Skip to main content

BAGAIMANA HUKUM MEMBATALKAN SALAT AGAR BISA BERJAMAAH?

Dalam keadaan normal, seseorang yang sedang dalam keadaan shalat tidak boleh membatalkannya, baik shalat wajib maupun shalat sunat, haram dibatalkan. Hal ini didasarkan pada ijmaa’ (kesepakatan aklamatif) para fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) dari semua generasi dan semua madzhab (baik sunniy maupun syi’iy), karena membatalkan shalat tanpa sebab yang dibenarkan syara’ (ajaran agama) itu berarti main-main dengan ibadah, bahkan seperti “mempermainkan” Allah SWT, karena sudah menghadap Allah SWT, tapi kemudian berpaling dari-Nya.

Dalam ushul fiqih, kekuatan ijmaa’ sebagai dasar istinbaath (penggalian dan penetapan) hukum itu amat kokoh, sekokoh teks al-Qur’an dan hadis mutawaatir (shahih secara aklamatif). Sebagai contoh, walaupun narkoba itu tidak ada teks-nya dalam al-Qur’an dan hadis, melainkan hanya istinbaath yang ditempuh dengan jalan qiyaas (analogi), tetapi keharamannya merupakan ijmaa’ (kesepakatan secara aklamatif) para fuqahaa’. Tidak seorang ulama pun yang menghalalkan narkoba, sebagaimana tidak seorang ulama pun yang membolehkan membatalkan shalat dalam keadaan normal. 

Tetapi jika dalam keadaan darurat, atau dengan alasan yang dibenarkan syara’, maka membatalkan shalat itu diperbolehkan, seperti: karena harus menolong orang yang terancam nyawanya, karena menyelamatkan harta, menghindarkan orang/anak dari bahaya, hangus/rusaknya masakan, membuang angina, kencing ataupun air besar karena sudah tidak mampu menahannya, dan sejenisnya. Begitu juga diperbolehkan membatalkan shalat jika salah niat, misalnya mau shalat ashar dengan niat shalat dhuhur, dan hal itu baru disadari ketika shalat sedang berlangsung, maka harus dibatalkan karena kalau pun diteruskan tetap tidak sah.

Bagaimana halnya dengan orang yang membatalkan shalat sunat agar bisa ikut shalat berjamaah? Umat Islam memang amat dianjurkan berjamaah, bahkan ada madzhab yang mewajibkannya. Namun bagi yang ketinggalan, untuk mengejar agar mendapatkan shalat berjamaah, harus tetap bersikap dan berjalan tenang, tidak boleh tergesa-gesa, rakaat kekurangannya dapat dilanjutkan sendiri. Hal ini didasarkan pada hadis shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): «Apabila kamu mendengar iqamah, maka pergilah shalat (berjamaah). Hendaklah kamu bersikap tenang dan tenteram, jangan tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati, shalatlah kamu bersama mereka; dan apa yang terlewatkan (ketinggalan),  maka sempurnakanlah» (HR al-Bukhariy, Muslim dan lain-lain).

Dari hadis tersebut dapat difahami, bahwa kalau tidak dalam keadaan sedang shalat saja, jika ketinggalan, dilarang mengejar berjamaah secara tergesa-gesa, apatah lagi dalam keadaan sedang shalat, walaupun itu shalat sunat, tentu lebih terlarang, apalagi membatalkannya jelas haram. Inilah istinbaath (penggalian dan penetapan) hukum dengan jalan qiyaas aulaawiy (analogi prioritas), yakni menganalogikan sesuatu yang kecil dengan yang lebih besar, antara yang mengejar berjamaah tidak dalam keadaan shalat dengan yang sedang shalat. 

Karena itu, mestinya umat Islam tidak boleh terlambat berjamaah, karena sudah ada tanda yang jelas berupa adzan, kemudian puji-pujian (bagi kalangan umat Islam tertentu), baru kemudian iqaamat. Jadi sebenarnya sudah cukup waktu untuk persiapan. Tetapi andai ada seseorang yang terpaksa agak terlambat dan diperkirakan tidak memungkinkan untuk shalat sunat, maka tidak perlu melakukan shalat sunat, melainkan menunggu iqaamat dengan tetap berdiri di tempat karena siapa pun yang masuk masjid makruh duduk sebelum sempat shalat.

Tetapi bila dia datang ke masjid agak telat, kemudian melakukan shalat tachiyyat masjid, dan ternyata iqaamat dikumandangkan di saat sedang shalat, maka tetaplah melanjutkan shalat sampai selesai, tidak perlu membatalkannya, baru kemudian menyusul dan bergabung dengan jamaah yang lain melaksanakan shalat wajib. Setelah imam salam, maka dia tinggal menyempurnakan sendiri shalatnya dengan melanjutkan rakaat yang tersisa.

Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.