Skip to main content

Hukum Menjamak Shalat Karena Banjir?

Menjamak shalat adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan dalam satu waktu tetapi masing-masing tetap dikerjakan secara terpisah (masing-masing tetap dalam jumlah rakaat yang sempurna dengan dua kali salam). Menjamak shalat ini ada dua macam, yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir. Jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan di waktu shalat yang lebih awal (dhuhur atau maghrib), sedangkan jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan di waktu yang akhir (asar atau isya’).


Shalat yang boleh dijamak (dikumpulkan) hanyalah shalat dhuhur dengan asar, dan shalat maghrib dengan isya. Tidak boleh menjamak antara shalat asar dengan shalat maghrib, juga tidak boleh antara shalat shubuh dengan shalat apapun.

Jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) membolehkan dilakukannya jamak taqdim adalah didasarkan pada makna hadis yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, bahwa: “Pada waktu perang Tabuk, apabila Rasulullah SAW akan berangkat sesudah masuk waktu maghrib, maka beliau mengerjakan shalat isya dijamak dengan maghrib” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudziy dan al-Hakim). Sedangkan alasan dibolehkannya jamak ta’khir adalah makna hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa: “Apabila Rasulullah SAW melakukan perjalanan sebelum matahari tergelincir (belum masuk waktu dhuhur), maka beliau tunda shalat dhuhur ke waktu asar, kemudian beliau menjamaknya (dhuhur dengan asar). Tetapi jika beliau berangkat setelah matahari tergelincir (masuk waktu dhuhur), maka beliau shalat dhuhur dulu baru berangkat” (HR al-Bukhariy dan Muslim).

Sementara itu, fuqaha’ Hanafiyah (pengikut madzhab Hanafiy) tidak membolehkan jamak shalat karena shalat itu sudah ditentukan waktunya masing-masing, sebagaimana firman Allah SWT (yang maknanya): “…Sungguh shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (an-Nisaa’ 103), kecuali ketika sedang menunaikan ibadah haji di Arafah dan Muzdalifah, karena Rasulullah SAW melakukannya (HR al-Bukhariy dan Muslim).

Mengenai sebab-sebab diperbolehkannya menjamak shalat, para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat. Fuqaha’ Malikiyah (pengikut madzhab Malikiy) berpendapat, bahwa hal-hal yang membolehkan menjamak shalat itu ada enam, yaitu: bepergian (jauh atau dekat), hujan, sakit, wuquf di Arafah, berada di Muzdalifah, dan berada dalam keadaan yang sangat gelap. Sedangkan menurut fuqaha’ Syafi’iyah (pengikut madzhab Syafi’iy) hal-hal yang membolehkan menjamak shalat adalah: bepergian jauh (90 km lebih), hujan lebat, sedang melaksanakan ibadah haji di Arafah dan Muzdalifah. Adapun fuqaha’ Hanabilah (pengikut madzhab Hanbaliy) berpendapat, bahwa hal-hal yang memperbolehkan menjamak shalat itu ada tujuh macam, yakni: bepergian jauh (70 km lebih), sakit, ibu yang menyusui, tidak mampu bersuci (wudlu atau tayammum) setiap waktu shalat, tidak bisa mengetahui waktu shalat, wanita yang istichadlah (mengeluarkan darah terus menerus), dan/atau ada udzur (halangan), seperti khawatir keselamatan diri atau hartanya, atau pekerja berat yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Hal ini didasarkan pada makna hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa: “Rasulullah SAW shalat bersama kami di Madinah dengan menjamak shalat dhuhur dengan asar dan shalat maghrib dengan isya” (HR Muslim), kemudian Muslim menambahnya dengan “bukan karena takut dan bukan karena bepergian”.

Bagaimana halnya jika dalam keadaan banjir, bolehkah melaksanakan shalat secara jamak? Berpijak pada uraian di atas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada prinsipnya shalat lima waktu itu sama sekali tidak boleh ditinggalkan, apapun alasannya. Namun jika karena sesuatu hal tidak dapat mengerjakannya pada waktu yang telah ditentukan, maka jalan terbaik adalah menjamaknya, dhuhur dengan asar dan/atau maghrib dengan isya.

Hal-hal yang dianggap dapat menjadi sebab bolehnya seseorang menjamak shalat ternyata antara fuqaha’ satu dengan yang lain berbeda, karena perbedaan interpretasi mereka terhadap dalil dan perbedaan persepsi mereka terhadap keadaan yang dianggap pantas menjadi penyebab bolehnya jamak shalat. Ini artinya, bisa saja ditambahkan faktor lain sejenis yang memang benar-benar menyebabkan sulitnya seseorang mengerjakan shalat pada waktunya.

Oleh karena itu dapat ditegaskan, bahwa semua jenis udzur (halangan), membolehkan kita untuk menjamak shalat, termasuk banjir pada level yang secara umum menyulitkan seseorang melaksanakan shalat pada masing-masing waktu yang telah ditentukan, asal halangan tersebut bukan berupa kemaksiatan atau pelanggaran ajaran agama, dan harus tetap disertai hati yang taat pada Allah SWT. Hal ini didasarkan  pada makna hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas di atas, bahwa: “Rasulullah SAW shalat bersama kami di Madinah dengan menjamak shalat dhuhur dengan asar dan shalat maghrib dengan isya” (HR Muslim), kemudian Muslim menambahnya dengan “bukan karena takut dan bukan karena bepergian”, yang berarti karena adanya udzur tertentu.

Banjir dalam level tertentu, memang pantas diberi rukhshah (keringanan) untuk menjamak shalat, karena banyak kondisi tidak normal yang membuat mereka yang kena banjir tidak mudah melaksanakan shalat pada masing-masing waktunya, seperti menjaga harta yang dikuatirkan hanyut atau hilang, menjaga anak-anak agar tidak malakukan hal-hal yang membahayakan, berwudlu dengan air darurat yang harus dihemat, atau dengan air banjir yang ”kotor” sehingga ferekuensinya tidak ingin terlalu sering karena agak jijik walaupun suci dan sah, dan sebagainya.

Bagaimanapun juga cara jamak ini jauh lebih baik daripada cara yang dilakukan sebagian orang dengan “menghutang” shalat dan meng-qadla’ (mengganti) nya pada waktu yang lain. Hal ini jelas tanpa dasar argumen apalagi dalil apapun yang dapat dibenarkan.

Perlu diketahui, bahwa orang yang diperbolehkan menjamak shalat tidak secara otomatis diperbolehkan pula meng-qashar shalat (yakni melaksanakan shalat yang mestinya 4 rakaat menjadi 2 rakaat) sebab diperbolehkannya meng-qashar shalat hanyalah kalau sedang bepergian sejauh kira-kira 90 km, atau sedang wuquf di Arafah dan mabit di Muzdalifah. Hal ini selain didasarkan pada surat an-Nisa’ 101, juga disandarkan pada riwayat Abdullah bin Umar: ”Saya pernah mendampingi Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, maka beliau kalau shalat tidak pernah lebih dari 2 rakaat. Demikian pula Abu bakar, Umar dan Utsman” (al-Bukhariy dan Muslim). Jadi kalau karena sakit atau amat sibuk yang darurat, maka hanya diperbolehkan menjamak saja, tidak diperbolehkan meng-qasharnya. Dengan demikian, orang yang boleh menjamak shalat tidak selalu boleh meng-qasharnya, tetapi orang yang boleh meng-qashar shalat selalu boleh menjamaknya.

Wallaahu a’lam



Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.