Skip to main content

Adakah Amalan Pengganti I’tikaf Bagi yang Berhalangan?

I’tikaf adalah menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencari ridla-Nya. Inilah sebenarnya cara (mengheningkan cipta) yang benar versi Islam, sedangkan mengheningkan cipta dalam upacara-upacara itu setahu saya berasal dari ajaran agama lain. Karena itu kalau dalam suatu upacara kita diajak mengheningkan cipta, ya kita manfaatkan saja untuk berdzikir kepada Allah SWT, tanpa berniat mengikuti ajaran agama lain.

Adapun lama minimal i’tikaf, para ulama berbeda pendapat. Menurut ulama Hanafiyah (pengikut madzhab Hanafiy) adalah beberapa saat asal sudah dapat dianggap berdiam di masjid, menurut ulama Malikiyah (pengikut madzhab Malikiy) adalah sehari semalam, sedang menurut ulama Syafi’iyah (pengikut madzhab Syafi’iy) dan Hanabilah (pengikut madzhab Hanbaliy) adalah sesaat, asal lebih lama dari thuma’ninah dalam ruku’, misalnya. Waktunya boleh kapan saja, siang atau malam, pagi ataupun sore. Orang yang beri’tikaf tidak harus berdiam di satu tempat melainkan boleh bergerak dan berpindah tempat manapun asal masih di dalam masjid. Dalam keadaan khusus, seperti wudlu, kencing atau keperluan mendesak lainnya, orang yang beri’tikaf diperbolehkan keluar masjid sebentar (secukupnya), kemudian masuk masjid lagi tanpa memperbarui niat.

Mengenai tempat i’tikaf,  menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah harus di masjid jami’ (besar), tetapi menurut ulama Malikiyah dan Syafi’iyah boleh di masjid mana saja (besar atau kecil). Menurut ulama Hanafiyah, perempuan boleh i’tikaf di mushalla rumahnya, sedang menurut jumhur (Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah) i’tikaf hanya boleh dilakukan di masjid.

Amalan-amalan dalam i’tikaf antara lain adalah shalat sunnah, membaca al-Qur’an, berdzikir dan amalan-amalan baik lainnya dengan ketentuan tidak menimbulkan gangguan pada orang lain. Mengeraskan suara di masjid apalagi dengan pengeras suara, baik berupa bacaan al-Qur’an, dzikir maupun percakapan menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah hukumnya haram jika dapat mengganggu orang yang sedang shalat dan beri’tikaf  (hadis riwayat Ahmad).

Penjelasan di atas dapat difahami, bahwa sebenarnya kita tidak perlu mencari amalan pengganti i’tikaf, karena kalau tidak bisa beri’tikaf siang hari ya malamnya, kalau tidak bisa pagi hari ya sorenya, kalau tidak bisa lama ya sebentar saja, kalau tidak bisa pada hari/jam kerja ya di luar hari/jam kerja. Memang benar, bahwa makin lama beri’tikaf kemungkinan pahalanya lebih besar, tetapi kalau demi i’tikaf lalu ekonomi keluarga, pendidikan anak atau kebutuhan pokok lain terbengkalai, jelas pahala yang diperoleh dari i’tikaf tidak cukup untuk «menebus dosa» keteledoran tanggung jawab rumah tangga tersebut.

Bagi mereka yang bisa beri’tikaf terus-menerus sehari-semalam, atau bahkan sepuluh hari-sepuluh malam, kita ucapkan selamat asal tidak menyebabkan kewajibannya teledor. Sedang kepada yang tidak bisa seperti itu, jangan kecil hati. Laksanakan i’tikaf sesuai keadaan dan kemampuan masing-masing, dengan niat yang ikhlas dan hati yang tulus kepada-Nya. Allah SWT Maha Memaklumi keadaan masing-masing hamba-Nya, sehingga tidak berkenan memberi beban di luar kemampuan wajar mereka (Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa…, al-Baqarah 286). Hanya saja untuk sepuluh hari terakhir Ramadan, sebaiknya diusahakan dapat beri’tikaf setiap malam, lama-watunya sesuai kemampuan masing-masing, karena siapa tahu di antara malam-malam itu terdapat lailatul qadr, sehingga kita mendapat berkahnya. Aamiin.

Wallaahu a’lam.

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.