjid Nabawiy tidak beratap kecuali sedikit di bagian depan saja; melainkan karena jumlah jamaahnya sedikit, karena hujan itu tadi. 

Jadi kalau ditanyakan mana yang benar, jawabnya benar semua. Yang tidak benar adalah mereka yang tidak shalat Iedul Fithriy atau ‘Iedul Adlha tanpa udzur, atau mereka yang shalat di suatu tempat dengan menyalahkan yang shalat di tempat lain.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.