Skip to main content

Bagaimana Hukum Mewakilkan Salat Istikharah?

Salat istikharah (mohon pilihan) adalah salat yang dilakukan seseorang untuk memohon kepada Allah SWT agar dipilihkan yang terbaik mengenai apa yang diinginkan. Hal-hal yang boleh dilakukan salat istikharah adalah sesuatu yang hukumnya tidak wajib dan/atau tidak haram, sebab sesuatu yang hukumnya wajib, mutlak harus dikerjakan dan sesuatu yang hukumnya haram, mutlak harus ditinggalkan tanpa boleh ada keraguan.


Hukum salat istikharah adalah sunnah; hal ini didasarkan pada makna hadis shahih dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian akan melakukan suatu urusan, maka hendaklah dia melaksanakan shalat dua rakaat selain shalat fardlu…” (HR al-Jamaah selain Muslim).

Apabila merasa belum yakin dengan hasil istikharah-nya, maka boleh diulang lagi sampai maksimal tujuh kali salat. Hal ini didasarkan pada makna sebuah hadis marfu’ (hadis yang disandarkan kepada Nabi SAW secara khusus, baik sanadnya bersambung ataupun tidak): “Hai Anas, apabila kamu menghendaki suatu urusan, maka lakukanlah shalat istikharah kepada Tuhanmu sebanyak tujuh kali. Kemudian perhatikanlah pilihan yang segera datang ke dalam hatimu, karena kebaikan terdapat di dalamnya” (HR Ibnus Sunniy dari Anas). Dari makna hadis ini juga dapat dipahami, bahwa pilihan sebagai petunjuk Allah SWT setelah melakukan salat istikharah adalah melalui ketetapan hati dan keyakinan yang bertambah atas sesuatu yang menjadi tujuan dilakukannya salat istikharah.

Memang ada yang mencari petunjuk hasil salat istikharah itu melalui mimpi dalam tidur sesudah dilakukannya salat istikharah. Walau pun hal ini tidak ada dasar hukumnya, tetapi hampir semua orang Islam mempercayainya, bahkan di kalangan para ulama sekali pun. Persoalannya adalah apakah mimpinya itu benar-benar merupakan petunjuk Allah atau bukan.

Mengenai mimpi itu sendiri, ada banyak hadis shahih yang diriwayatkan oleh para sahabat, antara lain sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): “Mimpi baik, dari orang yang baik, adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian” (HR al-Bukhariy, Muslim dan lain-lain dari Anas bin Malik, Abu Hurairah dan Ubadah bin as-Shamit). Ini artinya bahwa mimpi orang mukmin yang shalih itu bisa merupakan ilham yang berarti pula merupakan petunjuk dari Allah SWT. Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): “Pada akhir zaman nanti hampir semua mimpi orang mukmin tidak ada yang bohong. Mimpi mereka yang paling benar akan menjadi berita yang paling benar pula. Mimpi itu ada tiga macam: mimpi yang bagus adalah kabar gembira dari Allah, mimpi yang menggelisahkan adalah dari syetan, dan mimpi yang bercerita tentang diri sendiri. Apabila salah seorang di antara kamu mimpi buruk, maka bangun dan salatlah, dan jangan diceritakan pada siapa pun” (HR al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud dan at-Turmudziy dari Abu Hurairah). Jadi mempercayai mimpi itu diperbolehkan.

Persoalannya, mimpi yang mana dan mimpi siapa yang dapat dipercaya bahwa itu sebagai petunjuk Allah SWT dari hasil salat istikharah, mengingat adanya tiga macam mimpi tersebut. Jawabnya tentu mimpi orang mukmin yang shalih sebagaimana disebut secara eksplisit dalam hadis di atas. Karenanya banyak umat Islam yang tidak percaya diri untuk melakukan salat istikharah sendiri, lalu minta seseorang yang dikenal alim dan taat beribadah untuk meng-istikharah-kan keperluannya. Hal ini diperbolehkan, tidak menyalahi ajaran Islam, karena yang demikian itu mirip dengan seseorang yang minta didoakan oleh seorang ulama yang shalih. Rasulullah SAW saja pernah minta didoakan oleh sahabat yang mau melaksanakan ibadah umrah. Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab RA, katanya: “Saya meminta izin kepada Nabi SAW untuk melakukan umrah, lalu beliau bersabda: “Jangan engkau lupa untuk mendoakan kita, hai saudaraku” (HR. Abu Dawud dan at-Turmudziy).

Meminta bantuan orang yang diyakini lebih alim dan taat beribadah untuk melakukan istikharah, justru merupakan salah satu bentuk wasiilah (perantara) yang dibenarkan. Anas bin Malik mengatakan, bahwa ketika terjadi kemarau panjang, Umar bin al-Khaththab RA memohon hujan dengan wasiilah  Abbas bin Abdul Muthallib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, sungguh kami dahulu membuat wasiilah  dengan (doa) Nabi-Mu, kemudian Engkau turunkan hujan. Sungguh kami (sekarang) ber-wasiilah dengan (doa) paman Nabi-Mu, maka berilah kami hujan.” Anas berkata, “Lalu mereka diberi hujan” (diriwayatkan oleh al-Bukhariy).

Mengenai wasiilah, Allah SWT sendiri yang memerintahkan umat Islam untuk mencari wasiilah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT bagi tercapainya suatu tujuan. Hal ini disandarkan pada makna firman Allah SWT: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasiilah (jalan yang mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (al-Maa-idah ayat 35).

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.