Skip to main content

Guru Dilarang Sakit



Idiom ‘dilarang sakit’ yang selama ini banyak melekat pada frasa ‘orang miskin’ muncul karena tingginya biaya berobat yang (bakal) harus ditanggung. Idiom itu seolah mengartikan bahwa yang berhak sakit itu hanyalah orang kaya atau orang yang bakal mampu menanggung biaya pengobatan saja. Namun idiom ‘dilarang sakit’ itu kini melebar juga pada profesi guru.

Apa pasal? Sebab guru, khususnya bagi guru yang sudah mendapatkan sertifikat profesi pendidik –sakit lebih dari atau sama dengan tiga hari dalam satu minggu- harus siap-siap tidak berhak memperoleh tunjangan profesi. Pasalnya kondisi sakit guru itu (telah) membuatnya tidak mampu memenuhi beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu. 

Apakah manusiawi apabila seorang guru sakit dan kebetulan masuk rumah sakit selama satu minggu dinyatakan gugur sebagai calon penerima tunjangan profesi? Apakah guru tidak boleh sakit? Untuk menjadi guru yang profesional apakah harus selalu sehat supaya tunjangan profesinya tetap lancar setiap triwulan? Sangat tidak masuk akal, padahal manusia itu tidak terlepas dari sakit, izin karena kepentingan sosial, kepentingan keluarga yang sifatnya urgent.

Masih bisa diterima oleh akal bila tidak hadirnya karena tanpa keterangan, tugas belajar, atau cuti di luar tanggungan negara. Wajar bila dicoret dari daftar calon penerima tunjangan profesi. Bila tidak hadir karena sakit dijadikan dasar sebagai syarat untuk menerima tunjangan profesi, jelas tidak masuk akal. Itu sangat mengada-ada supaya tunjangan profesi yang digulirkan semakin sedikit yang menerima. Kalau bisa banyak yang tidak mendapat tunjangan profesi, sehingga pemerintah menyaringnya sangat njlimet, mencari-cari cela untuk menggugurkan kesempatan seseorang untuk memperoleh tunjangan profesi.

Tiap tahun persyaratan untuk memperoleh tunjangan profesi selalu berganti aturan. Tidak cukup hanya lolos PLPG dan memiliki sertifikat pendidik, mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu, mengajar bidang studi yang sesuai dengan sertifikat pendidik dan lain sebagainya. Kini masih ditambah satu lagi persyaratan diantaranya seperti yang disebutkan di atas yaitu mengambil cuti (sakit, bersalin, alasan penting, tugas belajar, cuti di luar tanggungan negara) selama lebih dari atau sama dengan 3 hari dalam satu minggu maka tidak berhak memperoleh tunjangan profesi karena tidak dapat memenuhi beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu.

Herannya syarat ini belum pernah disosialisasi sebelumnya dan mulai kapan akan diberlakukan,sehingga para guru tahu. Banyak para guru yang resah karena merasa terjebak pada pelaksanaan ujian nasional dirumahkan selama tiga hari karena guru mapel ujian nasional tidak boleh berada di lingkungan sekolah selama pelaksanaan ujian nasional berlangsung dan kepala sekolah mengatakan, para guru yang dirumahkan tidak perlu presensi. Bila aturan itu diterapkan pada semester ini, otomatis para guru mapel UN terancam tidak mendapat tunjangan profesi.

Pencairan tunjangan profesi juga kerap karena terganjal data pada dapodik. Data yang masuk ke dapodik tidak terbaca sehingga tidak terbit SKTP nya. Yang menjadi ganjalan adalah mengenai struktur kurikulum yang dibuat berdasarkan kebutuhan sekolah masing-masing, ternyata harus sama dengan struktur kurikulum yang ada pada sistem di dapodik, sehingga tunjangan profesi guru pendidikan dasar banyak yang tidak/belum cair.(*)

Sumber: koranpendiidkan.com [500] apel pagi

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.