Skip to main content

George Washington dan Balap Kuda

George Washington nama pemuda itu. Ia seorang pemuda yang cakap. Seperti teman-temannya yang lain pemuda Washington ini amat suka berkuda. Suatu hari, di wilayahnya, diadakan lomba balap kuda. Seperti yang kita bayangkan, pemuda Washington ini pun tak mau ketinggalan untuk mengikuti balapan itu. Balapan itu sendiri mengambil rute yang melewati perbukitan dan hutan. Seperti layaknya sebuah lomba, maka balap kuda itupun mempunyai sebuah aturan, bahwa tiap peserta yang terjatuh dari kudanya, maka otomatis ia didiskualifikasi.

Hari yang ditentukan datanglah. Berjejer-jejer kuda aneka warna di tempat yang telah ditentukan. Kuda-kuda itu seakan hendak memamerkan bentuk tubuhnya yang bagus dan surainya yang mengkilap. Seakan itu bukanlah lomba balap kuda, melainkan kontes kecantikan kuda. Di antara kuda-kuda itu, ada seekor kuda yang ditunggangi oleh pemuda Washington tadi. Kuda itu tampak mengais-ngaiskan kakinya. Bunyi ringkik halus yang keluar dari mulutnya menjadi penanda ketaksabarannya untuk segera memulai pacuan. Akhirnya, harapan sang kuda terkabul dengan diyunkannya bendera, pertanda pacu kuda di mulai. Maka, berlarilah kuda itu sekuat tenaga. Kuda-kuda lainpun berlaku serupa, sehingga asap tebal mengepul menguarkan debu yang tersepak oleh kaki-kaki kuda.

Pacuan kuda berlangsung dengan seru. Masing-masing kuda berusaha mengejar yang lainnya. Namun malang, ketika melewati beberapa tikungan beberapa kuda terjungkir, tak dapat menguasai dirinya. Para joki yang menumpang di atasnya terlempar. Ada yang bisa berguling, tapi tak sedikit yang terserak menerobos gerumbul onak berduri. Washington adalah salah satu joki yang lolos dari peristiwa naas itu. Ia sempat menghindar ketika salah satu kuda terguling menuju dirinya. Seakan tak ingin membuang waktu, ia pacu kudanya lebih cepat untuk menuju pada sebuah bukit yang dilebati pepohonan. Bukit itu adalah rute terakhir sebelum sampai garis finish.

Penduduk wilayah itu yang bergerombol di garis finish bersorak-sorai begitu melihat satu demi satu peserta lomba muncul dari tikungan bukit. Situasi menjadi makin ramai manakala kuda-kuda itu saling kebut dan berebut menempati posisi pertama. Dan lihatlah, seratus meter dari garis finish kuda Washington menyeruak di antara kuda yang lain, meninggalkan kepulan debu, seperti sebuah ejekan untuk lawannya. Lima puluh meter. Tiga puluh meter. Sepuluh meter. Akhirnya, kuda Washington menahbiskan dirinya menjadi yang tercepat di antara kuda-kuda lainnya. Para penonton bersorak melihat hal itu, seolah ingin menguatkan kebanggaan sang kuda yang telah melewati garis finish pertama kali.

Washington mencoba turun dari kudanya yang dikerubuti oleh para penonton. Ia ambil tali kekang kudanya dan menuju ke podium kemenangan. Penyelenggara secara resmi kemudian mengumumkan, bahwa pemenang pacu kuda tahun itu adalah Washington. Namun, tiba-tiba Washington mengacungkan tangannya. Dari raut wajahnya nampak ia tak berkenan dengan hal itu.

“Maaf, saya bukanlah pemenang lomba ini”, kata Washington setengah berteriak berupaya mengatasi kebisingan. Panyelenggara dan penontonpun terdiam. Mereka terhenyak. Bagaimana mungkin penglihatan mereka salah, bukankah yang pertama melewati garis finish tadi adalah kuda Washington? Lalu, mengapa ia mengatakan bukanlah dirinya yang memenangkan lomba pacu kuda itu? Atau, jangan-jangan Washington melakukan hal itu karena rasa rendah hati, sehingga ia tak mau menyombongkannya. Pertanyaan demi pertanyaan menggayuti hati penyelenggara dan para penonton. Akhirnya, karena tak tahan dengan kepenasaranan itu, ketua penyelenggara bertanya, “Apa yang kau maksud, Anak muda? Bukankah engkau yang pertama melewati finish? Berarti engkaulah pemenang lomba kali ini?”.

“Maaf, saya tak berhak mendapat kehormatan ini. Saya bukanlah sang pemenang”, kata Washington tegas.

Ketua penyelenggara berjalan mendekatinya dan bertanya, “Apa maksudmu?”

“Maksud saya, saya tidak pantas menjadi pemenang, karena kuda saya terjatuh ketika berada di kaki bukit tadi”, jawab Washington.

Ketua penyelenggara dan para penonton terperangah mendengar jawaban Washington. Bukankah Washington akan memperoleh hadiah dan kemasyuran jika ia tak mengatakan hal itu. Mengapa ia berkata jujur dan mengakui kalau sempat terjatuh?

Pertanyaan itu akhirnya terjawab. Washington berkata, bahwa ia tak mungkin membohongi dirinya untuk mengakui kemenangan itu. Walaupun ketika ia terjatuh tak seorangpun melihatnya, namun jika ia tak mengakuinya, maka berarti hal itu telah melanggar prinsip-prinsip yang selama ini dipegangnya. Baginya, hadiah dan kemasyuran tak sebanding jika harus disandingkan dengan kejujuran dan prinsip-prinsip hidupnya.

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.