Skip to main content

Kejujuran Membawa Kemuliaan

Ada seorang milyarder atau mega jutawan uzur. Usianya sudah mendekati puncak. Sayang, di usia yang seperti itu ia tak mempunyai sanak keluarga atau keturunan. Si mega jutawan itu bingung, bagaimana caranya ia akan mewariskan seluruh kerajaan bisnisnya? Kepada siapa? Pikir punya pikir, akhirnya ia membuat sebuah keputusan krusial. Sebuah putusan yang mungkin akan sangat baik, tapi juga bisa membawa dampak yang sangat buruk.

Beberapa bulan setelah memutuskan untuk mundur saja dari urusan duniawi sang mega jutawan itu kemudian menggelar semacam audisi untuk menentukan siapa orang yang cocok mewarisi seluruh hartanya yang berjumlah trilyunan. Pengumuman audisi ini bukan hanya diberitakan oleh media lokal, namun juga sampai ke media internasional. Efeknya, jutaan orang mendaftar untuk mengikuti audisi itu. Audisi tersebut tak hanya diikuti oleh para mahasiswa, buruh, pegawai, wiraswastawan, petani, bahkan anak-anak yang belum lulus sekolah pun ikut. Benar-benar sebuah mega audisi.

Singkat cerita dari seluruh peserta audisi yang ikut tersaringlah lima orang yang dapat mengikuti ujian terakhir audisi. Mereka berlima telah berjuang mati-matian untuk dapat mencapai etape itu. Ada sekitar 10 tahapan yang harus mereka lewati sebelum sampai ke tahap terakhir itu. Untuk yang terakhir, tahap ini akan langsung dipegang oleh sang mega jutawan. Kelima peserta itupun dipanggil oleh sang mega jutawan untuk mengikuti ujian saringan terakhir di rumah beliau. Setelah mereka datang, maka sang mega jutawan kemudian memberikan masing-masing kepada mereka sebuah pot bunga kecil dan sebutir biji kacang kedelai. Kata beliau, ujian yang terakhir ini adalah untuk melatih kesabaran dan ketelatenan, sehingga para peserta diminta untuk merawat biji kacang kedelai itu. Siapa yang nanti dapat menumbuhkan biji kacang kedelai itu dengan sempurna, maka ialah yang menjadi pewaris semua harta sang mega jutawan. Untuk ujian terakhir ini, tiap-tiap peserta diberi waktu dua bulan. Selepas itu, maka mereka harus berkumpul kembali di rumah sang mega jutawan untuk memperlihatkan hasil ketelatenan mereka.

Waktu seakan ingin bersicepat menemukan sang pewaris, sehingga dua bulan terasa hanya seperti dua hari. Di saat yang ditentukan itulah kelima calon pewaris datang sambil membawa pot bunga dimana biji kedelai tumbuh. Masing-masing membawa pot itu dengan sangat hati-hati, seolah pot itu adalah harta paling berharga yang mereka punyai. Setelah menunggu agak lama, akhirnya satu demi satu peserta diijinkan masuk ke kamar kerja sang mega jutawan untuk memperlihatkan hasil pekerjaan mereka.

Peserta pertama masuk dengan wajah sumringah. Ia yakin usahanya adalah yang terbaik. Biji kedelainya tumbuh dengan sempurna sesuai dengan harapan. Namun, ternyata mata si mega jutawan jeli sehingga ketika dihadapkannya dapat diketahui, bahwa salah satu batangnya ada yang sedikit keropos dimakan ulat. Peserta kedua masuk membawa potnya. Setelah diteliti, ternyata beberapa daun biji kedelai ada yang robek. Peserta berikutnya ternyata membawa hasil yang lebih bagus dari yang pertama. Peserta keempat biji kedelainya tumbuh paling bagus sehingga sang mega jutawan memuji ketelatenannya dalam merawat biji kedelai itu. Dan yang terakhir benar-benar di luar perkiraan, sebab ia hanya membawa pot tanpa ada tumbuhan bertengger di dalamnya.

Setelah melihat keseluruhan hasil ketelatenan kelima peserta sang mega jutawan kemudian mempersilakan kelimanya untuk pulang. Beliau mengatakan, bahwa nama si pewaris akan diumumkan dua hari kemudian melalui media, baik cetak maupun elektronik.

Waktu dua hari penantian sungguh terasa menyiksa. Kelima peserta harap-harap cemas menunggu hasil pengumuman. Namun, diantara mereka berlima ada satu orang yang tak terlalu cemas, yaitu peserta keempat. Ia yakin, ialah yang akan mendapatkan warisan. Indikatornya dapat dilihat dari pujian sang mega jutawan ketika melihat hasil pekerjaannya.

L’homme propose, Dieu dispose. Manusia berusaha dan barandai-andai, namun Tuhan jualah yang menentukan. Dua hari kemudian diumumkan, bahwa sang pewaris dari seluruh harta kekayaan sang mega jutawan adalah peserta nomor lima. Sontak pengumuman itu mengagetkan peserta yang kalah. Bagaimana mungkin pot kosong, hanya berisi tanah, dapat mengalahkan biji kedelai yang tumbuh subur? Akhirnya karena merasa tak terima dan ingin mengklarifikasi kelima peserta tadi datang menemui sang mega jutawan. Mereka ingin tahu kebenaran berita itu sekaligus ingin meminta penegasan. Beruntung, pada saat yang sama peserta kelima juga sedang menuju ke tempat yang sama.

 Sesampainya di rumah sang mega jutawan peserta yang gagal menyampaikan kata hati mereka berkaitan dengan hasil pengumuman di media. Inti dari semua apa yang mereka sampaikan adalah meminta penjelasan mengapa harus nomor lima yang menang. Bukankah ia tak mampu menumbuhkan biji kedelai?

Sang mega jutawan meladeni pertanyaan dan protes mereka dengan santai. Setelah semuanya selesai disampaikan ia tak langsung menjawab. Si lelaki kaya itu meminta peserta kelima untuk bercerita tentang proses yang dia lalui ketika menanam biji kedelai. Si pemenang bercerita, bahwa ia sudah berusaha menanam biji kedelai dengan baik. Ia mencoba memberi pupuk dan menyirami biji kedelai itu dengan teratur, namun, memang nasibnya, sampai batas waktu yang ditentukan, ia tak berhasil menumbuhkan biji kedelai itu. Ia hanya pasrah kalau memang warisan itu bukan rejekinya, toh ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Di samping itu, ia memohon maaf karena tak mampu menumbuhkan biji kedelai sesuai dengan tantangan sang mega jutawan.

“Nah, kalian tahu mengapa lelaki kelima ini menang?”, tanya sang mega jutawan. Tanpa menunggu jawaban dari yang ditanya, sang mega jutawan kemudian melanjutkan kata-katanya, “Sebab, ialah yang paling jujur di antara kalian”.

Keempat peserta yang kurang beruntung otomatis kecut wajah mereka begitu mendengar kata-kata itu. Kekecutan itu berubah menjadi kepenasaranan dan ketersinggungan. Dengan mengatakan hal itu, berarti sang mega jutawan menganggap kalau mereka berempat telah berbuat curang atau berbohong. Merekapun kemudian menyampaikan keberatan dan rasa tak terima mereka kepada sang mega jutawan.

Mendengar keberatan dan ketakterimaan mereka berempat si lelaki kaya itu tersenyum. Dengan suara sedikit ditekankan ia berkata, “Memang, kalian telah bertindak curang pada ujian terkhir ini. Kalian tahu, sebelum saya memberikan biji kedelai tersebut kepada kalian, biji itu terlebih dahulu sudah saya rebus, saya oven, dan saya keringkan, jadi sel-sel di dalamnya sudah mati. Dari sel yang mati, kalian tak dapat menumbuhkaan biji kedelai, begitu seharusnya”.

Mendengar hal ini, keempat peserta memerah wajahnya. Bukan karena marah, tapi sebab terlalu malu melihat kecurangan mereka akhirnya diketahui. Ya, mereka berempat setelah merasa bahwa biji yang mereka tanam tak hidup kemudian mengganti biji itu. Mereka hanya berpikir tentang hasil yang akan mereka dapatkan kalau sampai biji pengganti itu tumbuh dengan sempurna. Mereka tak memikirkan hal lainnya, termasuk kejujuran dalam berkompetisi.

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.