Skip to main content

Hukumnya Shalat Sambil Membawa Mush-Haf Al-Qur’an?

Teks perintah dalam al-Qur’an: “...Faqra-uu maa tayassara minal Qur-aan” (al-Muzzammil 20, maka bacalah apa yang mudah dari al-Qur’an), maupun hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Muslim dan lain-lain tentang keharusan membaca al-Qur’an (menurut jumhur: al-Fatichah) adalah memang berbunyi bacalah atau membaca, bukan menghafal. Namun dalam praktik shalat Nabi SAW ternyata menghafal (karena beliau dikehendaki Allah SWT tidak pandai baca-tulis agar tidak ada tuduhan bahwa al-Qur’an itu karangan beliau), begitu juga para sahabat dan generasi-generasi sesudahnya yang memang selalu ada yang hafal al-Qur’an.


Sehingga waktu itu tidak dijumpai imam shalat atau orang shalat yang dalam shalatnya membaca al-Qur’an binnadhar (dengan melihat tulisan), melainkan menghafal (bilghaib: mengucapkan bunyi tanpa melihat tulisannya) ayat-ayat al-Qur’an, di samping saat itu juga belum ada mush-haf al-Qur’an yang memungkinkan untuk dibawa/dibaca dalam shalat.

Sekarang walaupun penghafal al-Quran masih tergolong banyak, tetapi rata-rata kualitas hafalan mereka tidak sebaik para chuffadh (penghafal al-Qur’an) masa lalu, sehingga tatkala menjadi imam shalat membutuhkan orang yang menyimak binnadhar di belakangnya, dan ini justru cara terbaik agar bila salah atau lupa segera ada yang membetulkan/mengingatkannya. Mereka yang tidak hafal-pun banyak yang ingin membaca al-Qur’an dalam shalat, sehingga harus memegang dan membukanya saat shalat.

Oleh karena itu, berhubung teks perintahnya adalah membaca dan lagi tidak ada larangan orang shalat memegang/membuka mush-haf al-Qur’an saat shalat, maka  memegang, membuka mush-haf dan membaca al-Qur’an sewaktu shalat diperbolehkan. Hal yang demikian ini (shalat sambil membawa/membaca al-Qur’an) juga dapat kita saksikan di berbagai negara, bahkan di Saudi Arabia (di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawiy Madinah). Jika hal itu dilarang, maka pasti sudah dirazia oleh petugas, tapi ternyata saat ini tidak razia terhadap mereka yang shalat sambil membawa/membaca al-Qur’an.

Dalam perspektif ushul fiqih hal ini dapat dikatagorikan sebagai ijmaa’ sukuutiy (kesepakatan secara diam-diam) dan dapat dilandaskan pada kaidah: “al-‘Aadah muchakkamah” (kebiasaan baik itu dapat dijadikan pertimbangan untuk menetapkan hukum), dan “al-Ashlu fil asy-yaa’ al-ibaachah chattaa yadullad daliilu ‘alat tachriim” (pada dasarnya hukum asal segala sesuatu itu adalah boleh, selagi tidak ada dalil yang melarangnya. Karena itulah di MAS (Masjid al-Akbar Surabaya), di samping disediakan mush-haf al-Qur’an ukuran besar di depan imam (walaupun beberapa imam hafal al-Qur’an) agar dibaca sewaktu shalat, juga di belakangnya ada petugas khusus yang menyimaknya dengan membawa/membuka mush-haf al-Qur’an kecil.

Wallaahu a’lam.

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.