Skip to main content

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Mengenai rukun (ketentuan pokok) bagi sahnya mandi besar, para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat dalam hal detailnya. Hal ini disebabkan perbedaan mereka dalam memahami teks-teks al-Qur’an dan hadis terkait masalah mandi besar ini. Namun secara konklusif, rukun mandi besar itu dapat diringkas sebagai berikut: niat mandi besar, menghilangkan najis dan segala sesuatu yang menghalangi meresapnya air ke kulit, dan menyiram seluruh tubuh bagian luar secara merata mulai ujung rambut kepala sampai ujung jari kaki (menurut madzhab Hanafi dan Hanbali termasuk dalamnya mulut dan hidung) dengan air mutlak, yakni air yang sifat dasarnya (warna, bau dan rasa) belum berubah.

Bagaimana jika mandi besar itu menggunakan air hangat? Perlu diketahui, bahwa penghangatan air itu bisa dengan tiga cara, yaitu dihangatkan/direbus dengan api, dihangatkan dengan energi listrik, atau dihangatkan dengan panas matahari. Para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa mandi besar atau pun wudlu menggunakan air hangat, dengan cara apapun, itu boleh dan sah. Hal ini didasarkan pada atsar (riwayat/perilaku sahabat) dari Aslam al-Quraisyiy al-’Adawiy, mantan budak Umar bin al-Khattab, bahwa ”Sungguh Umar bin al-Khattab pernah mandi dengan air hangat” (diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, menurut Ibnu Hajar sanad/sandarannya shahih). Juga diriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas mengatakan: ”Seseorang boleh mandi atau wudlu dengan air hangat” (diriwayatkan oleh Abdurrazzaq). Walaupun ini atsar sahabat, tetapi para fuqaha’ lebih menjadikannya sebagai pedoman karena sanadnya shahih, daripada hadis tetapi lemah (dla’iif).

Memang ada beberapa hadis terkait penggunaan air hangat ini, tapi semuanya dla’iif (lemah), sehingga tidak bisa dijadikan dasar istinbaath ( penggalian dan penetapan) hukum. Hadis tersebut antara lain: Diriwayatkan dari Aisyah RA: ”Rasulullah SAW masuk menemuiku, sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda: jangan lakukan itu wahai Chumaira’ karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak” (HR ad-Daruquthniy, Ibnu ’Adiy dan al-Baihaqiy). Hadis ini dla’iif karena ada perawi yang bernama Khalid bin Ismail; dia adalah perawi yang matruuk/diabaikan sebab sering membuat hadis palsu.

Ada juga hadis yang diriwayatkan dari az-Zuhriy dari Aisyah RA: ”Rasulullah SAW melarang kami berwudlu atau mandi dengan air yang dihangatkan dengan sinar matahari; dan beliau bersabda: itu mengakibatkan penyakit sopak” (HR ad-Daruquthniy, al-Baihaqiy dan ’Amr bin Muhammad). Hadis ini juga dla’iif karena ada ’Amr bin Muhammad yang hadis-hadis riwayatnya banyak yang mungkar dan palsu. 

Jalan kompromi guna memahami dalil-dalil yang tampaknya kontradiktif tersebut di atas adalah, bahwa hukum mandi besar atau wudlu dengan menggunakan air hangat itu ada dua kategori, yaitu: pertama, boleh dan sah jika proses penghangatannya dengan cara merebus atau menggunakan energi listrik, mengingat tidak adanya dalil eksplisit yang melarangnya, juga berdasar atsar shahih dari sahabat, Umar bin al-Khattan dan Ibnu Abbar di atas. Kedua, makruuh (tidak disukai) tetapi tetap sah jika proses penghangatannya dengan cara menjemur di bawah sinar matahari. Hal ini didasarkan pada dua hadis dla’iif di atas, yang secara eksplisit melarang penggunaan air yang dihangatkan dengan sinar matahari untuk berwudlu dan mandi besar. Walau pun hadis tersebut dla’iif tapi tetap dapat dijadikan dasar jika itu menyangkut laku keutamaan (fadlaa-ilul a’maal) dan bukan terkait dengan hukum halal-haram. Wallaahu a’lam

Sumber: Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.