Skip to main content

Merencanakan keberuntungan

http://1.bp.blogspot.com
Keberuntungan kadang terjadi kepada kita, sesuatu terjadi dengan begitu baik dan tanpa kita rencanakan maka kita menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan. Keberuntungan sifatnya tidak diduga-duga dan terjadi k`rna faktor x yang tidak kita ketahui, dimana kita bisa menganggap faktor x itu adalah Allah yang maha pemurah sehingga kita diberi kemudahan dalam urusan kita.

Kita tidak belajar dalam satu ujian, dan kita yakin sekali bahwa mustahil kita bisa mengerjakan soal ujian tersebut, kita jawab soal tersebut dengan asal-asalan saja, ternyata hasil ujian kita sangat baik dan melebihi nilai rata-rata teman kita yang tergolong orang yang pandai, mungkin kita bisa bilang bahwa pada saat itu kita beruntung, Tapi apakah kita dapat memastikan bahwa kita dapat beruntung setiap saat. Bagaimana jika keberuntungan dapat direncanakan?

Sebenarnya kita dapat merencanakan keberuntungan kita, tentunya dengan persiapan yang matang dalam setiap hal yang akan kita lakukan, karena setiap hal yang kita persiapkan dengan sebaik-baiknya hasilnya juga tidak akan jauh dari baik atau dalam kata lain hasilnya adalah baik.

Misalnya kita melihat hari ini ada sedikit mendung di langit, maka sebelum berangkat ke kampus kita membawa payung untuk berjaga-jaga akan adanya hujan, dan ternyata dalam perjalanan benar-benar hujan, kita beruntung karena tadi telah membawa payung. Ternyata kita sudah merencanakan keberuntungan kita sendiri, dan itu bisa terjadi disetiap hal yang kita lakukan, dengan persiapan yang matang maka keberuntungan dapat kita rencanakan dengan sebaik-baiknya, jadi bagaimana jika mulai sore ini kita rencakanan keberuntungan kita sendiri-sendiri dengan sebaik-baiknya perencanaan agar mendapat hasil yang terbaik pula, dan jika rencana sudah dibuat dengan maksimal akan tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, maka kita serahkan kepada Allah swt maha mengetahui. (tuch)

Popular posts from this blog

Bagaimana Hukum Puasa Untuk Hajat Tertentu?

Puasa (ash-shaum) dalam Islam adalah suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

BAGAIMANA HUKUM MANDI BESAR DENGAN AIR HANGAT?

Ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam diwajibkan mandi besar (biasa disebut mandi junub atau mandi jinaabat), yaitu: keluar mani, bertemunya (masuknya meski sedikit) kemaluan pria-wanita walau tidak keluar mani, tuntasnya darah dari haid atau nifas, masuk Islamnya orang non-muslim, dan matinya muslim-muslimah kecuali mati syahid. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: ”...Dan apabila kalian junub, maka mandilah...” (al-Maa-idah 6), dan banyak hadis shahih, antara lain sabda Rasulullah SAW tentang orang Islam yang meninggal dunia: ”Mandikanlah ia dengan air dan bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain” (HR al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas), juga sabda beliau berkaitan dengan non-muslim yang masuk Islam, yakni ketika Qais bin ’Ashim menyatakan masuk Islam, maka Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy dan an-Nasaa-iy).

Hukum Badal dan Hadiah Pahala Umrah

Di antara persoalan yang sering muncul dalam perbincangan terkait dengan ibadah umrah adalah ”bolehkah seseorang mengumrahkan orang lain, atau melaksanakan ibadah umrah atas nama orang lain, yang kemudian lebih dikenal sebagai badal umrah”.