Skip to main content

SIAPAKAH YANG PALING BERHAK MENJADI IMAM SHALAT?

Dalam banyak hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Turmudziy, an-Nasa’iy dan lain-lain, Rasulullah SAW memang menetapkan siapa yang paling berhak menjadi imam shalat secara berurutan, yaitu yang paling aqra’ (ada dua penafsiran: paling menguasai ilmu agama atau paling bagus bacaan al-Qur’annya), kemudian yang paling mengerti as-Sunnah, kemudian yang paling dulu hijrah, kemudian yang paling dulu memeluk Islam, baru kemudian yang paling tua.


Namun dalam tataran praktis muncul berbagai kemungkinan lain, misalnya bacaan al-Qur’annya memang paling baik tapi kalah alim (menguasai ilmu agama) dengan yang bacaan al-Qur’annya kurang baik, atau sebenarnya bacaan al-Qur’annya paling baik dan dia juga paling alim, tapi terkenal fasiq (banyak berbuat dosa), dan seterusnya.

Oleh karena itu para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat dalam pengurutan mereka yang paling berhak menjadi imam shalat. Menurut madzhab Hanafiy yang paling berhak menjadi imam adalah: yang paling menguasai ketentuan shalat, kemudian yang paling bagus bacaan al-Qur’annya, kemudian yang paling menguasai as-Sunnah, kemudian yang paling wara’ (menjaga diri dari yang haram dan syubhat), kemudian yang paling tua, kemudian yang paling baik akhlaqnya. Jika semuanya sama, maka diundi atau divoting berdasarkan suara terbanyak dari jamaah.

Menurut madzhab Malikiy yang paling berhak menjadi imam adalah: yang paling menguasai ketentuan shalat, kemudian yang paling menguasai as-Sunnah, kemudian yang paling bagus bacaan al-Qur’annya, kemudian yang paling tekun ibadahnya, kemudian yang paling dulu memeluk Islam, kemudian yang paling tinggi martabatnya, kemudian yang paling baik akhlaqnya, kemudian yang paling bagus pakaiannya. Jika semua sama, maka diutamakan yang paling wara’, tapi jika masih sama maka diundi.

Menurut madzhab Syafi’iy yang paling berhak menjadi imam adalah: yang paling menguasai ilmu fiqih, kemudian yang paling bagus bacaan al-Qur’annya, kemudian yang paling wara’, kemudian yang paling dulu hijrah, kemudian yang paling dulu memeluk Islam, kemudian yang paling terhormat, kemudian yang paling baik treck recordnya, kemudian yang paling bersih pakaiannya, kemudian yang paling bersih badannya, kemudian yang paling bagus suaranya, kemudian yang paling gagah, kemudian yang paling tampan, kemudian yang sudah menikah. Jika semua sama, maka diundi.

Menurut madzhab Hanbaliy yang paling berhak menjadi imam adalah: yang paling menguasai ilmu agama dan paling bagus bacaan al-Qur’annya, kemudian yang paling bagus bacaan al-Qur’annya saja, kemudian yang paling menguasai ketentuan shalat, kemudian yang paling tua, kemudian yang paling terhormat, kemudian yang paling dulu hijrah, kemudian yang paling bertaqwa dan wara’. Jika semua sama, maka diundi.

Jawaban tentang hal ini sengaja diperdetail, agar semua menyadari betapa Rasulullah SAW dan para ulama menaruh perhatian amat besar pada siapa yang paling berhak menjadi imam shalat. Begitu pentingnya posisi imam, maka ditetapkan kriteria yang amat ketat dan detail seperti tersebut di atas, agar jangan sampai menjadi perebutan hanya demi gengsi. Semua orang mestinya bisa mengukur diri sendiri seberapa kemampuannya untuk menjadi imam dibanding yang lain, tetapi ini memang amat sulit dilakukan.

Dalam keadaan masjid yang tidak ada imam tetapnya (walau mestinya tidak boleh terjadi), maka siapapun yang akan shalat di situ berhak menjadi imam. Jika shalat jamaah sudah berlangsung dan diimami oleh orang tak dikenal, kemudian diketahui ternyata dia kurang fasich (bagus bacaannya), maka dilihat dulu bagaimana bacaan Fatichahnya. Jika bacaan Fatichahnya lumayan benar (walau surat yang lain «kacau»), maka masih boleh bermakmum kepadanya. Tetapi jika bacaan Fatichahnya juga «rusak», maka silakan niat mufaraqah (niat memisahkan diri) tetapi tetap di tempat dan dalam gerakan yang sama dengan imam agar tidak menimbulkan persoalan.

Dalam hal ini ada prinsip yang harus dipegangi oleh imam dan makmum. Rasulullah SAW berpesan kepada para imam agar memperhatikan keadaan makmum, dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh banyak ahli hadis termasuk al-Bukhariy dan Muslim yang maknanya: «Siapapun di antara kalian yang menjadi imam shalat, maka mudahkan dan ringankan makmum, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, tua, dan punya keperluan (yang urgen)». Dan kepada para makmum Rasulullah SAW berpesan agar selalu mengikuti imam, dalam hadis mutawatir (aklamatif: kesahihannya setingkat al-Qur’an) yang antara lain diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim yang maknanya: « Sungguh, imam itu ditunjuk untuk diikuti. Karena itu jangan kalian (makmum) berbeda dengannya. Bahkan jika dia (imam) shalat dengan duduk, maka kalian (makmum) juga harus mengikutinya shalat dengan duduk».

Dari dua pesan Rasulullah SAW tersebut dapat difahami, bahwa:

Para imam hendaknya lebih memperhatikan kepentingan makmum, lebih mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada makmum, berupa apa yang mareka senangi dan apa yang tidak mereka senangi, dan jangan ada imam yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Selagi tidak terkait dengan perbuatan ma’shiyat (dosa) atau hal-hal yang membatalkan shalat, hendaknya imam berlapang dada menuruti kebiasaan makmum. Jika di suatu masyarakat diketahui, bahwa mayoritas mereka tidak biasa qunut dalam shalat shubuh, maka imam jangan «memaksakan» untuk ber-qunut. Sebaliknya bila diketahui, bahwa mereka terbiasa qunut, maka imam jangan «alergi» untuk memimpin doa qunut dalam shalat shubuh, karena qunut bukanlah perbuatan ma’shiyat dan tidak membatalkan shalat.

Para makmum harus menyadari posisi dan statusnya sebagai makmum, artinya orang yang mengikuti imam dalam shalat. Kalau sudah niat bermakmum, ya harus rela mengikuti segala gerak-gerik imam dalam shalat tersebut, selagi imam tidak melakukan perbuatan ma’shiyat (dosa) atau hal-hal yang membatalkan shalat. Jangan ada makmum yang ngotot dengan kemauannya sendiri, karena hal ini jelas membatalkan shalat dan bahkan berdosa. Jika dalam shalat shubuh misalnya, imamnya ber-qunut, semua makmum ya harus rela ikut ber-qunut walaupun biasanya dia tidak ber-qunut. Sebaliknya bila imam tidak ber-qunut, maka jangan ada makmum yang ngotot ber-qunut sendiri walaupun biasanya dia ber-qunut.

Jadi tidak perlu ada imam yang sebenarnya tidak biasa ber-qunut, tapi demi toleransi pada makmum yang ber-qunut dia diam memberi kesempatan makmum untuk ber-qunut sendiri-sendiri. Yang baik dan benar, kalau imam tahu makmumnya terbiasa ber-qunut, ya silakan imam ber-qunut saja agar diikuti makmum, walaupun sebenarnya imam sendiri tidak biasa ber-qunut. Tidak benar kalau di Masjidil Haram Makkah atau di Masjid Nabawiy Madinah imam memberi kesempatan kepada makmum untuk ber-qunut. Yang benar adalah memang kebiasaan shalat di sana i’tidalnya (berdiri setelah ruku’) lama, sehingga makmum yang ingin ber-qunut ada cukup waktu.

Wallaahu a’lam.

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.