Skip to main content

Hukum Qunut Shubuh dan Dzikir Bersama Sesudah Salat?

Perdebatan tentang qunut shubuh ini sudah amat lama dan dalam fiqih madzhab empat telah mengkristal menjadi dua, yaitu: dalam madzhab Hanafiy dan Hanbaliy tidak perlu ada qunut dalam shalat shubuh, dengan alasan hadis shahih dari Anas bin Malik RA bahwa: ”Rasulullah SAW pernah berqunut setelah ruku’ selama sebulan untuk mendoakan kebinasaan sebagian bangsa Arab kemudian beliau meninggalkannya”. (HR al-Bukhariy dan Muslim).

Tetapi sebenarnya hadis ini tidak tepat dijadikan dalil penafian qunut shubuh, karena banyak hadis shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW masih melakukan qunut dalam salat fardlu setelah berhenti dari qunut untuk mendoakan kebinasaan orang-orang kafir yang berkhianat dengan membunuh 70 orang ”guru ngaji” utusan Nabi. Hadis di atas lebih tepat dijadikan dasar bagi qunut nazilah, bukan untuk qunut shubuh.

Sedang madzhab Malikiy dan Syafi’iy menganjurkan qunut dalam shalat shubuh, berdasarkan hadis shahih riwayat Ahmad dari Anas bin Malik: ”Adapun dalam shalat shubuh Rasulullah SAW selalu berqunut hingga meninggal dunia”.

Bahkan madzhab Syafi’iy menganggap qunut shubuh sebagai sunnah ab’adl (bagian tak terpisahkan dari shalat shubuh) yang harus diganti dengan sujud sahwiy bila lupa tidak melakukannya, walaupun sampai saat ini tidak ditemukan dalil yang mendasarinya. Ada pendapat yang mengatakan, bahwa hal ini diqiaskan dengan orang yang lupa duduk tachiyyat awal. Tetapi sungguh amat musykil, karena imam Syafi’iy sendiri keberatan dengan penerapan qiyas dalam hal ibadah machdlah, apalagi juga tidak ditemukan adanya kesamaan illat (sebab) antara qunut dengan tachiyyat awal.

Secara historis, shalat 5 waktu itu selama 6 tahun dilaksanakan Nabi SAW dan para sahabat tanpa ada qunutnya. Kemudian akibat peristiwa pembunuhan para guru ngaji oleh orang-orang kafir (yang populer dengan peristiwa Bi’r Ma’unah), maka Nabi SAW berqunut selama 1 bulan mendoakan kehancuran orang-orang kafir pembunuh tersebut. Kemudian setelah itu sampai Nabi SAW wafat (kira-kira juga selama 6 tahun) para ulama berselisih pendapat apakah Nabi SAW qunut atau tidak dalam shalat shubuh.

Tapi yang pasti, qunut itu bukan bid’ah, karena Nabi SAW pernah melaksanakannya, dan juga tidak membatalkan shalat shubuh jika tidak dilaksanakan. Jadi kita boleh qunut dan boleh juga tidak qunut dalam shalat shubuh. Tetapi jika mayoritas jamaah menghendaki qunut, maka imam harus melakukannya dan semua makmum harus mengikutinya. Sebaliknya jika mayoritas jamaah tidak menghendaki qunut, maka imam tidak perlu ngotot melaksanakan qunut.

Mengenai dzikir bersama sesudah salat berjamaah, banyak sekali ”amaliyah” (tindakan/perilaku) Rasulullah SAW yang diceritakan oleh para sahabat, bahwa setiap usai shalat berjamaah beliau membaca dzikir/doa tertentu. Ini artinya Rasulullah SAW membaca bacaan-bacaan tertentu itu dengan suara yang dapat didengar oleh para sahabat. Memang ada beberapa hadis yang mana Rasulullah SAW “menyuruh” para sahabat membaca ayat Kursi atau tasbih, tahmid dan takbir 33 kali dan lain-lain setiap selesai shalat lima waktu. Tetapi itu tidak berarti dapat menafikan “hadis-hadis fi’liyyah (perbuatan)” Rasulullah SAW tentang cara dan bacaan dzikir beliau sesudah shalat. Dengan demikian, orang yang melaksanakan dzikir bersama sesudah shalat berjamaah itu ada dasarnya dan dapat dikatagorikan sebagai perbuatan baik, serta bukan bid’ah. Bahkan ada sebuah hadis shahih, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): “Manakala ada sekelompok orang berkumpul untuk berdzikir dalam suatu majelis dzikir, maka para malaikat pasti mengerumuni mereka, rahmat Allah pasti melingkupi mereka, dan Allah SWT bangga terhadap mereka” (HR. Muslim). Namun yang tetap harus diperhatikan adalah, bahwa dzikir bersama tersebut harus dilaksanakan sedemikian rupa, dengan suara yang tidak terlalu keras dan jangan sampai mengakibatkan terganggunya orang yang masih meneruskan shalat karena masbuq ataupun mereka yang shalat sunnah.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.