Skip to main content

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Dilihat dari segi hukumnya, ada beberapa macam puasa, yakni:

Puasa wajib (wajib): yaitu puasa yang harus dikerjakan di bulan Ramadan, puasa kafarat, puasa fidyah dan puasa nadzar

Puasa sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan): yaitu puasa  yang hukumnya tidak wajib tapi selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan tidak pernah beliau tinggalkan, yakni puasa ’Asyura’ (tanggal 10 Mucharram) dan puasa bulan Sya’ban.

Puasa sunnah (dianjurkan): yaitu puasa yang hukumnya tidak wajib tetapi sering dilakukan oleh Rasulullah SAW, seperti puasa Senin-Kamis, puasa 6 hari bulan Syawwal, puasa 3 hari tengah bulan (tanggal 13, 14 dan 15 qamariyyah) dan lain lain.

Puasa naafilah/mustachabb (disukai): yaitu  puasa yang tidak ditentukan syariat, yang dilakukan tidak pada hari-hari wajib puasa, juga tidak pada hari-hari haram puasa.

Baik puasa waajib, sunnah mu’akkadah, sunnah, maupun naafilah/mustachabb, pelaksanaannya sama, yaitu menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Jadi yang berbeda hanya niatnya saja.

Bagaimana halnya dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang melakukan puasa ketika akan menghadapi tugas yang dianggap berat atau mempunyai hajat yang diyakini amat penting, padahal puasa tersebut tidak termasuk puasa-puasa yang ada tuntunan atau contohnya dari Rasulullah SAW. Misal, berpuasa ketika menghadapi ujian akhir semester, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan harapan dapat lulus dengan baik dan mendapat beasiswa.

Dalam kitab-kitab fiqih, hal ini tidak dibahas selain apa yang disebut puasa nafilah (versi madzhab Hanafiy dan Malikiy), itu pun amat minim penjelasannya dan tanpa ada keterangan dasar hukumnya. Dalam kitab-kitab sirah (sejarah hidup) juga tidak ditemukan adanya sahabat (generasi masa Nabi) atau tabi’in (generasi sesudah sahabat) yang melakukan puasa demikian.

Tetapi selagi pelaksanaannya sesuai dengan syariat Islam sebagaimana definisi puasa di atas dan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan tujuan untuk memperoleh kebaikan, maka puasa demikian diperbolehkan. Inilah yang disebut puasa mutlak. Hal ini didasarkan pada keumuman makna  hadis shahih, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh 70 musim” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khidriy RA). Kata ”fii sabiilillaah” (di jalan Allah) dalam hadis ini secara khusus memang biasa dimaknai peperangan dalam rangka membela agama Allah, tetapi secara umum dapat juga dimaknai sebagai perjuangan di jalan Allah, yang berarti mencakup segala kebaikan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Puasa mutlak ini juga dapat disandarkan pada keumuman puasa yang dianjurkan Rasulullah SAW kepada para pemuda yang belum mampu menikah. Rasulullah SAW bersabda (yang maknaya): ”Hai para pemuda, siapa pun di antara kalian yang sudah mampu, maka menikahlah, karena nikah itu lebih dapat menahan pandangan dan memelihara kehormatan. Tetapi bagi mereka yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa itu dapat menjadi perisai baginya” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Mas’ud RA). Sebagian ulama menamakan puasa ini dengan puasa a’zab (bujang). Kalau untuk menghindari bergejolaknya nafsu sex, kita dianjurkan berpuasa, maka tentu layak kalau untuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT juga dengan berpuasa.

Ada lagi sandaran lain puasa mutlak ini, yaitu puasa ”mendadaknya” Rasulullah SAW dan para sahabat ketika suatu pagi tidak menemukan sarapan. Diriwayatkan dari Aisyah RA, suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepadaku: ”Hai Aisyah, apakah kamu ada sesuatu (makanan)? Saya jawab: ya Rasulallah kami tidak punya sesuatu (makanan). Maka beliau bersabda: kalau begitu saya puasa” (HR Muslim). Juga diceritakan oleh Ummud Darda’, jika Abu Darda’ bertanya: ”Apa kamu ada makanan? Kalau dijawab: tidak ada,  maka dia mengatakan: kalau begitu saya berpuasa hari ini”. Hal yang demikian ini juga dilakukan oleh Abu Thalchah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Chudzaifah RA (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy).  Kalau mendadak berpuasa lantaran tidak ada makanan saja diperbolehkan, maka apatah lagi berpuasa demi kebaikan yang sudah diniatkan sejak malam hari, tentu lebih pantas diperbolehkan. Tentang jumlahnya berapa hari, tergantung kemampuan dan kebutuhannya, asal tidak sampai berpuasa setiap hari selama hidup, karena yang demikian itu dilarang Nabi SAW.

Yang juga penting diperhatikan adalah, bahwa pelaksanaan puasa mutlak itu tidak boleh dengan cara-cara yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seperti puasa wishaal (terus puasa tanpa berbuka), puasa mutih (makannya hanya yang berwarna putih), puasa pati geni (tidak makan apapun yang dimasak dengan api, juga tidak menyalakan api/sinar), puasa pendhem (mengubur diri), puasa ngrowot (hanya makan sayuran) dan lain-lain. Puasa demikian jelas tidak diperbolehkan, karena Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya, bahkan puasa-puasa tersebut diyakini berasal dari kejawen (kepercayaan Jawa) yang bersumber dari animisme, budisme dan hinduisme.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.