Skip to main content

Cerita Inspiratif: Ketekunan Selalu Berbuah Manis

Dialah al Imam Ali bin Hamzah al Kisa’i, seorang ulama ahli NAHWU sekaligus ahli qiro’ah yang sangat handal, sehingga kepemimpinan ilmu nahwu dan ilmu qiroah berada di genggamannya.

Bagaimanakah kisahnya beliau memperoleh kedudukan demikian mulianya?.

Dikisahkan suatu ketika beliau pernah putus asa. Karena sudah lama dia belajar ilmu nahwu akan tetapi ia tidak faham sama sekali terhadap penjelasan guru. Padahal waktu yang ia curahkan tidaklah pendek dan ia pun tidak bermalas-malasan tatkala belajar. Karena merasa tidak mampu dan merasa otak yang dimilikinya sangat lemah sekali, ia pun kembali ke kampung halamannya “untuk apa belajar, lebih baik pulang. Belajar juga tidak paham sama sekali, padahal aku sudah bersungguh-sungguh dan menghabiskan waktu yang cukup lama”, demikianlah yang terngiang-ngiang dipikirannya. Qodarulloh, dia mampir di sebuah gua. Tiba-tiba matanya tertuju pada seekor semut yang sedang membawa makanan menuju ke atas.

Awal kalinya makanan tersebut terjatuh dari genggamannya, maka semut itu pun turun untuk mengambilnya, akan tetapi tatkala ia sampai di tempat yang lebih tinggi, makanan tersebut jatuh juga.

Akan tetapi semut tersebut tidaklah berputus asa. Ia pun mencoba lagi untuk ketiga kalinya, akan tetapi ia belum beruntung juga, makanan tersebut pun jatuh kembali tatkala sudah mencapai tempat yang lebih tinggi dari kejadian pertama dan kedua.

Demikianlah ia selalu berusaha untuk dapat membawa makanan tersebut sampai ke atas. Akhirnya usahanya tersebut tidaklah sia-sia, ia berhasil membawa makanannya ke atas pada kali ketujuhnya.

Nah tatkala melihat usaha seekor semut yang tidak mempunyai akal tersebut begitu menakjubkan, dan keuletannya yang tidak kenal putus asa, maka ia mulai berfikir dan merenung, “Kenapa saya kalah sama semut?”. Ia pun dapat mengambil faedah dari usaha semut tersebut, yaitu “keinginan terhadap sesuatu haruslah didapatkan dengan usaha keras dan keuletan yang tidak kenal lelah serta kesabaran yang tiada ujungnya.”

Setelah melihat kejadian demikian, ia langsung kembali ke madrosahnya yang baru saja ia tinggalkan. Kemudian ia benar-benar menguras segala tenaganya dan mencurahkan segala kesungguhannya hanya untuk ilmu. Usahanya tidak sia-sia, Allah ta’ala mengabulkan apa yang ia inginkan, ia menjadi seorang ulama yang paling ahli dalam bidang NAHWU pada waktu itu.

(Siyar A’lamin Nubala’ (8/81)

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.