Skip to main content

Menyikapi Anak Tinggal Kelas


Apa jadinya jika anak kita tinggal kelas? Ketika anak tidak naik kelas, biasanya orang tua dihadapkan pada pilihan apakah anak akan mengulang di tingkat yang sama, atau pindah sekolah yang bobotnya lebih ringan dan anak tetap naik kelas. Pilihan-pilihan itu bisa diambil berdasarkan penyebab anak tidak naik kelas.
Bila penyebabnya adalah gaya belajar atau anak memiliki kebutuhan khusus sehingga tidak bisa menyesuaikan diri dengan metode belajar di sekolah tersebut, mencari sekolah baru adalah jalan keluar yang baik.
Misalnya, anak dengan ADHD lebih cocok bersekolah di sekolah dengan kurikulum internasional. Di sekolah ini, anak tidak melulu duduk diam mendengarkan guru, tetapi diberi banyak kesempatan untuk membuat proyek, tugas kelompok dan studi pustaka.
Bila anak tidak naik kelas karena pergaulan di sekolah yang tidak sehat, misal ia di-bully sehingga sangat takut sekolah, anak dikucilkan oleh teman-temannya, atau guru-gurunya sangat kolot dan galak, pindah sekolah bisa menjadi pilihan.
Bagaimana bila anak tidak naik kelas karena malas atau hanya mencari perhatian orang tua? Sebaiknya ia tetap di sekolah yang lama. Dalam hal ini, orang tua harus lebih banyak memperhatikan dan mengenal anak, serta lebih banyak berinteraksi dengan guru untuk memantau perkembangan anak.
Secara umum, anak mengulang kelas itu mungkin saja terjadi. Dan, penyebabnya bisa dibagi menjadi dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari anak itu sendiri. Ia tidak mempunyai motivasi untuk belajar (malas belajar dan sekolah), stres, cemas, atau terlalu lelah (biasanya akibat terlalu banyak les atau kurang waktu bermain/refreshing!). Namun, mungkin juga ia memiliki kondisi atau kebutuhan khusus.
Lalu, ada faktor eksternal atau lingkungan, yang dibagi menjadi 2, yakni sekolah dan rumah. Bisa jadi, anak memang tidak cocok dengan metode belajar mengajar di sekolah. Beberapa anak perlu mempelajari dan menyerap informasi dengan cara melakukan/mempraktekkan sesuatu.
Padahal, di sekolah, pelajaran hanya diberikan melalui penjelasan di papan tulis, mencatat dan membaca buku dari teori. Hal ini akan membuat anak kesulitan memahami pelajaran yang diberikan. Akibatnya? Ia tidak mampu mengerjakan tugas dan soal ulangan.  Sementara itu, ada anak yang mengandalkan pendengarannya untuk menyerap informasi. Ia tidak akan mengalami kesulitan memahami pelajaran hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru.
Di rumah, ada berbagai hal yang membuat anak enggan belajar. Misalnya, orang tua sering bertengkar serta tidak kompak dan konsisten dalam mendidik anak. Lainnya adalah ia terlalu sering bermain console games dan terlalu lama menonton TV. Ada lagi faktor yang perlu mendapat perhatian, yakni tidak ada yang membimbing anak dalam belajar. Biasanya, ini terjadi karena orang tua terlalu sibuk.
Faktor internal dan eksternal ini bisa juga saling memengaruhi, seperti anak menjadi stres dan cemas, karena orang tuanya sering bertengkar. Akhirnya, ia tidak bisa berkonsentrasi saat mengerjakan PR maupun mengikuti pelajaran di sekolah.(*)

Sumber: koranpendidikan.com

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.