Skip to main content

Sisir untuk Biksu

Kita terkadang dihadapkan pada suatu kondisi yang menuntut kreativitas tanpa batas. Ada kalanya kita dipaksa untuk mencoba berpikir berbeda dan keluar dari kotak yang selama ini membelenggu. Pemaksaan ini tidak dimaksudkan untuk mnyengsarakan kita tetapi lebih untuk mengeluarkan diri kita dari zona nyaman dan mengekploitasi seluruh kekuatan diri untuk mencapai kemajuan.

Di China, ada sebuah pabrik sisir kayu baru berdiri. Tentu saja dibutuhkan banyak orang untuk menempati posisi-posisi tertentu. Maka direkrutlah ratusan orang untuk menjadi pegawainya. Diantara mereka yang direkrut ada satu orang yang nantinya akan dipilih menjadi kepala cabang. Setelah melalui tahapan seleksi yang tak begitu mudah, tersaringlah tiga orang yang berhak untuk mengikuti ujian atau tes terakhir.

Ketiga orang tersebut kemudian dipanggil dan diberikan tantangan. Siapa yang dapat menjual sisir kayu dalam jangka waktu sehari dan memperoleh penjualan terbanyaklah yang nantinya akan menduduki jabatan sebagai kepala cabang. Hanya, mereka bertiga harus menjual sisir-sisir kayu tersebut kepada para biksu di sebuah kuil di atas bukit. Tentu saja hal ini agak mustahil, tapi mau tidak mau ketiga orang tersebut harus melaksanakannya untuk dapat menempati kursi kepala cabang.

Sehari terlah berlalu dan saatnya mereka memberikan laporan kepada kepala pabrik atas hasil usaha mereka dalam menjual sisir kayu kepada para biksu. Orang pertama memberikan laporan jika ia hanya dapat menjual sebuah sisir saja.

“Mengapa Anda hanya dapat menjual satu buah sisir? Apa kendala yang menghalangi Anda untuk menjual lebih banyak”, kepala pabrik bertanya kepada orang tersebut.

“Maaf, Pak, saya telah berupaya semampu saya untuk menjual sisir-sisir tersebut. Hanya satu sisir yang berhasil saya jual. Hal itu disebabkan oleh tidak masuk akalnya perintah Bapak. Bagaimana mungkin menjual sisir kepada para biksu yang tidak mempunyai rambut? Untung saja ada salah satu biksu yang merasa kasihan melihat saya, jadi ia beli satu sisir tersebut”, terang orang itu kepada kepala pabrik.

Kepala pabrik hanya manggut-manggut tanpa reaksi mendengar semua keterangan orang pertama itu. Yang kedua kemudian dipanggil untuk masuk ke ruangan kepala pabrik dan membeberkan hasil penjualannya. Dengan wajah sumringah orang kedua itu kemudian berbicara, “Lapor, Pak, syukur sekali saya dapat melaksanakan tugas dari Bapak dengan baik sehingga dapat menjual sisir sebanyak 30 biji kepada para biksu”.

Mendengar laporan ini kepala pabrik tersenyum, ia merasa girang akan hasil yang diperoleh anak buahnya itu. iapun kemudian bertanya tentang trik atau cara yang dipakai oleh lelaki kedua itu sehingga dapat menjual sisir sebanyak 30 buah kepada para biksu.

Dengan sangat percaya diri orang kedua bercerita, “Saya menjual sisir-sisir itu tidak kepada para biksu, Pak, melainkan kepada para pengunjung kuil. Kita semuanya tahu, bahwa kuil tersebut terletak di dataran tinggi sedangkan untuk dapat mencapai kuil tersebut pengunjung hanya diperkenankan jalan kaki. Hal itu mengakibatkan rambut para pengunjung menjadi awut-awutan tak tertata karena hembusan angina yang lumayan kencang. Nah, itulah yang saya jadikan alasan kepada para pengunjung ketika menawarkan sisir-sisir kayu tadi. Hasilnya, sisir saya laku 30 buah”.

Sebuah cara yang jitu. Meskipun orang kedua tidak menjual sisirnya kepada para biksu, tapi ia telah menemukan cara yang amat baik untuk menjual sisir-sisirnya. Sekarang giliran orang ketiga yang dipanggil untuk melapor.

Orang ketiga masuk dan kemudian memberikan laporan, “Selamat pagi, Pak. Saya ingin melaporkan hasil tugas yang dibebankan kepada saya. Syukur sekali saya telah berhasil menjual seluruh sisir yang Bapak bawakan kepada saya untuk dijual”.

“A.. apa??? Seluruh sisir?! Berarti 500 sisir telah Anda jual habis dalam waktu sehari???”, kepala pabrik bertanya dengan setengah berteriak, seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Dengan tersenyum halus orang ketiga itu mengangguk dan melanjutkan kata-katanya, “Ya, Pak, saya telah berhasil menjual 500 sisir dalam waktu sehari kepada para biksu di kuil”.

Dengan sangat antusias kepala pabrik kemudian bertanya kepada orang ketiga itu tentang cara atau trik yang ia pakai sehingga dapat menjual 500 buah sisir dalam waktu sehari. Masih dengan tersenyum, orang ketiga itu berkata, “Yang pertama kali saya lakukan begitu sampai di kuil adalah menemui kepala kuil. Saya katakan kepada beliau, bahwa kuil tersebut sangat terkenal dan sering dikunjungi, apakah tidak ada keinginan di hati beliau untuk memberikan kenang-kenangan kepada para pengunjung yang telah bersusah payah mendaki bukit dan bersembahyang? Kata saya kemudian, dengan memberikan kenang-kenangan, berarti pihak kuil telah melakukan jalan dharma dengan membahagiakan orang. Lalu saya katakan lagi, kenang-kenangan itu tidak harus mahal. Bisa sesuatu yang amat sederhana dan alami, sisir kayu contohnya. Untuk menjadikannya sebagai cinderamata yang khas dari kuil tersebut, sisir kayu itu dapat saja disablon atau ditulisi dengan nama kuil atau pesan-pesan bijak dari kitab suci”.

Demikianlah. Ketiga orang tadi telah menunjukkan cara kepada kita untuk menjual sisir kayu kepada para biksu. Cara-cara yang dipakai menjadi indikator kekreativitasan mereka dalam mengelola permasalahan yang dihadapi. Semakin kreatif, maka semakin tinggi pula hasil yang diperoleh. Semakin malas mengkreatifkan pikiran, maka makin rendah pula hasil yang diperoleh.

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.