Skip to main content

Cerita Pemuda dan Pedagang: 3 x 10.000 = 50.000

Seorang pemuda terpelajar berbelanja ke pasar. Ia berniat membeli alat pertukangan untuk memperbaiki sekolah dimana ia belajar.

“Maaf, Pak, alat ini berapa harganya?”, pemuda tersebut bertanya kepada penjual sambil menunjukkan barang yang diingininya.

“Yang Tuan ambil itu satunya seharga 10.000”, jawab penjual singkat sambil melirik barang yang ditunjukkan sang pemuda terpelajar itu.
Sang pemuda manggut-manggut. Ia kemudian merogoh sakunya. Sambil mengangsurkan uang tiga lembar ia berkata, “Ya sudah, jika begitu saya mengambil tiga”.

Begitu menerima uluran uang itu, sang penjual kemudian menghardik, “Eh, bagaimana Tuan bisa mengambil tiga barang dengan uang segini?! Uang ini masih kurang!”.

Sang pemuda tertegun sejenak. Ia menjadi bingung. Bukankah tadi dikatakan satu barang seharga 10.000, jadi jika ia mengambil tiga barang berarti ia harus membayar 30.000, tetapi mengapa ini disalahkan? Pemuda itu akhirnya protes.

Perdebatan pun akhirnya tak dapat dielakkan. Si pemuda tetap bersikukuh, bahwa 10.000 x 3 adalah 30.000 sedangkan si penjual beranggapan jika 10.000 x 3 adalah 50.000. Hampir saja perdebatan itu menjadi perkelahian. Untung saja ada yang melerai. Namun, walau seperti itu, tetap saja perang mulut di antara mereka berdua masih saja tak bisa dihentikan.

“Ya sudah, apa yang Anda inginkan?”, si pemuda terpelajar akhirnya meluruh. Ia paham, bahwa jika diterus-teruskan perdebatan ini tidak akan selesai. Daripada memperdebatkan sesuatu yang tidak penting, si pemuda akhirnya mengalah dan mempersilakan si penjual untuk mengungkapkan keinginannya.

Dengan nada sengit si penjual menjawab, “Saya ingin keadilan! Saya ingin kita bersama-sama menemui seseorang yang bijaksana untuk mengadukan masalah ini. Saya ingin Tuan terbuka matanya biar tak selalu merasa dirinya benar. Menurut saya, 3 x 10.000 = 50.000. Saya tak terima pendapat Tuan yang mengatakan hasilnya 30.000. Saya menantang Tuan! Jika saya benar, maka saya minta Tuan untuk mengakui kebodohan Tuan di pasar ini dan membayar barang saya 10 kali lipat dari semula. Jika saya salah, maka saya merelakan leher saya untuk dipotong. Lebih baik saya mati daripada menanggung malu karena hitungan saya meleset”.

Tantangan telah ditebar, maka tak ada kata lain selain menyanggupinya. Maka, mereka berdua kemudian mendatangi guru sang pemuda untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Sesampainya di rumah sang guru, mereka berdua pun kemudian bercerita. Termasuk di dalamnya tentang pertaruhan leher dan pembayaran berkali lipat tadi. Pada akhir cerita, mereka meminta sang guru untuk menjawab atau memberikan keterangan tentang pendapat siapa yang benar, apakah pendapatnya si penjual ataukah si pemuda.

Setelah sedikit menundukkan muka, merenung, sang guru kemudian menjawab, “Menurut saya, penjual inilah yang benar. Memang 3 x 10.000 = 50.000”.

Mendengar perkataan sang guru si penjual langsung saja meloncat dan bersorak. Ia merasa sangat senang, betapa apa yang diyakininya ternyata tidak salah. Tidak sia-sia ia menjadi orang terpintar di keluarganya. Selepas menghabiskan euforianya, si penjual kemudian menagih taruhan kepada si pemuda. Dengan sangat terpaksa si pemuda kemudian membayar taruhan tersebut dan menemani si penjual untuk kembali ke pasar dan memohon maaf kepada semuanya sambil mengakui betapa bodoh dirinya itu.

Sekembali dari pasar, si pemuda kemudian menemui gurunya. Ia merasa tidak puas dengan keputusan atau jawaban sang guru. Sebab, jawaban sang guru berbeda jauh dari apa yang selama ini ia terima ketika belajar.

“Mohon maaf, Guru, saya terpaksa kembali menghadap kemari”, pemuda tersebut membuka percakapan dengan permohonan maaf. “Saya hanya ingin menyampaikan rasa hati saya. Saya merasa tidak puas dengan keputusan Guru yang mengatakan, bahwa 3 x 10.000 adalah 50.000. Saya yakin Guru tahu, bahwa keputusan Guru memberikan jawaban tersebut tidak benar”.

Sang guru tersenyum dan dengan tenang ia menjawab, “Iya, memang, hasil yang kujawabkan pada pedagang itu memang tidak tepat, tetapi aku yakin keputusanku untuk memberikan jawaban yang salah itu tepat”.

“Maksudnya?”, sang pemuda bertanya dengan nada bingung.

Sekali lagi sang guru tersenyum, baru kemudian menjawab, “Maksudnya, aku mendasarkan jawabanku bukan pada benar salahnya tetapi pada manfaatnya. Jika aku mengatakan jawabanmu benar, maka resikonya ia akan kehilangan nyawanya. Hal ini bukan hanya berimplikasi kepadanya saja, tetapi juga pada keluarganya. Keluarganya akan kehilangan kepala rumah tangga sekaligus penyuplai keuangan keluarga. Di samping itu, keluarganya juga akan malu karena menyadari, bahwa anggapan mereka yang menyatakan jika penjual tersebut sebagai orang terpandai selama ini ternyata salah. Jika jawaban dia kubenarkan, maka kamu hanya rugi membayar 10 kali lipat. Hal itu tidak dapat dibandingkan dengan nyawa sang penjual. Di samping itu, pengakuan kebodohanmu juga akan membuat dirimu sadar, bahwa dirimu itu bukan apa-apa. Hal ini akan berimplikasi kepada kesadaran dan bangkitnya motivasi untuk terus belajar dan belajar”.

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.