Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2015

Bagaimana Hukum Kurban Urunan di Sekolah

Kurban pada awalnya merupakan syari’at yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, sebagaimana firman Allah SWT (yang maknanya): ”Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar» (surat as-Shaaffaat 107). Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk meneruskan syari’at tersebut setiap Idul Adha.


Hukum Kurban On-Line

Masalah hukum kurban secara on-line ini mirip dengan hukum transaksi-transaksi (akad-akad) on-line lainnya, lebih terkait dengan kejujuran dan amanah, trust and accountability. Juga mirip dengan hukum naqluz zakaah (pengiriman dana zakat ke tempat lain) karena kemungkinan besar ”daging” kurban akan dikirim ke tempat lain yang dianggap lebih membutuhkan.


Hukum Penggunaan Mesin Penyembelihan Hewan

Salah satu ajaran Islam yang menimbulkan kekaguman bagi masyarakat kesehatan adalah tentang keharusan disembelihnya binatang darat sebelum dikonsumsi, karena dengan cara itu orang yang mengkonsumsinya dapat terhindar dari bermacam penyakit sehingga lebih terjamin kesehatannya. Para fuqaha’ sepakat, bahwa binatang yang halal dikonsumsi pun, tidak akan halal jika tidak disembelih sesuai ajaran Islam. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala...” (al-Maa-idah 3). 

Hukum Memberikan Daging Kurban pada Orang Kaya dan Non-Muslim

Mengenai peruntukan daging kurban (yang dimaksud di sisni bukan hanya daging, tapi semua bagian dari binatang kurban), terdapat perbedaan di antara para fuqaha’ (ulama ahli fiqih). Fuqaha’ Hanafiyyah memandang sunnah daging kurban itu dibagi tiga: sepertiga dimakan pemiliknya, sepertiga dihadiahkan untuk teman-teman akrab meskipun mereka orang kaya, dan sepertiganya lagi disedekahkan kepada orang-orang miskin.


Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.

Hukum Haji dengan Kartu Kredit

Pengguna kartu kredit itu dapat dianggap sebagai orang yang diberi peluang dan kepercayaan untuk berhutang. Jadi kartu kredit itu dapat dikatakan kartu ”untuk hutang”, sehingga seseorang yang berhaji dengan menggunakan kartu kredit sama artinya dengan orang yang berhaji dengan biaya hutang.

Bagaimana Hukum dan Tempat Shalat Iedul Fitri?

Menurut fuqaha’ Malikiyah (para ulama ahli fiqih madzhab Malikiy) dan fuqaha’ Syafi’iyah (para ulama ahli fiqih madzhab Syafi’iy) hukum shalat ‘Iedul Fithriy (dan ‘Iedul Adlha) adalah sunnah mu’akkadah (amat dianjurkan) karena walaupun Nabi SAW selalu mengerjakannya, tetapi beliau menyatakan dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim, bahwa yang wajib hanyalah shalat lima waktu (shubuh, dhuhur, ‘ashar, maghrib dan ‘isya’).


Hukum Zakat Fitrah Orang Meninggal di Bulan Ramadan?

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayar oleh setiap muslim setelah bulan Ramadan berakhir, baik laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, orang merdeka maupun hamba sahaya. Zakat fitrah disyariatkan untuk menyucikan jiwa orang-orang yang berpuasa, sekaligus memberi makan orang-orang miskin dan mencukupi kebutuhan mereka di hari raya (Idul Fitriy). Hal ini didasarkan pada makna hadis Nabi SAW: ”Zakat fitrah difardlukan sebagai penyuci jiwa orang-orang yang berpuasa dari perkataan bohong dan jelek, dan memberi makan orang-orang miskin...” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Abbas).  

Berapa Kadar Zakat Fitrah, Zakat Profesi?

Berapa Kadar Zakat Fitrah, Zakat Profesi, Dan Bolehkah Zakat Dikirim Ke Daerah Lain?

Zakat fitrah adalah zakat diri dalam rangka membersihkan diri kita. Orang kaya atau miskin (selagi masih punya kelebihan harta dari kebutuhan hidup sehari pada tanggal  1 Syawwal) semua terkena kewajiban zakat fitrah. Tentang kadar/ketentuan berapa yang harus dikeluarkan untuk 1 orang, terus terang saya tidak setuju kalau kadar zakat fitrah itu 2,5 kg beras sebagaimana difahami umumnya masyarakat kita.

Bagaimana Hukum Menonton Tayangan Erotis Di Siang Ramadan?

Puasa itu menahan diri dari semua tindakan yang membatalkan sejak dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Hal-hal yang membatalkan puasa adalah segala pemenuhan kebutuhan biologis, seperti makan, minum, merokok, onani, berhubungan kelamin pria-wanita dan segala tindakan sengaja yang menyebabkan masuknya suatu benda melalui rongga tubuh langsung ke dalam rongga perut.


Bagaimana Hukumnya Wanita Berpuasa Memakai Pakaian Mini?

Dalam perspektif fiqih formal (wilayah hukum), puasa hanya batal kalau melakukan hal-hal yang membatalkannya, seperti: makan, minum, merokok, onani, berhubungan kelamin pria-wanita dan segala tindakan sengaja yang menyebabkan masuknya suatu benda melalui rongga tubuh langsung ke dalam rongga perut. Dengan demikian memakai pakaian minim, baik atas kemauan sendiri atau atas perintah atasan, walau hukumnya haram dan berdosa, tetap tidak membatalkan puasa.

Bagaimana Hukum Berkumur dan Sikat Gigi Waktu Puasa?

Berkumur pada waktu puasa (tentunya di siang hari), baik dalam rangka berwudlu maupun untuk menghilangkan rasa “pahit” di mulut hukumnya boleh (mubah) bila cara berkumur dan frekuensinya wajar (tidak berlebihan dan tidak terlalu sering). Tapi jika dilakukan secara berlebihan sehingga dikhawatirkan masuk kerongkongan secara tak sengaja dan/atau dilakukan terlalu sering sampai mengesankan ada keinginan menikmati “sisa kumuran”, maka hukumnya makruh (tidak disukai, tidak baik). Namun jika sampai air kumurnya tertelan (walau tidak sengaja) dan tetap dilakukan berulang-ulang, maka hukumnya haram (dilarang, berdosa) dan puasanya batal.

Bagaimana Hukum Donor dan Cek Gula Darah dalam Keadaan Berpuasa?

Pengecekan gula darah dengan mengambil sampel darah dari jari, dapat dianalogikan (dikiaskan) dengan bekam (canthuk, Jawa), yaitu mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh dengan cara menghisapnya dari kulit yang dilukai. Dalam keadaan berpuasa melakukan bekam ada 2 arus pendapat yang berbeda. Pertama, golongan jumhur/mayoritas ulama fiqih (Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah) menyatakan, bahwa berbekam tidak membatalkan puasa. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Bukhariy dari Ibnu Abbas RA yang maknanya: «Rasulullah SAW pernah berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa; dan beliaupun pernah berbekam dalam keadaan ihram».

Bagaimana Hukum Mencicipi Masakan Disaat Berpuasa?

Dalam kehidupan sehari-hari, siapa pun, di mana pun dan kapan pun tidak akan bisa terlepas dari makanan dan minuman, dan siapa pun pasti menginginkan makanan yang lezat dan minuman yang segar, sesuai dengan seleranya. Kalau makanan, tentu ingin yang tidak tawar tapi juga jangan terlalu asin, tidak hambar tapi juga jangan terlalu pedas; sedang kalau minuman, tentu yang tidak masam dan tidak terlalu manis, dan seterusnya, pokoknya harus pas dengan seleranya. Apalagi orang yang berpuasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tentu tidak ingin kecewa dengan makanan yang kurang asin atau terlalu asin, terlalu pedas atau hambar, juga minuman yang kurang manis atau terlalu manis, dan seterusnya. Semuanya harus serba pas sesuai selera.

Bagaimana Cara Mendapatkan Lailatul Qadr Bagi Perempuan Haid?

Sungguh Allah SWT itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Tahu mana hamba yang taat dan mana yang berbuat ma’shiyat (dosa), mana yang layak diberi berkah Lailatul Qadr dan mana yang tidak. Biar seseorang perempuan itu melewati malam Lailatul Qadr (tepatnya malam Qadr atau Lailatul Qadr saja) tidak sedang berhalangan (haidl atau nifas), tetapi jika atas “pertimbangan” tertentu menurut Allah tidak layak diberi berkah Lailatul Qadr, maka ya tidak akan mendapatkannya. Misalnya karena track record amaliahnya selama ini tidak baik. Sebaliknya, walaupun seseorang perempuan itu melewati malam Lailatul Qadr dalam keadaan haidl atau nifas, tetapi karena track record amaliahnya selama ini selalu baik, sehingga Allah SWT berkenan memberikan kepadanya berkah Lailatul Qadr, maka ya akan mendapatkannya.

Adakah Amalan Pengganti I’tikaf Bagi yang Berhalangan?

I’tikaf adalah menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencari ridla-Nya. Inilah sebenarnya cara (mengheningkan cipta) yang benar versi Islam, sedangkan mengheningkan cipta dalam upacara-upacara itu setahu saya berasal dari ajaran agama lain. Karena itu kalau dalam suatu upacara kita diajak mengheningkan cipta, ya kita manfaatkan saja untuk berdzikir kepada Allah SWT, tanpa berniat mengikuti ajaran agama lain.

Iktikaf, Haruskah di Masjid?

I’tikaaf (iktikaf) secara bahasa berarti tinggal dan menetap di suatu tempat dengan tujuan tertentu. Sedang dalam istilah fiqih, i’tikaaf adalah tinggal/menetap di masjid dalam waktu tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hukum i’tikaaf adalah wajib bagi yang bernadzar untuk ber- i’tikaaf; sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi mereka yang sudah dewasa dan sehat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan; dan sunnah (dianjurkan) bagi mereka yang melakukannya di setiap waktu selain sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.


Bagaimana Puasanya Orang Sakit, Pekerja Berat dan Olahragawan?

Prinsip yang harus difahami oleh semua umat Islam adalah, bahwa ajaran Islam itu secara normal pasti terpikul dan dapat dilaksanakan oleh umatnya. Allah SWT berfirman dalam akhir surat al-Baqarah (ayat 286) yang maknanya: (…Allah tidak memberi beban (kewajiban) kepada siapapun melainkan sesuai kemampuannya…). Karena itu dalam hal kuat/boleh tidaknya berpuasa, kita harus berkonsultasi ke dokter muslim/ah.


Bagaimana Hukum Mendahulukan Puasa Sunnah Daripada Puasa Qadla Ramadan?

Banyak sekali puasa sunnah yang dituntunkan Rasulullah SAW, baik puasa Senin-Kamis, puasa 6 hari bulan Syawwal, puasa 3 hari tiap tengah bulan Hijriyah, puasa hari Arafah, puasa hari ’Asyura’, maupun puasa bulan Sya’ban, karena pada hari-hari tersebut Rasulullah SAW juga banyak berpuasa. Bahkan untuk bulan Sya’ban beliau berpuasa lebih banyak dibanding di bulan apapun selain bulan Ramadan.


Bagaimana Qadla’ Puasa Bagi Wanita Hamil atau Menyusui?

Hutang apapun harus segera dibayar manakala sudah memungkinkan, apalagi hutang puasa yang masa pembayarannya cukup panjang (hampir 11 bulan), sehingga pada bulan Ramadan berikutnya sudah tidak punya tanggungan lagi.

Bagaimana Hukum Meng-Qadla Puasa Bagi Yang Sudah Meninggal?

Puasa Ramadan merupakan kewajiban personal (fardlu ’ain) semua orang Islam yang sudah baligh (dewasa menurut agama), yang jika berhalangan boleh tidak berpuasa tetapi wajib mengganti (meng-qadla’) di hari yang lain, dan jika tidak mampu maka harus membayar tebusan kecil (fidyah) dengan memberi makan seorang miskin (untuk 1 hari tidak berpuasa harus ditebus dengan 7,5 ons beras atau uang senilai itu). Allah SWT berfirman (yang maknanya): “…maka barangsiapa di antara kamu yang sakit atau sedang bepergian (lalu berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…" (al-Baqarah 184).


Bagaimana Hukum Puasa Ramadan Lupa Mandi Besar?

Suami isteri yang pada malam Ramadan berhubungan badan, atau pun seorang pemuda yang ”mimpi basah”, ataupun wanita yang berhenti haid pada malam hari, tapi entah lupa ataupun karena menunda-nunda, baru mandi keramas (mandi besar/mandi jinabat) setelah shubuh dalam keadaan sedang berpuasa, maka hal ini tidak berpengaruh pada sahnya puasa, puasanya tetap sah, karena dalam perspektif fiqih formal (hukum) memang tidak ada ketentuan, bahwa orang yang berpuasa itu harus suci dari hadas besar. Juga tidak mengurangi pahala puasanya, karena memang tidak ada ketentuan puasa yang dilanggar.

Bagaimana Hukumnya Orang Sakit Maag Tapi Nekad Puasa?

Islam itu agama yang mudah, ajaran-ajarannya terpikul dan terjangkau oleh kemampuan pemeluknya secara normal dan dalam keadaan wajar. Ada ajaran yang berlaku bagi semua pemeluknya (seperti  syahadat dan shalat), ada yang berlaku bagi yang mampu saja (seperti zakat dan haji), ada pula keringanan (rukhsah) bagi yang mengalami kendala pelaksanaannya (seperti puasa bagi yang sakit, boleh tidak berpuasa dan meng-qadla atau membayar fidyah).