Skip to main content

Bagaimana Hukum Shalat Sunnah Ada Yang Makmum?

Prinsip utama yang harus diketahui adalah bahwa pada dasarnya shalat fardlu 5 waktu itu harus dikerjakan secara berjamaah karena Rasulullah SAW dan para sahabat selalu mengerjakannya secara berjamaah. Bahkan beliau menggambarkan mereka yang tidak berjamaah tanpa udzur itu rumahnya layak dibakar.


Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): «Demi Dzat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh saya telah bersengaja hendak menyuruh supaya diambilkan kayu bakar, lalu dicarikanlah kayu bakar itu, kemudian saya menyuruh supaya shalat dilakukan dengan dibunyikan adzan dahulu, selanjutnya saya menyuruh seseorang untuk menjadi imam dalam shalat berjamaah itu, sedang saya sendiri pergi ke rumah orang-orang yang tidak ikut berjamaah untuk saya bakar saja rumah-rumah mereka itu» (Muttafaq ‘alaih)

«Kasus» seperti ini dengan berbagai macam variasinya sering terjadi di masyarakat, sering ditanyakan, dan sering pula saya jelaskan di berbagai forum, namun rupanya masih juga muncul dan dialami banyak pihak. Baiklah, karena itu akan saya jelaskan secara agak meluas agar «kasus» mirip yang lain bisa tercover.

Haram (berdosa, menurut Imam Ahmad bin Hanbal shalatnya juga tidak sah) mengadakan shalat berjamaah dalam satu masjid sementara pada saat yang sama sedang berlangsung shalat berjamaah yang diimami (dipimpin) oleh imam rawatib (imam tetap) masjid tersebut.

Makruh (tidak disukai) mengadakan shalat berjamaah dalam satu masjid setelah selesai shalat jamaah yang dipimpin imam rawatib, kecuali dalam keadaan «darurat» (terpaksa). Jadi kalau tidak terpaksa, harus diupayakan agar tidak terjadi shalat berjamaah secara berulang dalam satu masjid.

Menurut madzhab Hanafiy dan Malikiy, tidak boleh bermakmum (mengikuti shalat) pada orang yang melanjutkan/menyelesaikan rakaatnya dalam shalat berjamaah karena datang terlambat (masbuq). Tetapi menurut madzhab Syafi’iy dan Hanbaliy hal itu diperbolehkan, dan pendapat ini yang lebih kuat.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama (Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah), tidak sah orang yang shalat fardlu (wajib) bermakmum pada orang yang shalat sunnah. Sedang menurut ulama Syafi’iyah hal ini diperbolehkan asal dalam tatacara shalatnya sejenis (yang tidak sejenis misalnya shalat wajib 5 waktu dengan shalat gerhana yang tiap rakaatnya ada dua kali ruku’).

Menurut jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah), tidak sah orang yang shalat fardlu bermakmum pada orang yang shalat fardlu yang berbeda, misalnya orang yang shalat dhuhur bermakmum pada orang yang shalat ‘ashar. Sedang menurut ulama Syafi’iyah hal ini diperbolehkan.

Dengan demikian, pertanyaan di atas sudah terjawab, bahwa menurut jumhur ulama orang yang shalat fardlu tidak sah bermakmum pada orang yang shalat sunnah, tetapi menurut madzhab Syafi’iy diperbolehkan. Jika sebelumnya sudah sama-sama tahu bahwa shalatnya berbeda, maka tidak usah berjama’ah agar tidak timbul masalah (al-khuruuj minal khilaafi mustahabbun: menghindari beda pendapat itu lebih baik). Tetapi bila «makmum» tidak tahu yang akan diikuti itu shalat apa, sedangkan «imam» tidak mungkin mengatakan bahwa dia shalat sunnah, maka hal itu boleh dan sah, agar tidak timbul kesulitan (daf’an lilcharaj).

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.