Skip to main content

Bagaimana Hukum Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh?

Dalam perspektif fiqih formal (hukum) niat itu menentukan sah tidaknya suatu amal ibadah. Sedang dalam perspektif fiqih moral (tasawuf) niat itu menentukan berpahala tidaknya suatu amal perbuatan. Oleh karena itu niat berpuasa merupakan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang yang berpuasa, mengingat niat merupakan rukun (soko guru) puasa, di samping menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.


Hal ini didasarkan pada hadis yang amat popular, diriwayatkan al-Bukhariy dan lain-lain dari Umar bin al-Khattab RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Innamal a’maalu binniyyaat…” (Sungguh setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya). Dan firman Allah SWT (yang maknanya): “…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai dating malam…” (al-Baqarah 187).

Dalam menentukan waktunya niat puasa Ramadan, jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa waktu niat berpuasa itu wajib dilakukan pada malam hari bulan Ramadan, mulai dari terbenam matahari sampai terbit fajar. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis shahih, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): “Barangsiapa yang tidak menginapkan niat puasanya sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR al-Khamsah dari Chafshah RA). Tetapi untuk puasa sunnah, niatnya boleh dilakukan pada pagi hari sebelum matahari tergelincir di tengah hari. Hal ini disandarkan pada makna suatu hadis shahih dari ‘Aisyah RA, bahwa suatu pagi Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Apa pagi ini ada sarapan?” Aisyah menjawab: “Tidak ada”. Maka beliau bersabda: “Kalau begitu saya berpuasa” (HR Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa-iy).

Bolehkah niat puasa Ramadan itu digabung sebulan penuh sehingga tidak harus melakukan niat setiap malam? Jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) berpendapat, bahwa niat puasa harus dilakukan setiap malam di bulan Ramadan. Sedangkan menurut fuqaha’ Malikiyah, niat puasa Ramadan boleh dilakukan tiap malam, tetapi boleh juga dilakukan untuk satu bulan sekaligus dengan tujuan berhati-hati apabila suatu malam lupa niat, maka puasanya tetap sah karena sudah niat berpuasa sebulan penuh. Hal ini didasarkan pada pemahaman, bahwa kewajiban puasa Ramadan itu sebulan penuh, sebagaimana firman Allah SWT yang menegaskan: “…karena itu barangsiapa di antara kamu yang menyaksikan datangnya bulan Ramadan, maka berpuasalah…” (al-Baqarah 185). Bulan Ramadan adalah nama suatu bulan yang walaupun terdiri dari beberapa hari tetapi tetap merupakan suatu kesatuan tunggal, yakni satu bulan, sehingga niat puasanya pun cukup satu kali di awal bulan. Seperti halnya salat dhuhur, walaupun terdiri dari empat rakaat tetapi tetap merupakan satu kesatuan salat, dengan cukup satu kali niat di awalnya. Begitu juga haji, walaupun terdiri dari beberapa rangkaian rukun dan wajib haji tetapi juga tetap merupakan satu kesatuan ibadah yang disebut haji dengan cukup satu kali niat haji di awalnya. Dengan demikian kita diperboleh mengambil tindakan ichtiyaath (hati-hati) pada malam pertama bulan Ramadan dengan melakukan niat puasa sebulan penuh. Apabila ternyata kemudian terjadi ‘udzur (berhalangan), maka harus memperbarui niat untuk hari-hari berikutnya.

Mengenai sifat dan ekspresi niat puasa, para fuqaha’ berbeda pendapat. Fuqaha’ Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah berpendapat, bahwa niat itu cukup dalam lintasan batin saja; bahkan makan atau minum di waktu sahur karena mau berpuasa, sudah dapat dianggap sebagai niat. Jadi kalaupun tidak mengucapkannya secara eksplisit, maka sudah diakui berniat dan puasanya tentu sah. Berbeda dengan jumhur fuqaha’ di atas, fuqaha’ Syafi’iyah berpendapat, bahwa walaupun boleh dalam lintasan batin, tetapi niat puasa itu harus jelas “saya besok berpuasa Ramadan karena Allah”, lebih bagus lagi jika diucapkan dengan lisan untuk memantapkannya. Oleh karena itu di kalangan umat Islam Indonesia (yang mayoritas mengaku Syafi’iyah) ada kebiasaan mengucapkan niat bersama-sama sesudah salat tarawih dan witir di bawah pimpinan seorang imam, agar terungkap niat secara jelas dan tidak terjadi kelupaan niat puasa untuk besoknya. Walaupun yang demikian ini tidak ditemukan pada zaman Nabi, tetapi hal ini merupakan kebiasaan baik yang tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi ada kaidah ushul fiqih yang menyatakan: “al-‘Aadah muchakkamah” (kebiasaan baik itu dapat menjadi pertimbangan penetapan hukum).

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.