Skip to main content

Bagaimana Cara Mendapatkan Lailatul Qadr Bagi Perempuan Haid?

Sungguh Allah SWT itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Tahu mana hamba yang taat dan mana yang berbuat ma’shiyat (dosa), mana yang layak diberi berkah Lailatul Qadr dan mana yang tidak. Biar seseorang perempuan itu melewati malam Lailatul Qadr (tepatnya malam Qadr atau Lailatul Qadr saja) tidak sedang berhalangan (haidl atau nifas), tetapi jika atas “pertimbangan” tertentu menurut Allah tidak layak diberi berkah Lailatul Qadr, maka ya tidak akan mendapatkannya. Misalnya karena track record amaliahnya selama ini tidak baik. Sebaliknya, walaupun seseorang perempuan itu melewati malam Lailatul Qadr dalam keadaan haidl atau nifas, tetapi karena track record amaliahnya selama ini selalu baik, sehingga Allah SWT berkenan memberikan kepadanya berkah Lailatul Qadr, maka ya akan mendapatkannya.

Mengenai amalan apa yang dapat dikalikan seribu bulan, tentu logika-matematisnya ya semua amal kebaikan, seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir, membaca shalawat, istighfar, mengajar, sedekah dll. Tetapi apakah hitungannya matematis begitu? Memang hampir semua muballigh (juru da’wah) memotivasi ummat dengan memaknai kalimat “seribu bulan” itu secara harfiah dan matematis, yang berarti sepadan dengan 83 tahun lebih, sehingga andai seseorang shalat pada malam Lailatul Qadr, maka pahalanya sepadan dengan shalat selama 83 tahun lebih. Uraian demikian tidak salah bahkan lebih menarik, namun ada sisi lemahnya, pertama: karena kata “seribu bulan” dalam ayat tersebut sesungguhnya bersifat majaziy (metaforis) yang bermaksud menyangatkan dan bukan hitungan matematis; apalagi didahului dengan kata khairun (lebih baik), maka nilai berkah malam itu tidak sebatas seribu bulan secara matematis, melainkan tak terhingga dan tak berbatas (terserah perkenan Allah SWT saja), kedua: memotivasi ummat dengan besaran pahala tidak selalu positif karena dapat menimbulkan mental profit oriented dan mengurangi jiwa pengabdian, akibatnya bisa terjadi seseorang hanya semangat beribadah di malam Lailatul Qadr dan drop di malam-malam yang lain.

Bagaiamana nasib perempuan yang berhalangan pada malam Lailatul Qadr, apa yang bisa dan harus dilakukan agar mendapatkan berkahnya? Bagi yang tidak berhalangan, Rasulullah SAW memberi teladan dalam mencari berkah Lailatul Qadr dengan meningkatkan amalan di sepuluh malam terakhir Ramadan dengan i‘tikaf (diam di masjid untuk beribadah), shalat sunnat dan berdoa (allaahumma innaka ‘afuwwun tuchibbul ‘afwa fa‘fu ‘annii / yaa Allah, sungguh  Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku). Beliau juga mengajak segenap keluarga melakukan hal yang sama, bahkan di saat-saat demikian beliau tidak mengumpuli isteri.

Bagi perempuan yang berhalangan tentunya tidak boleh shalat, membaca al-Qur’an atau i’tikaf. Karena itu lakukanlah segala bentuk kebaikan lain yang diperbolehkan bagi perempuan berhalangan, seperti banyak berdzikir, berdoa, membaca shalawat, istighfar, bersedekah dll. Moga-moga dengan demikian kita diperkenankan oleh Allah SWT untuk mendapatkan berkah Lailatul Qadr. Aamiin.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.