Skip to main content

HUKUM MENG-QADLA SHALAT BAGI YANG PINGSAN ATAU KOMA?

Yang dimaksud meng-qadla’ shalat adalah melaksanakan shalat di luar waktunya, bukan karena jama’. Para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa kewajiban shalat tidak boleh ditinggalkan sama sekali tanpa udzur syar’iy (halangan yang dibenarkan hukum Islam). Sedang ‘udzurnya shalat hanyalah dua macam, yaitu lupa dan/atau tertidur.


Karena itu, menurut fuqaha’ empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) setiap shalat yang tertinggal harus dilaksanakan di waktu lain, atau di-qadla. Hal ini didasarkan pada hadis shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan an-Nasa’iy, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): ”...Utang kepada Allah SWT lebih berhak dibayar daripada utang pada sesama manusia”. Sekalipun hadis ini berkaitan dengan masalah “utang” haji, tetapi berlaku juga bagi orang yang mempunyai utang shalat, karena haji dan shalat sama-sama ibadah kepada Allah SWT dan sama-sama rukun Islam. Alasan lain yang dikemukakan oleh para fuqaha’ adalah sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Jika tertinggal shalat salah seorang dari kamu atau lupa, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat, karena Allah SWT berfirman, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (HR. Muslim dari Anas RA). Juga sabda Nabi SAW yang maknanya: ”Siapa yang lupa mengerjakan shalat maka hendaklah dia meng-qadla’nya ketika ingat, tidak ada kafarat selain itu” (diriwayatkan oleh al-Bukhariy).

Tetapi bagi wanita yang haid/nifas tidak perlu meng-qadla shalat yang tertinggal selama masa haid/nifas. Ini semata-mata kemurahan dan dispensasi dari Rasulullah SAW agar tidak memberatkan wanita yang secara kodrati punya halangan yang cukup lama. Kalau mereka diharuskan meng-qadla, tentu amat memberatkan. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh al-Jama’ah (mayoritas ahli hadis) dari 'Aisyah RA, beliau berkata (yang maknanya): ”Dahulu pada zaman Rasulullah, jika kami haid diperintahkan mengqadla’ puasa, tetapi tidak diperintahkan mengqadla shalat”. Mengenai penyamaan nifas dengan haid ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Nifas itu seperti haid” (HR ad-Darimiy). Karena itu semua hukm yang berlaku pada haid juga berlaku pada nifas.

Bagaimana halnya dengan orang yang pingsan, atau yang sakit dan mengalami koma (hilang kesadaran dalam waktu lama)? Kalau orang yang pingsan, karena pada umumnya pingsan itu tidak berlangsung lama, maka hukumnya dapat disamakan dengan orang yang tidur/ketiduran, yakni wajib meng-qadla shalat ketika sudah siuman, jika memang ada shalat yang tertinggal selama pingsan. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis shahih yang cukup panjang, bahwa dalam suatu perjalanan malam yang amat melelahkan, Rasulullah SAW dan para sahabat tertidur pulas, baru terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi...maka Rasulullah SAW menyuruh Bilal mengumandangkan adzan. Kemudian beliau melaksanakan shalat sunat dua rakaat, lalu shalat subuh secara berjamaah dengan para sahabat sebagaimana yang biasa beliau lakukan (ketika tepat waktu)…Kemudian para sahabat saling berbisik: ”Apa kifarat yang harus kita lakukan atas kelalaian kita dalam salat?” Bisik-bisik tersebut terdengar Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: ”Bukankah aku adalah panutan kalian, sesungguhnya tidur itu bukanlah suatu kelalaian. Kelalaian adalah orang yang (sengaja) tidak mengerjakan salat sampai waktunya telah habis. Barang siapa yang berbuat demikian, bersegeralah melaksanakan salat saat ia ingat. Apabila keesokan harinya ia baru ingat, maka ia harus salat pada waktunya” (HR Muslim dari Abu Qatadah RA).

Tetapi bagi orang yang sakit dan mengalami koma, apalagi jika berlangsung dalam waktu yang lama, maka tentu amat berat jika diwajibkan meng-qadla shalat yang tertinggal selama masa koma tersebut, sedang wanita yang haid dalam beberapa waktu saja tidak diwajibkan meng-qadla-nya, begitu juga wanita yang nifas. Oleh karena itu, hukum orang yang koma lebih tepat di-qiyas-kan (disamakan) dengan hukum haid/nifas karena lamanya waktu, yakni tidak wajib meng-qadla shalat yang tertinggal selama masa koma, daf’an lilmasyaqqah (demi menghindari terjadinya kesulitan yang berat). Bahkan meski terkesan kurang etis, dalam perspektif fiqih, orang yang koma itu dapat juga di-qiyas-kan dengan orang gila, karena sama-sama tidak berfungsinya akal sehat yang merupakan syarat wajibnya shalat. Jadi orang yang sedang koma itu tidak berkewajiban melaksanakan shalat, sehingga kalau sudah sadar dia juga tidak berkewajiban meng-qadla-nya.  Wallaahu a’lam


Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.